oleh

Banksasuci Peringatkan Bahaya Sampah, Ade: Jangan Ulangi Tragedi TPA Leuwi Gajah

Kabar6-Direktur Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci), Ade Yunus menerangkan ada bahaya dari longsor nya sampah Tempat pembuatan akhir (TPA) Cipeucang ke badan Sungai Cisadane, Rabu 3 Juni 2020.

Menurut Ade, bahaya itu bisa terjadi di dua musim yaitu di musim kemarau dan musim hujan.

Saat musim hujan, Ade mengatakan, infiltrasi air hujan melalui rongga pada material sampah yang tidak terpadatkan dengan baik dan melalui batas antara timbunan dan lereng batuan atau tanah dasar yang kedap air membentuk muka air (water table, red) pada batas dasar timbunan sampah dan lapisan batuan atau tanah dasar.

“Proses penjenuhan dan pembentukan muka air ini menyebabkan pelunakan lapisan bawah timbunan sehingga tidak mampu menopang berat beban timbunan di atasnya sehingga terjadi longsor,” ujarnya pada Press Release yang diterima Kabar6.com, Rabu (3/6/2020).

Oleh karena itu, Ade memaparkan, adanya sistem drainase air resapan dan air permukaan yang baik merupakan suatu keharusan pada suatu TPA untuk mencegah pembentukan muka air di dalam timbunan sampah.

Lanjutnya, timbunan sampah yang terlalu tinggi dari lapisan batuan atau tanah dasar dapat menimbulkan beban berlebih di bagian bawah timbunan sehingga dapat mengganggu kestabilan timbunan tersebut di saat musim hujan.

Kemudian saat musim kemarau, Ade menjelaskan, pembuangan sampah sistem open dumping di lokasi TPA mengakibatkan gas hasil dekomposisi seperti gas Hidrogen Sulfida (H2S), Metan (CH4), dan Amoniak (NH3) lepas ke udara, akibatnya udara sekitar TPA menjadi bau dankualitas udara ambien menurun.

Ade menjelaskan, bau seperti telur busuk yang terdapat di TPA bersumber dari H2S yang merupakan hasil samping penguraian zat organik. Persentase gas H2S yang dihasilkan dari TPA berkisar antara 0 hingga 0,2 persen.

“Hidrogen Sulfida atau Asam Sulfida merupakan suatu gas tidak berwarna, mudah terbakar, dan sangat beracun. Gas ini dapat dapat menyebabkan dampak yang buruk bagi kesehatan manusia, terutama jika terpapar melalui udara,” ungkapnya.

Dijelaskannya, gas H2S dengan cepat diserap oleh paru-paru, pada konsentrasi rendah dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan hilangnya kesadaran bahkan kematian.

Selain itu, saat musim panas apabila Gas metan di TPA tidak dikelola dengan baik, seperti kurangnya pipa-pipa gas metan, atau tidak adanya tangkapan gas metan, maka berpotensi terjadinya kebakaran bahkan ledakan.

“Ledakan keras 15 tahun lalu di TPA di Desa Leuwigajah, Bandung, yang menewaskan 143 Orang Meninggal Dunia, adalah buktinya,” tuturnya.

Kala itu, Ade menerangkan, ribuan ton kubik sampah datang bak gelombang tsunami, sampah anorganik berupa plastik, gabus, kayu, hingga sampah organik menghantam dua pemukiman yakni Kampung Cilimus dan Kampung Pojok. Dua pemukiman tersebut luluh lantak, lenyap, tertimbun sampah.

**Baca juga: Posko Cek Poin di Tangsel Ditiadakan, Apa Gantinya?.

“Ledakan yang terjadi karena gas metana (CH4) yang dihasilkan sampah organik bereaksi dengan udara. Saat ton demi ton sampah dibiarkan menggunung dan tidak mendapat paparan oksigen, metanogen muncul dan tersimpan di bawah permukaan sampah,” paparnya.

Gas metana sendiri memiliki sifat mudah terbakar, mampu meledak seperti bom, sehingga tak mengherankan jika di tempat pembuangan sampah kerap terjadi kebakaran yang tak jelas asal usulnya.

*Oleh karena itu, sekali lagi kami tegaskan untuk segera Tutup TPA Cipeucang, Selain letaknya yang melanggar juga juga memiliki potensi bencana, karena kita telah belajar dari tragedi TPA Leuwi Gajah,” tutupnya.(eka)

Berita Terbaru