oleh

‘Me Time’ Penting untuk Kesehatan Mental

Kabar6-Menurut sebuah studi yang dilakukan para peneliti di University of Buffalo, AS, memiliki waktu berkualitas untuk diri sendiri atau yang dikenal dengan sebutan ‘me time’, meski hanya sebentar ternyata sangat bermanfaat.

“Me time dapat mengurangi stres dan risiko depresi dan kecemasan dengan lebih cenderung melakukan aktivitas kreatif,” ungkap Dr. Julie Bowker, ketua penelitian.

Penelitian yang dilakukan pada hampir 300 responden itu, melansir Orami, menunjukkan bahwa sebagian besar mereka mengatakan privasi sangat penting. Para responden tersebut juga memaparkan bagaimana mereka menyukai kesendirian, dan bagaimana waktu itu cenderung dihabiskan.

Para responden memilih menghabiskan waktu sendiri dengan menjadi lebih kreatif ketimbang tidak melakukan me time. Banyak responden memilih sendirian karena hal itu memberikan kesempatan mereka mengerjakan kegiatan kreatif. Beberapa dari mereka juga diketahui, meski tetap melakukan sosialisasi, lebih memilih memperbanyak waktu untuk sendiri.

“Kreativitas mengurangi stres dengan membantu kita mencapai keadaan di mana otak bekerja pada efisiensi optimal. Dan otak kita melepaskan dopamin untuk memberi penghargaan kepada kita karena menciptakan dan memecahkan masalah dalam prosesnya,” papar Dr. Bowker.

Pada masanya, pengurangan stres terbukti dapat menerjemahkan kesehatan jantung yang lebih baik dan mengurangi risiko demensia. Sejauh ini, berbagai studi telah menyatakan bahwa interaksi sosial memainkan peran sentral dalam kesehatan mental dan fisik. Namun berada dalam keramaian bukanlah lingkungan yang paling kondusif bagi aktivitas kreatif.

Karena itu, tidak dapat dipungkiri, setiap orang membutuhkan istirahat dari hiruk-pikuk ruang publik. Sayang, baru sedikit penelitian yang telah mendokumentasikan manfaat kesehatan nyata dari me time.

Penelitian sebelumnya mengungkapkan, me time tidak selalu buruk bagi kesehatan mental. Namun studi terbaru ini adalah yang pertama kali mengungkapkan jika me time dapat secara aktif memperbaiki kesehatan mental dengan mendorong kreativitas.

Tapi Bowker menekankan, me time untuk kesehatan mental bukanlah terkait dengan memilih kesendirian karena takut. “Mereka mendapatkan interaksi (sosial) yang cukup sehingga ketika mereka sendirian, mereka dapat menikmati kesendirian itu,” katanya.

Memiliki waktu untuk sendiri dan sejenak terlepas dari interaksi dengan orang lain dapat membuat individu tersebut menemukan kreativitasnya. Hal ini seperti yang kita lihat pada profesi seni atau akademisi.

Secara anekdot, para psikolog telah mengamati bahwa jumlah waktu yang tepat dapat bermanfaat dalam jangka panjang, mengurangi risiko depresi dan meningkatkan empati.

Studi ini memberikan temuan ilmiah bahwa interval waktu sendiri yang disengaja memiliki manfaat yang dapat lebih dirasakan langsung untuk pemikiran dan aktivitas kreatif. ** Baca juga: 5 Diet yang Tak Hanya Turunkan Berat Badan Tapi Bantu Tingkatkan Imunitas

Meski begitu, Bowker juga mengungkapkan bahwa bukan berarti lebih menyukai untuk selalu menyendiri adalah hal terbaik. Karena terlalu sering menyendiri dapat digolongkan dalam perilaku antisosial, yang mana mungkin membawa seseorang pada hal yang lebih mengkhawatirkan.

Orangtua, guru dan psikolog perlu mewaspadai perilaku antisosial pada anak-anak karena dapat menimbulkan kerusakan dan kegagalan hubungan sosial seumur hidup.

“Orang yang pemalu dan menghindar mungkin tidak dapat menggunakan waktu kesendirian mereka dengan bahagia dan produktif. Hal ini mungkin karena mereka terganggu oleh kognisi negatif dan ketakutan mereka,” imbuh Bowker.

Yuk, sempatkan diri untuk me time.(ilj/bbs)

Berita Terbaru