oleh

Gas Air Mata, Karya Ahli Kimia Prancis yang Pertama Kali Digunakan pada 1914

Kabar6-Gas air mata adalah istilah untuk menyebut gas kimia. Digunakan dalam rangka melumpuhkan, menyebabkan iritasi pada mata dan atau sistem pernapasan. Gas air mata bisa disimpan dalam bentuk semprotan maupun granat.

Alat ini sangat lazim digunakan oleh kepolisian dalam melawan kerusuhan dan dalam penangkapan. Bahan kimia yang sering digunakan pada gas air mata antara lain gas CS, CN, CR, dan semprotan merica gas OC.

Bagaimana sebenarnya sejarah gas air mata? Para tentara Perancis menembakkan granat berisi gas kepada prajurit Jerman di kawasan perbatasan pada Agustus 1914. Perang yang disebut sebagai ‘Battle of the Frontiers’ itu menjadi momen di mana gas air mata digunakan di berbagai belahan dunia.

Granat berisi gas tersebut, melansir nationalgeographic, merupakan hasil karya ahli kimia asal Prancis. Tujuan dibuatnya granat tersebut adalah untuk mengendalikan huru-hara, dan itu tidak berubah sampai saat ini. Dalam situs berita The Atlantic dijelaskan, granat berisi gas tersebut digunakan untuk membuat mundur barikade.

Gas tersebut menimbulkan beragam reaksi seperti sakit mata, masalah pernapasan, iritasi kulit, pendarahan, bahkan kebutaan. Granat berisi gas tersebut kemudian dikenal sebagai tear gas (gas air mata), atau lachrymator.

Bahan utama dalam gas air mata adalah halogen sintetis, cairan yang bisa ditembakkan lewat beberapa senjata seperti granat dan spray. Semenjak ditemukan, keberadaan gas air mata menjadi ‘musuh’ bagi para tentara. Hampir bisa dipastikan para tentara akan meninggalkan pimpinan dan jenderalnya saat ditembakkan gas air mata.

Amos Fries, pemimpin dari Chemical Welfare Service US Army, mengembangkan teknologi agar gas air mata bisa digunakan tak hanya di medan perang. Dia juga yang membayar pengacara dan pebisnis untuk membuat pasar komersial gas air mata dan mempublikasikannya lewat media massa.

“Lebih mudah dihadapkan dengan peluru dibanding dengan gas yang tak kasat mata,” kata Fries saat itu. Kini, gas air mata hampir selalu digunakan oleh pihak berwenang untuk meredakan demonstrasi. Semua itu dimulai usai Perang Dunia I berakhir.

Salah satu produsen gas air mata terbesar dan tertua adalah Lake Erie Chemical Company, yang didirikan oleh veteran Perang Dunia I bernama Kolonel Byron ‘Biff’ Goss.

Sejak pertama kali dibuka pada 1930-an, Lake Erie Chemical Company menjual gas air mata pada pada beberapa negara seperti Argentina, Bolivia, dan Kuba. Pada Perang Dunia II, penggunaan gas air mata berlanjut. Gas tersebut digunakan oleh Italia saat melawan Ethiophia.

Tentara Spanyol menggunakannya di Maroko, sementara Jepang menggunakan gas tersebut untuk melawan Tiongkok. Di Vietnam, tentara Amerika Serikat (AS) menembakkan gas air mata pada terowongan-terowongan Viet Cong. Sebaliknya di AS, para demonstran Vietnam juga menghadapi bertubi-tubi gas air mata.

Selama dua dekade belakangan, penjualan gas air mata bertambah pesat. Gas ini digunakan dalam demonstrasi di banyak negara, termasuk Indonesia. Selama lebih dari 100 tahun ditemukannya gas air mata, belum ada pengganti yang dinilai efektif untuk menghalau massa. ** Baca juga: Ponsel Misterius Bikin Sebuah Pesawat Terpaksa Mendarat Darurat

Padahal, Amnesty International memasukkan gas air mata sebagai bagian dari barang perdagangan internasional yang membahayakan.(ilj/bbs)

Berita Terbaru