1

Kasus Pencurian Diselesaikan Jaksa Lewat Keadilan Restoratif

 

Kabar6-Jaksa Agung RI melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Prof. Dr. Asep Nana Mulyana menyetujui 16 dari 17 permohonan penyelesaian perkara berdasarkan mekanisme keadilan restoratif.

“Salah satu perkara yang diselesaikan melalui mekanisme keadilan restoratif yaitu terhadap tersangka Andi Saputra bin Kanidi dari Kejaksaan Negeri Ogan Komering Ulu Selatan, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian,”jelas Harli Siregar, Kapuspenkum Kejagung, Senin (8/7/2024).

Dijelaskan Harli, kronologi bermula saat tersangka Andi Saputra bin Kanidi melakukan pencurian terhadap 1 (satu) unit HP merk Vivo Y21 warna biru beserta uang tunai sebesar Rp. 5.300.000. Kejadian itu dilakukan tepatnya di Rumah Korban Bahri Bin Abdul Ra’l. **Baca Juga: Garuda Indonesia Angkut 14 5 Ton Bantuan Kemanusiaan Menuju Papua Nugini

Kemudian tersangka Raka Ardiansyah menjual 1 buah HP merk Vivo Y21 warna biru dan mengambil uang tunai sebesar Rp. 5.300.000 milik kepunyaan korban. Hal itu dilakukan karena tersangka melihat situasi rumah korban yang dalam keadaan sepi.

Menurut keterangan, beberapa hari kemudian, tersangka berhasil menjual 1 unit Handphone merk Vivo Y21 warna biru tersebut kepada Saksi Yusi Taliana Binti Likus Riyadi dengan harga Rp 450.000. Akibatnya korban mengalami kerugian yang ditaksir sebesar Rp.6.000.000.

Mengetahui kasus posisi tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri Dr. Adi Purnama,S.H.,M.H. bersama Kasi Pidum Muhammad Ariansyah Putra, S.H., M.H. serta Jaksa Fasilitator Muhamad Ariansyah Putra, S.H.,M.H, Darmilianti Permata,S.H, dan Norma Rani Kusumawardhani Zoulba, S.H. menginisiasikan penyelesaian perkara ini melalui mekanisme restorative justice.

Dalam proses perdamaian, tersangka mengakui dan menyesali perbuatannya serta meminta maaf kepada korban yang masih dalam ikatan keluarga Tersangka. Setelah itu, korban menerima permintaan maaf dari Tersangka dan juga meminta agar proses hukum yang sedang dijalani oleh Tersangka dihentikan dengan syarat pengembalian kerugian korban.

Usai tercapainya kesepakatan perdamaian, Kepala Kejaksaan Negeri Ogan Komering Ulu Selatan mengajukan permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan.

Setelah mempelajari berkas perkara tersebut, Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan sependapat untuk dilakukan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif dan mengajukan permohonan kepada Jaksa (Jampidum).

Selain itu, kata Harli Jampidum juga menyetujui 15 dari 16 perkara lain melalui mekanisme keadilan restoratif.

Menurut Harli, alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini karena telah dilaksanakan proses perdamaian dimana Tersangka telah meminta maaf dan korban sudah memberikan permohonan maaf. Tersangka belum pernah dihukum; Tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana; Ancaman pidana denda atau penjara tidak lebih dari 5 (lima) tahun.

“Tersangka berjanji tidak akan lagi mengulangi perbuatannya Proses perdamaian dilakukan secara sukarela dengan musyawarah untuk mufakat, tanpa tekanan, paksaan, dan intimidasi,”tandas Harli.

Sementara berkas perkara atas nama tersangka Rusli bin Gafar dari Kejaksaan Negeri Kutai Timur, yang disangka melanggar Pasal 378 KUHP tentang Penipuan atau Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan, tidak dikabulkan Permohonan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif.

Hal ini dikarenakan perbuatan atau tindak pidana yang telah dilakukan oleh tersangka, bertentangan dengan nilai-nilai dasar sesuai Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif.

Berikut daftar tersangka:

Tersangka Herman Caco alias Herman bin Caco Subandi (Alm) dari Kejaksaan Negeri Kutai Timur, yang disangka melanggar Pasal 44 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 KUHP tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau Pasal 80 Ayat (4) jo. Pasal 76C Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak.

Tersangka Sapanang bin Ismail dari Kejaksaan Negeri Samarinda, yang disangka melanggar Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan.

Tersangka Hasan Basri bin Harun Efendi dari Kejaksaan Negeri Ogan Komering Ulu Selatan, yang disangka melanggar Kesatu Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan atau Kedua Pasal 378 KUHP tentang Penipuan.

Tersangka Rohan bin Kasim dari Kejaksaan Negeri Empat Lawang, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

Tersangka I Dery Udzair Ally bin Juprib dan Tersangka II Anak Andra Dwi Firmansyah bin Asim dari Kejaksaan Negeri Lamongan, yang disangka melanggar Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan dan Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan jo. Pasal 55 KUHP.

Tersangka Musdiansah Putra bin Mulia dari Kejaksaan Negeri Bener Meriah, yang disangka melanggar Pasal 80 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Tersangka Khairul Mutasir bin Tgk Nasruddin (Alm) dari Kejaksaan Negeri Bener Meriah, yang disangka melanggar Pasal 378 KUHP tentang Penipuan jo. Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan.

Tersangka Fadzal bin Basri Ajalil dari Kejaksaan Negeri Bireuen, yang disangka melanggar Pasal 480 ke-1 dan ke-2 KUHP tentang Penadahan.

Tersangka Hendra bin Hanafiah dari Kejaksaan Negeri Lhokseumawe, yang disangka melanggar Pasal 76C jo. Pasal 80 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Tersangka Andika Sanjaya bin Alm Muhammad Thaib dari Kejaksaan Negeri Lhokseumawe, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

Tersangka Ridwan Maulidin bin M. Gapi dari Cabang Kejaksaan Negeri Pidie di Kotabakti, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

Tersangka Herman als. Koclak bin Aming (Alm) dari Kejaksaan Negeri Cimahi, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.

Tersangka Rudi Irmawan bin Barwan (Alm) dari Kejaksaan Negeri Kota Sukabumi, yang disangka melanggar Pasal 80 Ayat (1) Jo Pasal 76 Huruf C Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Subsidair Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

Tersangka Agus Mulyana Sudrajat bin Hidayat Sudrajat dari Kejaksaan Negeri Sumedang, yang disangka melanggar Pasal 480 ke-1 KUHP tentang Penadahan.

Tersangka Julisman, S.M bin (Alm) Rahanudin dari Kejaksaan Negeri Bengkulu, yang disangka melanggar Pasal 45 Ayat 1 jo. Pasal 5 Huruf B Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.(red)




Pencurian Mesin Air Dibebaskan Jaksa Melalui Mekanisme Restorative Justice

Kabar6-Jaksa Agung RI melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Prof. Dr. Asep Nana Mulyana memimpin ekspose dalam rangka menyetujui 15 permohonan penyelesaian perkara berdasarkan mekanisme keadilan restoratif.

Kapuspenkum Kenagung, Harli Siregar, menjelaskan salah satu perkara yang diselesaikan melalui mekanisme keadilan restoratif yaitu terhadap tersangka Syahraja Mangana Awaluddin dari Kejaksaan Negeri Asahan.

Ia disangkakan melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian. Namun saat diketahui alasan dan kronologi dari perbuatan tersangka, Jaksa Fasilitator dari Kejaksaan Negeri Asahan berupaya untuk mendamaikan tersangka dengan pihak sekolah.

**Baca Juga: Monitoring Pelantikan Pantarlih, PPK Penukal Utara – PALI Harapkan Pantarlih Bekerja Maksimal

Menurut Harli kronologi bermula saat tersangka melihat ada dua sumur galian yang berdekatan di atas sumur tersangka. Saat diamanati lebih dekat, tersangka berniat untuk mengambil kedua mesin air yang merupakan milik korban Agus Salim dan Korban Koko Syahputra Lubis untuk dibawa pulang ke rumahnya.

Lalu kedua korban menyampaikan kepada saksi Ruben Siagian (Penjual Mesin Pompa Air) bahwa mesin pompa air milik saksi Agus dan Koko telah hilang. Bahwa saksi Ruben memberikan informasi tersebut pada saksi Musa yang saat itu sedang mencari dan berniat mesin pompa air. Saksi Ruben juga menyampaikan pada saksi Musa, apabila ada yang menwarkan mesin pompa air agar mesin pompa air tersebut dibeli saja karena kemungkinan itu milik Saksi Agus dan Koko yang baru dicuri.

Pada hari berikutnya, tersangka berangkat dari rumah menuju ke rumah saksi Musa untuk menawarkan 2 (dua) unit mesin pompa air pada saksi Musa dengan harga Rp500.000. Kemudian, saksi Musa setuju membeli 1 (unit) mesin pompa air saja dengan harga Rp150.000 namun Saksi Musa meminta agar pembayarannya ditunda. Saksi Musa kemudian melihat tersangka pulang dengan membawa 1 (unit) mesin pompa air yang tidak jadi jual, lalu tersangka letakkan di belakang rumah saksi Musa.

Setelah saksi Musa menerima pompa air tersebut, saksi Musa langsung menghubungi saksi Ruben Siagian, saksi Agus, Koko dan Ruben untuk datang menemui saksi Musa divrumahnya, lalu keempat saksi bersama-sama mengecek kondisi dan ciri-ciri mesin kedua pompa air yang ditawarkan.

Diketahui ciri-ciri dan nomor mesin pompa air tersebut sesuai dengan mesin pompa air dan bon faktur milik Saksi Agus dan Saksi Koko. Lalu pada hari Minggu 25 Februari 2024 sekira pukul 10:00 WIB, perbuatan tersangka dilaporkan saksi Agus dan saksi Koko ke Polsek Bandar Pulau. Akibat dari perbuatan tersangka saksi korban Agus Salim dan saksi korban Koko Syahputra Lubis mengalami kerugian sekitar Rp2.500.000

“Mengetahui kasus posisi tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri Asahan Dedyng Wibiyanto, S.H., M.H., bersama Kasi Pidum Yosua Parlaungan Lumbantobing, S.H. serta Jaksa Fasilitator Muhammad Fadhlan Siregar, S.H. dan Sofie Eka Putri, S.H. menginisiasikan penyelesaian perkara ini melalui mekanisme restorative justice,”ujar Harli, Senin (24/6/2024).

Dalam proses perdamaian, tersangka mengakui dan menyesali perbuatannya serta meminta maaf kepada kedua korban. Selain itu, korban dan tersangka memiliki hubungan yang baik. Karena Saksi Korban Koko dulunya merupakan rekan kerja tersangka, sementara Saksi Korban Agus pernah mempekerjakan tersangka sebagai anggotanya. Korban juga meminta agar proses hukum yang sedang dijalani oleh tersangka dihentikan.

Usai tercapainya kesepakatan perdamaian, Kepala Kejaksaan Negeri Asahan mengajukan permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara. Setelah mempelajari berkas perkara tersebut, Kepala Kejaksaan Tinggi Lampung Idianto, S.H., M.H. sependapat untuk dilakukan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif dan mengajukan permohonan kepada Jampidum dan permohonan tersebut disetujui dalam ekspose Restorative Justice yang digelar pada Senin, 24 Juni 2024.

Selain itu, JAM-Pidum juga menyetujui 14 perkara lain melalui mekanisme keadilan restoratif.

Menurut Harli, alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini untuk 14 tersangka meliputi, telah dilaksanakan proses perdamaian, belum pernah dihukum dan baru pertama kali melakukan, perdamaian dilakukan secara sukarela, dan pidana denda atau penjara tidak lebih dari 5 tahun.

Berdasarkan Keadilan Restoratif sesuai Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum.

Berikut daftarnya:

Tersangka Rusnandi Pontoh alias Nandi dari Kejaksaan Negeri Kotamobagu, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan atau Pasal 335 Ayat (1) ke-1 KUHP tentang Pengancaman.

Tersangka M. Rido Irpan Wahyudi dari Kejaksaan Negeri Belawan, yang disangka melanggar Pasal 44 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Tersangka Jonggara Siahaan dari Kejaksaan Negeri Toba Samosir, yang disangka melanggar Primair Pasal 351 Ayat (2) Subsidair Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

Tersangka Ari Suhendra als. Ari Tato dari Kejaksaan Negeri Medan, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan jo. Pasal 56 KUHP.

Tersangka Joni Swar dari Kejaksaan Negeri Binjai, yang disangka melanggar Pasal 480 Ayat (1) KUHP tentang Penadahan.

Tersangka Ismail Yulianto als Mail bin Yusri, SM dari Kejaksaan Negeri Rejang Lebong, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

Tersangka Nia binti Ansir Sunaidi dari Kejaksaan Negeri Lebong, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

Tersangka Kana bin Aja (Alm) dari Kejaksaan Negeri Cimahi, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.

Tersangka Pasir Ampolu Siagian bin Iskak Siagian dari Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.

Tersangka Abdul Hadi als Hadi Bin H. Asiman (Alm) dari Kejaksaan Negeri Mempawah, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

Tersangka Ricky H. E. Bless dari Kejaksaan Negeri Sorong, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (2) KUHP tentang Penganiayaan.

Tersangka Fajar Agusti bin M. Sadri Saputra dari Kejaksaan Negeri Bintan, yang disangka melanggar Pasal 480 Ayat (1) KUHP tentang Penadahan.

Tersangka I Rangga Saputra als Apek bin Muhamad dan Tersangka II Silvi Tiara Putri binti Razali dari Kejaksaan Negeri Bintan, yang disangka melanggar Pasal 480 Ayat (1) KUHP tentang Penadahan jo. Pasal 55 KUHP.

Tersangka Sudarmin, S.Sos bin Nasaruddin dari Kejaksaan Negeri Jeneponto, yang disangka melanggar Pasal 44 Ayat (1) jo. Pasal 5 huruf a Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.(red)




Dua Jambret Residivis Ditangkap Polres Serang, Polisi Sita HP dan Motor Kejahatan

Kabar6-Residivis jambret yang sudah keluar masuk penjara sebanyak tiga kali, kembali ditangkap polisi. Pelaku MU (28), warga Kecamatan Ciomas Kabupaten Serang, Banten, ditangkap tim Resmob Polres Serang.

Dia beraksi bersama temannya, AM (18), warga Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Banten.

Dari kedua pelaku, polisi menyita handphone dan sepeda motor hasil curian mereka.

“Kedua pelaku diamankan di rumah tersangka MU yang diketahui telah tiga kali menjalani hukuman di Rutan Serang dalam kasus pencurian barang elektronik dengan modus congkel jendela rumah,” ungkap Kapolres Serang AKBP Condro Sasongko, Rabu, (12/06/2024). **Baca Juga:Diperas Seseorang Lewat Medsos Ria Ricis Lapor Polda Metro Jaya

MU ditangkap keempat kalinya, sedangkan AM baru pertama kali, karena menjambret korbannya, warga Kibin, Kabupaten Serang, Banten, pada 23 Mei 2024.

Pelaku sempat mendorong korban hingga terjatuh, kemudian merampas handphonenya.

“Korban melaporkan handphone miliknya dirampas oleh dua pelaku saat duduk di depan rumah. Sebelum melarikan diri, pelaku sempat mendorong tubuh korban hingga terjatuh,” terangnya.

Laporan itu kemudian ditindak lanjuti tim Resmob Polres Serang, kedua pelaku ditangkap saat bancakan di rumah tersangka MU.

Kedua pelaku ditangkap tanpa perlawanan, karena saat ditangkap, sedang menikmati nasi liwet yang di masak bersama-sama.

“Kedua pelaku disergap tanpa melakukan perlawanan saat memasak nasi liwet di rumah tersangka MU . Barang bukti yang diamankan didapat dari rumah tersangka,” jelas Kasatreskrim Polres Serang, AKP Andy Kurniady.(Dhi)




Pencuri Gasak 10 Kambing di Sindanglaya Lebak, Hanya Sisakan Jeroan

Kabar6.com

Kabar6-Aksi pencurian menyasar hewan ternak milik warga menjelang hari raya Idul Adha terjadi di wilayah Kabupaten Lebak

Sepuluh ekor kambing milik Sanusi warga di Kampung Babakan Cibeas, Desa Sindanglaya, Kecamatan Sobang raib dicuri maling.

Pelaku yang belum diketahui jumlahnya hanya menyisakan jeroan yang tercecer di sekitar kandang. Pemiliknya baru mengetahui hewan ternaknya dicuri pada Rabu (5/6/2024) pagi. **Baca Juga: Korban Persetubuhan Anak Dibawah Umur di Tangsel Melahirkan, Pengacara : Pelaku Belum Juga Ditahan

“Jadi 10 ekor dicuri dan hanya disisakan jeroan saja. Ada 2 ekor anak kambing yang juga disembelih pelaku tapi ditinggal di sekitar kandang,” kata Samsudin yang merupakan sepupu dari pemilik kambing.

Selain untuk kebutuhan di hari raya Idul Adha, beberapa ekor kambing yang dicuri pelaku juga untuk kebutuhan acara syukuran khitanan anak pemiliknya.

“Saya juga sedih ya, mau gimana lagi. Mana untuk kebutuhan acara khitanan anaknya. Dari 10 ekor itu, ada kambing yang ukurannya cukup besar,” tutur Samsudin.

Sementara itu, Kapolsek Sobang Iptu Rusnaka kepada wartawan mengaku, belum megetahui kejadian tersebut. Rusnaka menyebut, belum ada laporan dari warga pemilik hewan ternak soal kehilangan tersebut.

“Saya belum dapat laporannya, nanti saya tindak lanjuti dulu terkait hal tersebut,” katanya.(Nda)




Pencurian Dump Truk di Serang Babak Belur Ditangkap Warga

Kabar-Pelaku pencurian dump truk yang terprkir di Jalan Raya Serang-Petir, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten berhasil ditangkap warga.

Kasi Humas Polresta Serkota Kompol Iwan Sumantri di Serang, Rabu mengatakan pelaku SM (24) warga Desa Mekar Sari, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang itu tertangkap tangan saat melakukan pencurian mobil dump truck berplat nomor A 9278 AM.

**Baca Juga:Mahasiswa Anggap Kejati Banten Lambat Tangani Penjualan Aset Pemerintah ke Pihak Swasta

“SM babak belur diamuk massa usai kedapati mencuri dump truk yang terparkir di Jalan Raya Serang-Petir,” katanya, dilansir Antara, Jumat (10/5/2024)

Iwan menambahkan dari keterangan yang diperolehnya, kasus pencurian itu bermula saat korban Juhaedi (20) Sopir dump truck tengah beristirahat untuk membeli minum di warung Madura.

“Saat membeli minum, mobil korban diparkir di pinggir jalan dalam kondisi mesin menyala,” tambahnya.

Saat korban lengah, tanpa susah payah menghidupkan mesin kendaraan, pelaku berusaha membawa kabur mobil dump truk korban.

Melihat mobilnya dibawa kabur, korban dan rekannya segera melakukan pengejaran dan meneriaki pelaku sehingga menggundang warga yang mendengar untuk turut membantu mengejar pelaku.

“Pelaku berhasil dikejar dengan cara dihadang kendaraan milik saksi Rosid,” katanya.

Warga yang mengetahui hal itu, berdatangan dan mengamankan pelaku dan menyerahkannya ke petugas kepolisian untuk dilakukan pemeriksaan.(red)




Berlagak Jajal Emas Rp 100 Juta di Jatiuwung, Asem Kabur Diteriaki Pencuri

Kabar6-Asem, 30 tahun, tersangka kasus pencurian di toko emas dihakimi massa di Jalan Prabu Siliwangi, Kelurahan Alam Jaya, Jatiuwung, Kota Tangerang pada Senin kemarin. Modusnya berlagak membeli kalung dan gelang senilai Rp 100 juta.

“Sekira pukul 20.15 WIB pelaku datang kembali ke toko emas itu untuk melihat-lihat gelang dan kalung,” kata Kapolsek Jatiuwung, Komisaris Donni Bagus Wibisono, dikutip Kamis (9/5/2024).

Pelaku dilayani oleh karyawan toko perempuan. Lalu pelaku berkata ingin membeli gelang emas yang dilihatnya kemarin.

Tanpa curiga, karyawan toko bernama Silvy kemudian memberikan gelang emas dengan berat 50 gram berkadar 90 persen itu kepada pelaku. **Baca Juga: Wanita Tiongkok Ini Shock Setelah Tahu Dirinya Ternyata Punya Testis di Perut

Lalu dengan meyakinkan pelaku juga meminta melihat kalung emas dengan berat dan kadar yang sama, dan diberikan juga.

Donni jelaskan, bukannya melakukan transaksi, pelaku malah meminta izin untuk memfoto gelang dan kalung yang sudah ditangannya itu dan diizinkan. Namun, bukannya memfoto pelaku malah kabur dengan membawa dua emas tersebut.

“Mengetahui gelang dan kalung emasnya dibawa kabur pelaku, pemilik toko saudara Johan Wijaya langsung mengejar pelaku sambil berteriak ‘pencuri’,” jelasnya.

Korban yang dibantu warga mengejar pelaku berhasil menangkap pelaku hingga akhirnya menjadi amuk massa. Polisi yang dapat laporan langsung bergerak cepat segera mengevakuasi pelaku.

Saat dilakukan pengeledahan, pelaku menyembunyikan barang bukti emas tersebut didalam sepatu yang dipakainya. Bukan itu saja, ternyata pelaku juga membawa senjata api mainan jenis korek di dalam tas pinggang miliknya.

“Saat ini pelaku sudah diamankan di kantor Polsek Jatiuwung untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dan atas perbuatannya pelaku dijerat dengan Pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara,” tegas Donni.(yud)




Komplotan Modus Gembos Ban Diringkus, Satu Pelaku Terangkap di Serang

Kabar6- Salah satu dari empat komplotan pelaku modus gembos ban berhasil diringkus oleh jajaran Satreskrim Polres Serang Kota di wilayah Kaujon, Kota Serang, pada tanggal 29 April 2024.

Pelaku yang berhasil diamankan berinisial BS, warga Lampung, setelah aksinya diketahui oleh korban.

Menurut Kasatreskrim Polres Serang Kota, AKP Hengky Kurniawan, para pelaku komplotan ini telah membuntuti korban yang baru saja keluar dari mesin ATM di Bank BCA.

“Awalnya, para pelaku mengikuti korban yang baru saja keluar dari Bank BCA. Ketika korban lengah, pelaku menancapkan paku pada ban kendaraan korban,” jelas AKP Hengky. **Baca Juga: Pungli Rutan, KPK Periksa Advokat dan Notaris

Setelah ban kendaraan korban kempes, Saat korban lengah, pelaku berhasil mengambil tas selempang warna hitam yang berisi buku tabungan, uang tunai Rp2.500.000, dan barang-barang lain.

Korban yang menyadari kejadian tersebut langsung berusaha menangkap pelaku. Pelaku yang panik berusaha melarikan diri, namun berhasil diamankan oleh masyarakat sekitar.

“Tiga pelaku lainnya berhasil melarikan diri,” tambah AKP Hengky.

Polsek Serang yang menerima laporan dari masyarakat langsung menuju lokasi kejadian dan mengamankan pelaku berikut barang bukti.

Pelaku dijerat dengan Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan dengan ancaman pidana 5 tahun penjara.




Siang Bolong, Kurang Dua Menit Pelaku Gasak Motor Buruh Bangunan di Serpong

Kabar6-Dua orang kawanan pelaku pencurian kendaraan bermotor beraksi di Jalan Rais, Buaran, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Aksi pelaku siang hari bolong terekam kamera pengintai atau CCTV.

Hanya dalam hitungan menit pelaku membawa kabur motor Honda Beat R 2934 OE pada Rabu (13/3/2024) pukul 11.22 WIB. Kawanan curanmor mengambil motor yang sedang diparkir di depan rumah warga.

“Rumah saya lagi direnovasi, tukang lagi pada kerja ga ada yang ngeh,” kata Putri Genefi, pemilik rumah, Kamis (14/3/2024).

Menurutnya, motor yang dibawa kabur kawanan curanmor milik pekerja bangunan. Pemilik motor baru menyadari kendaraan roda dua miliknya sudah hilang.

Putri akhirnya membuka rekaman CCTV. Kaget bukan kepalang. Motor milik pekerja bangunan yang sedang merenovasi rumahnya ternyata diambil oleh kawanan penjahat.

Satu orang pelaku menungggu di atas motor. Sedangkan seorang yang bertugas sebagai eksekutor membuka kunci secara paksa dan berulang kali menyelah motor hingga kabur.

“Muka dan nopol malingnya juga jelas di CCTV,” jelas Putri. Pihak kontraktor bersama pekerja bangunan yang motornya hilang lantas ingin membuat laporan ke Mapolsek Serpong.

**Baca Juga: Tempat Relokasi Pasar Sudah Tersedia dan Layak, Pengamat Ekonomi : Tunggu Apa Lagi!

Namun, laporan itu ditolak lantaran tidak membawa buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB). Bukan tanpa alasan, Putri menyebut, BPKB berada di kampung halaman korban.

“Udah lapor ke polsek serpong tapi gak bisa diproses karena tidak ada BPKB. Sedangkan BPKB ada di kampungnya dan butuh proses kan. Maksudku tuh kenapa polisinya ga bertindak dulu keburu motornya dijual atau dia beraksi maling lagi,” jelasnya.

“Kemarin dia lapornya ditemenin kontraktor saya. Pulang-pulang gada hasil katanya belum bisa diproses karena tidak ada BPKB asli,” lanjutnya.

Putri minta agar pihak kepolisian dapat bergerak terlebih dahulu sebelum semakin banyak korban. Apalagi, setelah mengunggah pencurian itu di sosmed, banyak orang yang mengaku sebagai korban kawanan itu.

“Dan ada 2 orang yang dm aku juga katanya mereka korban motor dicuri juga oleh maling yang sama. Bedanya mereka hanya liat langsung ga ada bukti CCTV. Mau nunggu berapa korban lagi sampai ditindak polisi?,” ketusnya.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Serpong, Ipda Dovie Eudy menerangkan, penyidik telah minta pelapor melengkapi dokumen administrasi. Salah satunya adalah BPKB. Pelapor bilang ada dan siap melengkapi.

“Dan penyidik juga menyampaikan cukup difotokan saja apabila ada dikampung nanti kami bantu pelaporannya. Begitu, kami siap bantu,” ujarnya.(yud)

 




Motor Hilang Hitungan Jam di Pondok Aren, Pelaku Kembalikan Pakai Gobox

Kabar6-Sepeda motor Yamaha NMax bernopol K 3876 BEC milik warga hilang digasak pelaku pencurian kendaraan bermotor. Lokasinya di depan Hall Bulutangkis Azahra di Jalan Pesantren, Jurangmangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), pada Jumat (8/3/2024) sekitar pukul 23.30 WIB.

Hanya dalam hitungan jam, sepeda motor dikembalikan oleh pelaku curanmor. Pelaku mengembalikan motor lewat jasa pengiriman barang Gobox pada Sabtu, sekitar pukul 05.00 WIB

Kendaraan diterima oleh pengelola Azahra dan Ketua RW 03 Jurangmangu Timur untuk kemudian diserahkan kepada pemiliknya. “Korban belum melaporkan kejadian tersebut,” kata Kapolsek Pondok Aren, Komisaris Bambang Askar Sodik, Senin (11/3/2024).

Menurutnya, jasus ini sementara sedang dilakukan penyelidikan oleh Tim Opsnal Reskrim Polsek Pondok Aren. Dia menjelaskan, tindak pidana pencurian karena barang curian dikembalikan oleh pencuri, berkaitan dengan tindak pidana pencurian sebagai delik formil sekaligus sebagai delik biasa.

**Baca Juga: Liga 1 Musim Depan Bakal Jadi Liga Seluruh Indonesia

Perkara-perkara yang tergolong dalam delik biasa, lanjut Bambang, laporan polisi atas perkara tersebut tidak dapat ditarik kembali ataupun dicabut meski telah ada perdamaian dengan korban atau dalam hal ini barang curian dikembalikan.

“Dalam tindak pidana pencurian yang seperti kasus yang viral ini, bukanlah pencurian dalam keluarga melainkan pencurian biasa, sehingga tergolong sebagai delik biasa,” ucapnya.

Akibatnya, meskipun telah terjadi perdamaian antara pelaku dan korban karena barang curian yang dikembalikan, laporan polisi tidak dapat ditarik atau dicabut kembali dan proses hukum terhadap pelaku tidak dapat dihentikan kecuali apabila penyidik menyatakan tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana.

“Tetapi di sisi lain, dengan adanya barang curian yang dikembalikan, bisa saja menjadi alasan peringan hukuman pidana yang lebih lanjut, terkait alasan pemberat dan peringan hukuman,” ujarnya.(yud)




15 Tersangka Pencurian, Penadahan, Penganiayaan, dan Lalu Lintas Dibebaskan

Kabar6-Jaksa Agung RI melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAM-Pidum) Dr. Fadil Zumhana pada Kamis (14/12/2023) ini, menyetujui 15 permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif, yaitu:

  1. Tersangka CHRISTINA N.Y. Siregar dari Kejaksaan Negeri Simalungun, yang disangka melanggar Pasal 480 Ayat (1) KUHP tentang Penadahan.
  2. Tersangka Nadia Andjelita dari Kejaksaan Negeri Serdang Bedagai, yang disangka melanggar Pasal 480 ke-1 KUHP tentang Penadahan.
  3. Tersangka Roy Rogerst Rajagukguk alias Roy dari Kejaksaan Negeri Tebing Tinggi, yang disangka melanggar Pasal 363 Ayat (1) ke 3e, 4e, dan 5e KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan Jo. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak.
  4. Tersangka La Guna, SKM bin La Mbahido dari Kejaksaan Negeri Buton, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.
  5. Tersangka Ibnu Hajar Widianto bin Marli Purwanto dari Kejaksaan Negeri Kolaka, yang disangka melanggar Pasal 480 Ayat (1) KUHP tentang Penadahan.
  6. Tersangka La Ode Muhamad Ramadan alias Adan bin La Ode Ringgasa dari Kejaksaan Negeri Muna, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan,
  7. Tersangka Emmi binti Pak Nayati Ali dari Kejaksaan Negeri Jember, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.
  8. Tersangka Marten Triasbiy Antara dari Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, yang disangka melanggar Pasal 310 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
  9. Tersangka Bagoes Mahendra Putra alias Bagus bin Warsono dari Kejaksaan Negeri Sidoarjo, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.
  10. Tersangka Widianto bin Sukardi dari Kejaksaan Negeri Surabaya, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.
  11. Tersangka Wuladi Bima Amrulloh dari Kejaksaan Negeri Surabaya, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.
  12. Tersangka Abdul Latif Tri Putra bin Mat Runda dari Kejaksaan Negeri Surabaya, yang disangka melanggar Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
  13. Tersangka Alfi Sahrul Aziz bin Ridho Handoko dari Kejaksaan Negeri Kota Pasuruan, yang disangka melanggar Pasal 363 Ayat (1) ke-3 dan ke-5 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan.
  14. Tersangka Josua Septian Siboro alias Josua dari Kejaksaan Negeri Langkat, yang disangka melanggar Pasal 111 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan atau Pasal 107 Huruf d Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan atau Pasal 363 Ayat (1) KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan.
  15. Tersangka Renaldy dari Kejaksaan Negeri Asahan, yang disangka melanggar Pasal 107 Huruf d Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan atau Pasal 363 Ayat (1) ke-4 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan.

Baca Juga: Pasar Bunga Modern Kini Hadir di Babakan Tangsel

Alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan antara lain:

  • Telah dilaksanakan proses perdamaian dimana Tersangka telah meminta maaf dan korban sudah memberikan permohonan maaf;
  • Tersangka belum pernah dihukum;
  • Tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana;
  • Ancaman pidana denda atau penjara tidak lebih dari 5 (lima) tahun;
  • Tersangka berjanji tidak akan lagi mengulangi perbuatannya;
  • Proses perdamaian dilakukan secara sukarela dengan musyawarah untuk mufakat, tanpa tekanan, paksaan, dan intimidasi;
  • Tersangka dan korban setuju untuk tidak melanjutkan permasalahan ke persidangan karena tidak akan membawa manfaat yang lebih besar;
  • Pertimbangan sosiologis;
  • Masyarakat merespon positif.

Selanjutnya, JAM-Pidum memerintahkan kepada Para Kepala Kejaksaan Negeri untuk menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif sesuai Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum. (Red)