oleh

Mengapa Swedia ‘Santai’ Hadapi Pandemi COVID-19?

Kabar6-Meskipun COVID-19 di Swedia sudah mencapai lebih dari 7.000 kasus, pemerintah memilih menerapkan pendekatan yang relatif santai, dengan memberi warganya kebebasan.

Hal ini sengaja diberikan, melansir Kompas, untuk membuktikan bahwa mereka adalah warga negara yang bertanggung jawab. Swedia mencatat ada 477 korban meninggal akibat COVID-19, 10 kali lebih banyak dari Australia. Padahal populasi Swedia sekira separuh dari Australia.

Pemerintah Swedia sendiri mengambil beberapa langkah, seperti membatasi pertemuan maksimal 50 orang dan menutup sekolah menengah serta universitas. Namun, aturan-aturan di Swedia cenderung lebih longgar dibandingkan negara-negara Eropa lainnya dan masih memberi kebebasan kepada warganya.

Departemen Perdana Menteri Swedia menerangkan, selain membatasi pertemuan publik mereka juga mendorong warga melakukan social distancing terutama di kalangan orang tua, dan melarang kunjungan ke fasilitas perawatan lansia.

“Kami ingin langkah-langkah yang bekerja dalam jangka panjang, karena pandemi ini kemungkinan akan berlanjut selama berbulan-bulan,” tegas departemen tersebut.

Swedia sejauh ini bergantung pada ‘kepatuhan sosial’ rakyatnya dalam menangani pandemi COVID-19. Media lokal melaporkan, pemerintah sedang mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih ketat.

Seorang ahli epidemiologi Institut Karolinska bernama Emma Frans mengatakan bahwa respons Swedia sangat buruk, ketika banyak negara Eropa lainnya memilih beberapa tingkat penutupan.

“Saya tidak yakin ini strategi yang tepat, tetapi akan lebih mudah untuk mempertahankannya dalam jangka panjang, dibandingkan banyak negara yang telah melakukan lockdown.”

Peter Nilson, ahli epidemiologi dan profesor di Universitas Lund turut menyuarakan kewaspadaan apabila orang-orang cenderung lengah. ** Baca juga: India Alihkan 20 Ribu Gerbong Kereta Api Jadi Rumah Sakit Saat Pandemi COVID-19

“Saya melihat hotel-hotel mengadakan acara malam hari menyajikan wine di dalam ruangan dihadiri para orang tua. Hal yang saya tidak lihat adalah perlindungan yang layak bagi populasi rentan di negara ini.”

Ditambahkan, “Itu membuat saya khawatir karena jika Anda memiliki strategi mencegah penyebaran virus dengan mencapai kekebalan kelompok, yang beberapa orang berpendapat Swedia sedang melakukannya, maka bagian yang sangat penting dari itu adalah melindungi mereka yang rentan terhadap infeksi. Jika Anda tidak melakukan itu, kematian akan cukup besar di antara populasi yang rentan. Saya sangat, sangat khawatir tentang itu,” ungkap Nilson.(ilj/bbs)

Berita Terbaru