oleh

Hasil Penelitian Temukan Asal Usul Mimpi Buruk

Kabar6-Tiap orang tentu pernah mimpi buruk, entah saat tidur malam atau bahkan siang hari. Mengapa kita bisa mengalami mimpi buruk? Para ilmuwan internasional menemukan sebuah gebrakan penting dalam penelitian tentang mimpi buruk.

Para peneliti percaya bahwa terdapat pola aktivitas otak yang berbeda ketika seseorang sedang mengalami mimpi buruk. Penelitian ini, melansir hitekno, menyelidiki di mana bagian otak yang berfungsi aktif ketika mimpi buruk terjadi. Mereka juga berusaha mengungkapkan pola aktivitas tertentu di otak ketika kita marah atau emosi di dalam mimpi.

Jika penelitian ini benar, maka kita bisa mengetahui dasar saraf yang menghasilkan konten emosional mimpi buruk. Diketahui, mimpi buruk berhubungan dengan gangguan mental dan tidur seperti kecemasan, depresi dan insomnia.

Studi ini dilakukan oleh beberapa ilmuwan lintas negara dari Universitas Turku (Finlandia), Universitas Skövde (Swedia) dan Universitas Cambridge (Inggris).

Pada penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JNeurosci, para peneliti menyelidiki hasil rekaman elektroensefalografi dari 17 orang sehat yang tidur selama dua malam di laboratorium khusus.

Setelah peserta mencapai fase REM (Rapid Eye Movement), mereka akan ditunggu sebentar dan dibangunkan oleh peneliti. Fase REM adalah fase dimana mimpi terlihat jelas. Setelah dibangunkan, peneliti meminta peserta untuk menggambarkan mimpi mereka dan menilai emosi yang dialami.

Hasilnya, mimpi buruk dan kemarahan emosional yang meledak-ledak berhubungan dengan aktivitas pola otak di Frontal Cortex. Aktivital gelombang alpha paling banyak ditemukan di bagian otak tersebut.

Sinyal saraf yang disebut FAA (Frontal Alpha Asymmetry) telah dikaitkan dengan kemarahan dan pola pengaturan diri selama peserta bangun. ** Baca juga: Seekor Gajah di Malaysia Serang Sebuah Mobil Gara-gara Klakson

“Kami menemukan bahwa individu dengan FAA lebih besar (misalnya kekuatan alpha sisi kanan lebih besar) selama fase REM, dan selama terjaga di malam hari, mengalami lebih banyak kemarahan dan mimpi buruk emosional dalam mimpi,” demikian penjelasan peneliti.

Karena penelitian ini mengungkapkan di mana mimpi buruk berasal, suatu saat nanti diharapkan kita bisa mengatur sinyal saraf itu, sehingga bisa menjadi terapi efektif bagi pasien.(ilj/bbs)

Berita Terbaru