oleh

Jadi Lokus Penanganan Stunting, Desa di Lebak Diminta Buat Program Inovatif

Kabar6-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak melakukan pemetaan dan analisis situasi program Stunting.

Langkah itu menindaklanjuti bimbingan teknis pelaksanaan konvergensi intervensi penurunan Stunting terintegrasi tahun 2022 yang diselenggarakan Bappeda Provinsi Banten, pada (9/3/2022) lalu.

“Dinas Kesehatan melalui puskesmas selaku salah satu garda terdepan dalam pengendalian Stunting diharapkan meningkatkan cakupan layanan program yang menunjang di dalam penurunan dan pencegahan, sehingga berdampak terhadap penurunan prevalensi Stunting pada wilayah kerjanya,” kata Sekda Lebak Budi Santoso, di Rangkasbitung, Selasa (7/6/2022).

Budi meminta desa yang menjadi lokus penanganan Stunting dapat membuat program-program yang inovatif dalam mengatasi Stunting di wilayahnya sesuai dengan kemampuan sumber daya dan keuangan yang ada.

Desa juga diminta bersinergi dengan puskesmas dan berkoordinasi dengan OPD terkait data anak yang mengalami Stunting, serta dengan dinas lainnya seperti Dinas Ketahanan Pangan, DP3AP2KB, Dinas Pendidikan, bersama dengan PKK dengan memperhatikan permasalahan utama yang dapat mempengaruhi dalam percepatan dan penurunan Stunting di desa tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Lebak Triatno Supiyono, pemerintah daerah menentukan lokasi program prioritas di lokus Stunting dan perbaikan manajemen pelayanan untuk meningkatkan akses rumah tangga 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) terhadap intervensi gizi spesifik dan sensitif.

**Baca juga: Jemaah Calon Haji Asal Lebak Dilepas Jumat Depan

“Program ini tidak akan terlaksana dengan baik tanpa kebersamaan, persatuan, dan gotong royong semua pihak, semua kegiatan yang sudah kita laksanakan harus didukung oleh data-data yang mendukung pada prevalensi dan sebarannya di seluruh desa sampai dengan tingkat kabupaten sehingga kabupaten dapat menyusun keputusan desa Lokus tahun 2023,” tutur Triatno.

Untuk diketahui, Stunting merupakan kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, yaitu mulai dari masa 1.000 hari pertama kehidupan, yang tidak hanya menyebabkan hambatan pada pertumbuhan fisik, akan tetapi mempunyai dampak yang sangat besar di masa akan datang, dengan terhambatnya perkembangan yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktifitas.(Nda)