oleh

Cerita Kecut Pemilik Warteg di Tangsel Kala Harga Kebutuhan Pokok Mahal

Kabar6-“Mangan Karo apa (makan pakai apa-rex),” tanya seorang pelayan warung Tegal (warteg). “Pakai telur sambal sama sayur dan tempe,” sahut seorang pembeli.

Suasana di atas gambaran kegiatan ekonomi di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Kenaikan harga komoditi bahan pangan khususnya telur ayam boiler sangat dirasakan oleh kalangan pengusaha Warteg.

“Saya beli telur di harga Rp 29,5 (ribu). Ya, biasanya palingan biasanya 22, 23,” kata Rudi, pemilik warteg ditemui kabar6.com di Jalan Benda Barat, Kecamatan Pamulang, Jum’at (26/8/2022).

Dua orang pembeli pergi setelah membayar usai makan. Kemudian satu orang lainnya datang masuk ke warteg. Rudi tetap serius menulis catatan bon-bon agen sembako.

Sesekali ia perhatikan karyawannya yang melayani pembeli. Pria 44 tahun itu pastikan kenaikan harga bahan modal membuat dirinya hanya bisa mengelus dada.

Rudi tak berani spekulasi menaikan harga menu paket makanan kepada para pelanggannya. Ia lebih memilih untung sedikit asalkan pelanggan bisa bertahan datang ke usaha kuliner miliknya.

“Keuntungannya juga semakin menipis. Harga sementara ditahan dulu dong. Kan baru kemarin Corona. Nanti kalau seumpamanya langsung dinaikin pelanggan pada kabur,” tegasnya sambil tersenyum kecut.

Belum lama harga cabai di pasaran dibanderol Rp 100 ribu dari biasanya hanya antara Rp 40-45 ribu per kilogram. Kemudian bawang merah sempat seharga Rp 60 ribu dari biasanya Rp 40 ribu.

Kini, lanjut Rudi, harga isi gas ukuran ukuran 3 kilogram atau gas melon Rp 22 ribu dari sebelumnya Rp 20 ribu per tabung. Tempe sebelumnya Rp 8 ribu jadi Rp 10 ribu selonjor.

Lalu komoditi tahu kuning awalnya Rp 500 sekarang Rp 1000 per potong. Rudi bilang, belum lagi dirinya harus menutupi harga sewa kontrakan bangunan warteg serta bayar upah karyawan.

“Ngontrak gak ada kata corona.Kalau secara matematika gak keuber, tiap tahun ngutang di bank (milik BUMN),” lirih Rudi.

**Baca juga: Harga Telur Pecah Rekor, Warga di Pamulang: Sudah Enggak Wajar

Keluhan senada disampaikan Teti, pemilik warteg lainnya di kawasan Pamulang. Ia satu suara dengan Rudi, berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga-harga kebutuhan pokok.

“Turunin lah harga sembako. Kasian. Kalau yang ada mungkin gak masalah, ke supermarket bawa uang selesai. Tapi yang enggak ada, apalagi pedagang, warteg banyak teriak bang,” ujar Teti.(yud)