Kekeliruan Soal Meja Makan

Orang Jepang yang terkenal ‘gila kerja’, punya tradisi makan lesehan atau seiza, diatas tikar yang terbuat dari jerami atau biasa disebut tatami. Posisi duduk berlutut dengan bantuan bantal tipis, sementara makanannya diletakkan di meja berkaki pendek. Alat makan yang digunakan adalah sumpit terbuat dari kayu atau bambu.

Negara-negara kawasan Eropa, cara makannya punya kemiripan dengan di Amerika, hanya ada perbedaan-perbedaan tertentu namun tidak terlalu signifikan, karena orang Eropa dan Amerika sama-sama punya tradisi menggunakan meja makan, sendok garpu atau garpu dan pisau.

Dan dalam acara-acara tertentu mereka punya aturan sendiri soal makan. Menu-menu yang sering terlihat secara umum menggunakan saus, pasta, dan kentang.

Di Padang, Sumatera Barat ada tradisi makan yang dikenal dengan bajamba, dimana pola makannya mirip seperti anjuran Rasulullah SAW. Meski gaya makan ini memang tidak bisa ditemui setiap waktu, karena hanya dilakukan pada saat ada pesta (baralek). 

Dalam tradisi bajamba, makanan diletakkan diatas piring besar atau talam dari logam, nasinya diletakkan disisi talam melingkar, lauk pauknya diletakkan di tengah.Satu talam dikelilingi empat atau enam orang.Lelaki duduk bersila (baselo) di tikar, sedang wanita duduk bersimpuh (basimpuah), dan selama makan berlangsung tidak boleh berbicara.

Pada masyarakat Sunda ada tradisi makan lesehan bersama yang disebut Botram. Bila dibanding bajamba, gaya Botram lebih bebas, agak slengean, bisa dilakukan dimana saja, di pantai, taman, sambil makan bebas berbicara bahkan bercanda, dan tentu saja menunya khas Sunda.

Rasulullah SAW saat makan tak menggunakan meja makan, tak menggunakan alat bantu seperti sendok garpu atau pisau. Sementara posisi duduk, ada keterangan yang menyebutkan, Beliau biasa duduk dengan posisi iq’a untuk makan, yakni posisi bertumpu pada kedua lutut. Sumber lain menyebut, Beliau  duduk dengan menegakkan kaki kanan dan mendu-duki kaki kiri  (HR Abu Hasan bin al-Muqri dalam kitab Syama’il ),tapi sanad hadits ini di-dha’if – kan (dianggap lemah) oleh Al-’Iraqi dalam Takhrij Ihya’ Ulumuddin, 2/6.

Dan sumber berikutnya, diriwayatkan dari Abdullah bin Busrin, “Aku memberi hadiah daging kambing kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memakannya sambil duduk berlutut. Ada seorang Arab Badui mengatakan, “ Mengapa engkau duduk dengan gaya seperti itu? Lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menjadikanku seorang hamba yang mulia dan tidak menjadikanku orang yang sombong dan suka menentang.” (HR Ibnu Majah, sanad hadits ini dinilai hasan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, 9/452).

Yang jelas Rasulullah SAW bila makan tidak duduk di meja makan, tidak bersandar, (HR Bukhari). “Jika sudah disadari bahwasanya makan sambil bersandar itu dimakruhkan atau kurang utama, maka posisi duduk yang dianjurkan ketika makan adalah dengan menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki atau dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri.” (Fathul Baari, 9/452).

Mengapa harus berepot-repot urusan makan di meja makan atau lesehan, toh makan di meja makan tidak diharamkan. Persoalannya bukan disitu bray.

Pertama, lesehan mengikuti anjuran Rasulullah SAW karena ma yusta’anu ‘alal ibadah,  segala hal yang bisa dijadikan sarana dalam ibadah, juga dinamakan ibadah. Itu artinya makanpun bisa jadi sarana ibadah. Kedua, cara-cara yang dilakukan Rasulullah terbukti baik dari sisi kesehatan dan dibenarkan secara ilmiah.

Dalam buku Yoga for Healing yang ditulis PS Venkateshwara, menjelaskan bahwa makan dengan duduk di lantai tak hanya membantu sistem pencernaan, tapi juga membantu sendi tetap lentur, fleksibel, dan ampuh mengurangi cedera serta penyakit degeneratif seperti arthritis dan osteoporosis. Ini karena lutut, pergelangan kaki, dan sendi pinggul menjadi lentur, sehingga membantu menjaga tetap fleksibel serta bebas dari penyakit. 

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Journal of Preventive Cardiology menjelaskan bahwa, orang yang duduk di lantai dan bisa bangun tanpa bantuan tangan atau alat lain, tandanya dia lebih sehat. Kalau sebaliknya, orang itu tandanya beresiko sakit, dan dalam enam tahun ke depan bisa saja ‘lewat’, berhenti makan untuk selama-lamanya, dan namanya menjadi makin panjang, karena didepannya ditambah kata almarhum.

Posisi lesehan ketika makan, seperti dilansir Health India (22/04/14), adalah posisi terbaik, karena mampu meningkatkan sekresi asam lambung, sebagai akibat dari gerakan membungkuk saat mengambil makanan di piring dan tegak saat menyuapkannya ke mulut dan itu dilakukan berulang-ulang.Karena sekresi asam lambung meningkat, makanan jadi lebih mudah dicerna.Ketika seseorang makan, tubuh cenderung lebih hangat, dan ada yang berkeringat. Nah, itu karena ketika kita makan perut membutuhkan semua energi yang bisa digunakan untuk mencerna makanan.

Makan dengan posisi lesehan juga mempengaruhi jantung, karena pola sirkulasi darah lebih mudah dipompakan jantung kembali ke lambung, berbeda bila duduk di kursi makan dengan posisi kaki jauh lebih rendah, sehingga saat makan, jantung bekerja lebih keras memompakan darah untuk kembali ke lambung.

Selain itu, posisi lesehan membantu seseorang merasa kenyang lebih cepat. Kenapa bisa terjadi, karena saraf vagus (saraf utama yang mentransmisikan sinyal dari otak ke perut) mengirimkan sinyal ke otak dengan proses yang lebih baik dan memberitahukan bahwa seseorang sudah kenyang atau belum dengan mengirimkan sinyal secara lebih efisien.Dan kata lain terhindar dari kekenyangan.(zoelfauzilubis@yahoo.co.id)