1

Bengkak Selama 17 Tahun, Ternyata Ada Cacing Bersarang dalam Mr P Milik Pria di Swiss Ini

Kabar6-Seorang pria berusia 72 tahun di Swiss harus menjalani hari=harinya selama 17 tahun dengan kondisi Mr P bengkak parah. Akibatnya, Mr P milik pria yang tak disebutkan namanya itu terlihat ereksi sebagian sepanjang waktu, dengan bagian skrotum dan kaki kirinya membengkak.

Apa yang telah terjadi? Hasil pemeriksaan dokter, melansir thesun, menemukan bahwa pasien terinfeksi gerombolan cacing mikroskopis hidup yang menyebabkan peradangan kronis di sekitar selangkangannya. Rupanya, pria lansia itu sempat tinggal di Zimbabwe selama 20 tahun, tempat penularan infeksi yang umum terjadi, hingga akhirnya menetap di Swiss.

Para dokter di University Hospital Basel di Swiss mempublikasikan kasus ini dalam laporan New England Journal of Medicine. Tim dokter mengatakan, ketika pasien datang ke rumah sakit, tingkat peradangannya dua kali lipat dari batas normal yang menunjukkan adanya infeksi parah. Tes antibodi menunjukkan positif Wuchereria bancrofti, yaitu cacing mikroskopis berbentuk benang.

Infeksi itu disebabkan oleh gigitan nyamuk, yang memindahkan larva ke dalam aliran darah. Begitu menetas, mereka berpindah ke sistem getah bening, jaringan peredaran darah yang digunakan untuk mengalirkan cairan dan membawanya ke area lain di tubuh, termasuk skrotum. Larva tersebut kemudian berkembang menjadi dewasa, berkembang biak, dan menghasilkan jutaan keturunan.

Pasien ini diberi resep dietilkarbamazin dan albendazol dosis tunggal, dua obat anti parasit ampuh yang dapat membunuh cacing. Setelah dua bulan menyelesaikan pengobatannya, dia bebas gejala dan dampak buruk dari parasitnya.(ilj/bbs)




TikToker Asal Swiss ‘Temukan’ Seorang Anak Terjebak dalam Tong Sampah Lewat Google Maps

Kabar6-Akun TikTok bernama @thegoogleearthguy berhasil mengumpulkan 1,1 juta followers, setelah merekam layar penemuan paling aneh di Google Maps. Akun ini mengamati gunung berapi aktif hingga bebek karet raksasa yang mengapung di laut.

Tetapi, melansir Dailystar, baru-baru ini @thegoogleearthguy menjadi bingung setelah melihat kepala seorang anak menyembul dari tempat sampah hijau di Parc de Valency, Lausanne, Swiss. “Saya punya banyak pertanyaan tentang bagaimana dia sampai di sana,” demikian judul video itu. Klip itu sendiri telah mengumpulkan lebih dari 624 ribu tampilan dan hampir 2.000 komentar.

Banyak pengguna bingung melihat unggahan TikToker itu, namun bagian komentar segera dipenuhi dengan teori lucu tentang bagaimana anak itu berakhir di tempat sampah.

Tak hanya itu kejadian konyol yang terekam Google Maps. Beberapa waktu lalu, seorang wanita dari Irlandia bernama Amanda Byrne merasa sedih karena ‘diperlakukan kotor’ oleh Google Maps setelah mereka memotretnya di ‘hari malas’.

Byrne saat itu terlihat mengenakan pakaian olahraga dan hoodie. Dia tiba-tiba tersentak saat sang kakak menemukan fotonya di Street View dan mengirimkannya kepadanya.

“Ketika saya pertama kali melihat foto itu, saya tidak menyadari bahwa semuanya berasal dari Google Maps. Saya pikir saya memiliki penguntit di luar rumah yang mengambil foto saya,” kata Byrne.(ilj/bbs)




Terjual Sekira Rp688 Miliar, Berlian Biru Sangat Langka dalam Lelang di Swiss

Kabar6-Rumah lelang Christie’s di Jenewa, Swiss, berhasil menjual Bleu Royal, berlian biru yang sangat langka, dengan nilai lebih dari sekira Rp688 miliar.

Berlian Bleu Royal seberat 17,61 karat ini, melansir Apnews, adalah ‘permata biru terang mewah tanpa cacat internal terbesar’ yang pernah dijual dalam sejarah lelang, dan menjadi bagian dari koleksi pribadi selama 50 tahun. Ini adalah pertama kalinya permata berbentuk pir dan dipasang di cincin itu dijual di lelang. “Berlian ini termasuk yang paling langka yang pernah digali,” demikian pernyataan pihak Christie’s.

Disebutkan pihak Christie’s, hanya tiga berlian biru cerah dengan berat lebih dari 10 karat yang muncul untuk dijual dalam 250 tahun sejarah lelangnya, yaitu pada 2010, 2014 dan 2016.

Oppenheimer Blue 14,62 karat terjual lebih dari sekira Rp891 miliar pada 2016. “Kami sangat senang,” terang Max Fawcett, kepala perhiasan Christie’s di Jenewa.

Fawcett mengatakan bahwa itu adalah ‘perhiasan termahal yang terjual sepanjang tahun 2023’ oleh rumah lelang mana pun di seluruh dunia.(ilj/bbs)




Penelitian Ungkap Alasan Manusia Tak Pernah Deteksi Alien

Kabar6-penelitian yang dilakukan tim ilmuwan dari Laboratorium Biofisika Statistik di Ecole Polytechnique Federale de Lausanne (EPFL), Swiss, dan telah dipublikasikan dalam ‘Astronomical Journal’, mengungkap alasan mengapa manusia tidak pernah mendeteksi alien.

“Kami baru mencari selama 60 tahun,” kata Claudio Grimaldi, ahli biofisika. “Bumi bisa saja berada dalam gelembung yang kebetulan tidak memiliki gelombang radio yang dipancarkan oleh kehidupan di luar bumi.”

Tim ilmuwan, melansir Sciencealert, menjelaskan bahwa ada terlalu banyak ruang untuk dipindai dan kemungkinan tidak cukup transmisi alien yang melintasi jalur kita. Namun ilmuwan tersebut mengatakan, manusia harus tetap bersabar. Ahli biofisika mengungkapkan, pemindaian jejak komunikasi di alam semesta membutuhkan waktu, tenaga, dan uang, dan ada beberapa perdebatan mengenai apakah pencarian kecerdasan luar angkasa (SETI) layak atau tidak.

Model penelitian menerangkan, ada asumsi bahwa setidaknya ada satu sinyal elektromagnetik yang berasal dari teknologi di Bima Sakti dan bahwa Bumi telah berada dalam gelembung (atau pori spons) yang tenang selama setidaknya enam dekade.

Dikatakan jika itu masalahnya, maka secara statistik ada kurang dari 5 emisi elektromagnetik per abad di manapun di galaksi kita. Dengan kata lain, mereka sama lazimnya dengan supernova di Bima Sakti.

Dipaparkan, setidaknya 60 tahun sebelum kita mendapatkan transmisi alien. “Kami mungkin tidak beruntung karena kami menemukan cara menggunakan teleskop radio tepat saat kami melintasi sebagian ruang di mana tidak ada sinyal elektromagnetik dari peradaban lain,” kata Grimaldi.

Ditambahkan, “Bagi saya, hipotesis ini tampaknya kurang ekstrem daripada asumsi bahwa kita terus-menerus dibombardir oleh sinyal dari semua sisi tetapi, karena alasan tertentu, tidak dapat mendeteksinya.”

Kita, sebut tim ilmuwan, masih memiliki banyak ruang untuk dicakup dalam pencarian. Grimaldi menyarankan, cara terbaik untuk maju adalah penyelidikan komensal, seperti mencari sinyal dalam data yang dikumpulkan oleh teleskop yang difokuskan pada misi lain, ketimbang menggunakan teleskop khusus untuk mencari komunikasi alien.(ilj/bbs)




Makin Banyak Anak di Sekolah yang Masih Pakai Popok Dikeluhkan Para Guru di Swiss

Kabar6-Kepala Federasi Guru Swiss, Dagmar Rosler, mengatakan bahwa para guru kini menghadapi masalah tak terduga, mereka mengeluhkan semakin banyak anak di sekolah yang masih memakai popok.

“Anak-anak pergi ke sekolah sejak usia 4 tahun sekarang, jadi ya, Anda mungkin menemukan beberapa masih memakai popok,” kata Rosler. “Ketika anak usia 11 tahun datang ke sekolah dengan popok, itu adalah tren yang mengkhawatirkan.”

Namun, usia anak mulai bersekolah bukanlah alasan utama. Masalahnya, melansir Businessinsider, semakin banyak siswa yang lebih tua juga bergantung pada popok, dan bukan karena alasan kesehatan. Para ahli percaya, penting untuk membedakan alasan pemakaian popok, ‘Apakah itu gangguan psikologis perkembangan atau apakah orang yang terkena dampak tidak pernah mempelajarinya’.

“Bagaimanapun, guru harus peka terhadap topik dan bersikap bijaksana,” kata Rosler. “Dalam keadaan apa pun, anak juga tidak boleh direndahkan. Bahkan jika tidak ada masalah kesehatan, sangat penting untuk berbicara dengan orangtua untuk mengatasi masalah dan meminta pertanggungjawaban mereka.”

Psikoterapis Felix Hof juga merasa sangat penting bahwa topik tersebut dibahas dan orangtua dibuat sadar akan hal itu. Ada berbagai alasan mengapa anak usia sekolah dasar masih harus memakai popok.

“Jika bukan karena cacat fisik, perilaku tersebut dapat mengindikasikan pengabaian atau situasi keluarga yang sangat tertekan,” terang Hof.(ilj/bbs)




Di Swiss, Ditemukan Timbunan 120 Emas Batangan Tak Bertuan dalam Kereta Api

Kabar6-Seorang petugas menemukan timbunan 120 emas batangan dalam kereta api Swiss pada Oktober 2019 lalu. Kemudian, temuan itu diberikan kepada Palang Merah karena tak diketahui siapa pemiliknya.

Menurut keterangan kantor kejaksaan, melansir nst, emas-emas tadi ditemukan oleh petugas dalam perjalanan dari St Gallen ke Lucerne, dan beberapa emasnya berlabel ‘barang berharga ICRC’, diduga merujuk pada Komite Palang Merah Internasional yang berbasis di Jenewa. “Paket tersebut berisi 120 emas batangan…yang diberi label dengan logo dan nomor seri,” kata kejaksaan Lucerne.

Ditambahkan, berat total benda tersebut adalah 3,7 kilogram, namun tidak disebutkan berapa nilai emas-emas batangan tadi, tetapi harga untuk 24 karat saat ini sekira Rp914,63 juta per kilogram.

“Meskipun dilakukan penyelidikan ekstensif, pemilik emas batangan tersebut belum dapat ditentukan. Dengan demikian, baik pemilik emas maupun hubungannya dengan kemungkinan kejahatan properti tidak dapat ditentukan,” ungkap jaksa yang menutup kasus tersebut. “Karena emas berada dalam paket untuk ICRC, dapat diasumsikan pemilik yang tidak diketahui ingin menyerahkan emas tersebut kepada organisasi ini. Oleh karena itu, temuan tersebut diserahkan kepada ICRC.”

Sementara itu ICRC mengatakan, mereka belum menerima emas tersebut tetapi berniat menjualnya untuk membantu mendanai operasional di seluruh lokasi yang terkena dampak kekerasan dan konflik di dunia.

“Sumbangan yang diterima akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pembiayaan operasi ICRC di seluruh dunia, yang didedikasikan untuk melindungi dan membantu masyarakat paling rentan yang terkena dampak perang dan kekerasan,” demikian keterangan ICRC.

Lebih lanjut disebutkan, meskipun organisasi itu menghargai semua dukungan, mereka menyerukan agar sumbangan diberikan melalui cara biasa.(ilj/bbs)




Fraksi PKS DPR RI Datangi HAM PBB di Swiss Suarakan Kemerdekaan Palestina

Kabar6-Fraksi PKS DPR RI melakukan pertemuan dengan Wakil Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) Nada al Nashif di Jenewa Swiss pada Kamis (30/11/2023).

Delegasi Fraksi PKS dipimpin oleh Ketua Majelis Syura PKS Dr. Salim Segaf Aljufri dan Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini didampingi Duta Besar Achsanul Habib dari PTRI Jenewa.

Menurut Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini kehadiran Fraksi PKS di KTHAM PBB merupakan bagian dari lawatan diplomasi parlemen untuk perdamaian dan kemerdekaan Palestina yang sudah dua bulan ini digempur agresor Israel.

“Kehadiran Fraksi PKS juga bertepatan dengan Peringatan Hari Solidaritas Internasional PBB untuk Rakyat Palestina yang diperingati setiap tanggal 29 November,” katanya.

Melalui momentum tersebut, Fraksi PKS mengingatkan bahwa PBB masih berhutang janji kemerdekaan rakyat Palestina yang diserukan Majelis Umum PBB sejak tahun 1978 berdasarkan Resolusi PBB 32/40 B.

“Bahwa rakyat Palestina sampai detik ini belum mendapatkan hak-haknya, mulai hak paling dasar yaitu hak hidup yang aman dan damai, hak menentukan nasib sendiri, hingga hak kemerdekaan dan kedaulatan atas wilayahnya yang dirampas paksa oleh Israel,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Aljufri dalam sambutannya mengatakan bahwa jaminan hak asasi manusia dan keadilan adalah prioritas tertinggi dalam upaya menjaga ketertiban dan perdamaian dunia sebagaimana amanat konstitusi Indonesia, UUD 1945.

**Baca Juga: Bapenda Tangsel Sebut Realisasi Perolehan Pajak Daerah Sudah 95 Persen

“Karenanya kami sangat prihatin dan bersedih dengan berbagai konflik, perang, penindasan, diskriminasi, bahkan penjajahan yang masih terjadi di berbagai belahan dunia terutama apa yang terjadi di Gaza Palestina 2 bulan ini,” ungkapnya.

Menteri Sosial RI 2009-2014 ini berharap PBB dengan seluruh kewenangan dan otoritas yang dimiliki dapat melakukan intervensi

Pertama, untuk menghentikan kekerasan, pembunuhan, dan genosida rakyat tak berdosa di Gaza Palestina

Kedua, untuk menegakkan HAM dan keadilan rakyat Palestina dalam meraih kemerdekaannya.

Ketiga, untuk menginvestigasi Israel atas semua pelanggaran HAM, pelanggaran hukum humaniter, dan pengabaian berbagai konvensi serta resolusi PBB.

Keempat, untuk menegakkan hukum dan sanksi yang tegas atas kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel selama pendudukan tanah Palestina.

“Dunia harus menghentikan Israel atas segala bentuk aneksasi, okupasi, dan penjajahannya di wilayah Palestina. Sebaliknya, bangsa Palestina harus mendapatkan hak kemerdekaannya di tanahnya sendiri. Inilah solusi perdamaian yang harus kita wujudkan bersama,” pungkas Dr. Salim.(red)




Perjuangan Desak Made Berbuah Manis, Raih Emas Piala Dunia Panjat Tebing Sekaligus Lolos ke Olimpiade Paris 2024

Jakarta: Mimpi Desak Made Rita Kusuma Dewi untuk tampil di Olimpiade Paris 2024 akhirnya terwujud. Desak Made memastikan diri lolos ke ajang empat tahunan itu setelah meraih emas dalam Piala Dunia Panjat Tebing yang berlangsung di Bern, Swiss.

“Senang dan bersyukur akhirnya bisa tampil di Olimpiade Paris 2024,” kata Desak Made mengawali pembicaraannya saat diterima Menpora Dito Ariotedjo di Kemenpora, Jakarta, Selasa (22/8).

Desak Made menyampaikan perjuangannya untuk bisa main di level Olimpiade. Dimulai dari bergabung pelatnas pada 2020, latihan keras dan disiplin. Semuanya dilewati dengan baik, hingga akhirnya punya kesempatan untuk tampil di Piala Dunia Panjat Tebing.

Momen ini tak disia-siakan olehnya. Perjuangan wanita asal Bali tersebut berbuah manis. Desak Made mewujudkan mimpinya dengan meraih tiket Olimpiade Paris 2024. Dia berhasil mendapatkan tiket itu usai meraih emas di Piala Dunia Panjat Tebing pada Jumat (11/8).

Desak Made membawa pulang emas setelah mencatatkan waktu 6,49 detik di partai final. Dia berhasil membungkam rivalnya Emma Hunt dari Amerika Serikat yang hanya mampu menorehkan waktu 6,67 detik.

Sementara itu, peringkat ketiga diraih Alesandra Miroslaw yang berasal dari Polandia. Keberhasilan Desak Made ini merupakan kejutan yang besar. Sebab kejuaraan dunia panjat tebing wanita nomor speed ini didominasi oleh Polandia.

“Akhirnya mimpi bisa main di Olimpiade Paris ini bisa terwujud. Sangat bersyukur. Memang saat saya masuk ke pelatnas itu, saya punya mimpi. Akhirnya mimpi itu terwujud di Swiss. Semoga teman-teman saya bisa segera menyusul saat di dua kualifikasi nantinya di Jakarta dan Paris,” jelas Desak Made.

Prestasi yang dibikin Desak Made ini diapresiasi langsung oleh Menpora Dito Ariotedjo. Diharap Desak Made bisa menjaga top performanya. Sehingga nantinya bisa meraih emas di Olimpiade Paris 2024.

“Saya ucapkan selamat, Desak Made bisa lolos ke Olimpiade Paris 2024. Kemenpora tentunya pasti terus mendukung. Kita harap nanti di Olimpiade Paris bisa meraih prestasi mendapatkan medali emas,” pungkas Menpora Dito. (jef)




Akhirnya Jasad Pendaki Jerman yang Hilang 37 Tahun Lalu Ditemukan Setelah Gletser Swiss Mencair

Kabar6-Perubahan iklim yang membuat gletser Alpine mencair mengungkapkan penemuan tak terduga. Ya, jasad seorang pria asal Jerman yang hilang saat mendaki gunung Matterhorn di Swiss 37 tahun lalu akhirnya ditemukan.

Jasad pria yang tak disebutkan namanya itu ditemukan oleh pendaki saat melintasi gletser Theodul di atas Zermatt. Melansir Independent, mereka melihat sepatu bot hiking dan crampon muncul dari es, dan analisi DNA menunjukkan mayat itu adalah seorang pendaki asal Jerman yang hilang sejak 1986. Diketahui, operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran pada saat itu gagal menemukan jejaknya.

“Analisis DNA memungkinkan identifikasi seorang pendaki gunung yang hilang sejak 1986,” demikian pernyataan polisi Swiss. “Pada bulan September 1986, seorang pendaki Jerman, yang saat itu berusia 38 tahun, dilaporkan hilang setelah tidak kembali dari pendakian.”

Namun pihak kepolisian tidak memberikan perincian tentang identitas pria itu atau kondisi kematiannya. Polisi hanya merilis foto sepatu bot hiking tunggal dengan tali merah mencuat dari salju milik pendaki. ** Baca juga: Cahaya Misterius Berbentuk Bola Terlihat Terbang di Atas ‘Gunung Keramat’ Kanada

Ahli iklim Swiss dan pakar lainnya mengatakan, gletser di Swiss telah mencair dengan kecepatan yang dipercepat dalam beberapa tahun terakhir, yang mereka kaitkan sebagian dengan perubahan iklim akibat ulah manusia. Hampir setiap musim panas, es yang mencair mengungkap sesuatu, atau seseorang, yang hilang selama beberapa dekade.

Tahun lalu es yang mencair bahkan mengubah perbatasan antara Swiss dan Italia. Perbatasan awalnya ditetapkan pada pembagian drainase, titik di mana air lelehan mengalir ke satu negara atau negara lain.(ilj/bbs)




Temuan dari Zaman Besi, Fosil Wanita Berusia 2.200 Tahun dalam Pohon di Swiss

Kabar6-Penemuan fosil wanita dalam pohon bersama harta mewah miliknya di Zürich, Swiss, membuat banyak orang terpukau. Wanita yang berasal dari bangsa Celtic ini berusia 2.200 tahun, dan dikubur oleh bangsa Kelt dari Zaman Besi.

Jenazah wanita tadi mengenakan wol kulit domba yang sangat indah, selendang, dan mantel kulit domba. Melansir Smithsonianmagazine, Kantor Pembangunan Perkotaan mengungkapkan, wanita yang diperkirakan meninggal pada umur 40 tahun itu mengenakan kalung dari kaca-kaca biru dan manik-manik amber, gelang perunggu, serta rantai perunggu bertahtakan liontin. Fosil tersebut ditemukan oleh karyawan yang sedang mengerjakan proyek pembangunan di kompleks Sekolah Kern, Aussersihl Zürich.

Sebelumnya, ditemukan jasad laki-laki lain di wilayah kampus tersebut pada 1903 silam. Jasad itu memperlihatkan status sosial yang tinggi, membawa pedang, perisai, dan tombak serta berpakaian prajurit lengkap.

Mengingat fakta kedua jenazah ini terkubur sekira 200 SM, Office for Urban Development menyatakan ada kemungkinan mereka saling mengenal. Arkeolog kemudian menganalisis tulang jenazah wanita tersebut.

Hasilnya, wanita itu dibesarkan di Lembah Limmat Zürich, wilayah yang sama tempat dia dimakamkan. Sementara itu, arkeolog sebelumnya telah mengidentifikasi bukti pemukiman Celtic terdekat yang berasal dari abad pertama SM.

Para peneliti meyakini pria dan wanita itu berasal dari pemukiman kecil yang berbeda, yang belum ditemukan. Menurut Adam H. Graham, Celtic sering dihubungkan dengan Kepulauan Inggris. ** Baca juga: Gizi Buruk, Wanita Asal Kongo Meninggal dengan Janin yang Bersarang dalam Usus Selama 9 Tahun

Pada kenyataannya, suku Celtic meliputi sebagian besar Eropa, menetap di Austria, Swiss, dan negara lain di utara batas Kekaisaran Romawi.(ilj/bbs)