Usai Menangis Langsung Sakit Kepala, Mengapa?

kabar6.com
Ilustrasi/bbs

Kabar6-Pernahkah usai menangis Anda merasa sakit kepala? Mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut Lawrence Newman, direktur divisi sakit kepala di NYU Langone Health, Amerika Serikat, ketika sedih tubuh akan melepaskan hormon stres seperti kortisol pemicu neurotransmitter, yang membawa pesan ke otak sehingga memicu reaksi fisik, seperti tekanan di dahi atau bahkan air mata yang mengalir di wajah.

Menurut National Library of Medicine Amerika Serikat, melansir women’s health, salah satu neurotransmitter (asetilkolin) ini bertanggung jawab atas kerja air. Bahan kimia tersebut membantu menstimulasi kelenjar lakrimal, terletak di bawah sudut bawah tulang alis, yang kemudian menghasilkan air mata.

Nah, saat air mata mulai mengalir itulah hidung mulai membengkak yang menyebabkan bagian sinus tersumbat. Pada saat itu, otot-otot di kepala dan leher mulai mengencang. Jadi ketika emosional Anda tidak stabil, tubuh juga mulai merasakan hal yang sama.

Namun para ahli masih belum bisa memastikan ada kaitan antara menangis dan sakit kepal. “Tapi ada beberapa teori kuat yang mengarah pada jenis rasa sakit apa yang dialami,” kata Newman.

Kebanyakan sakit kepala karena tekanan akibat menangis. Sakit yang dirasakan di seluruh kepala, tidak mengarah menjadi mual atau munculnya kepekaan terhadap cahaya. Sakit kepala ini karena tekanan pada tubuh yang menyebabkan ketidaknyamanan.

Dikatakan Newman, “Ketika menangis, dahu, leher dan belakang kepala akan lebih kencang.” Seseorang yang menangis panjang dan keras akan memperpanjang penyempitan otot-otot ini, sehingga menyebabkan kepala terasa sangat sakit.

Durasi menangis juga bisa mempengaruhi sinus. Saluran air mata mengalir ke saluran sinus, yang menyebabkan ingus mulai mengalir ketika menangis. Penyumbatan sinus juga dapat membuat Anda merasa tekanan di pipi dan dahi.

Dalam beberapa kasus, menangis juga dapat menyebabkan migrain, terutama yang rentan mengalaminya. Orang yang cenderung migrain memiliki otak yang terlalu sensitif, yang tidak melakukan perubahan dengan baik. ** Baca juga: Makanan Atau Minuman yang Dapat Dikonsumsi Saat Keracunan

“Ada banyak pemicu yang berbeda (untuk migrain), termasuk stres (pemicu nomor satu), dan rileksasi setelah stres,” tambahnya. Ketika menangis, tubuh jelas dalam kondisi stres, sehingga mudah memicu rasa sakit yang hebat, mual dan sensitivitas cahaya serta suara. Menangis, ditegaskan Newman, dapat memicu migrain tetapi bukan berarti menjadi penyebabnya. ** Baca juga: Europixpro Door, Produk Anak Negeri Berkualitas Dunia

“Ada mitos besar bahwa migrain semua yang ada di kepala, maka jika lebih santai sedikit migrain pun hilang,” urai Newman. “Tapi saat sedang rileks pun migrain dapat menyerang, nah sebenarnya genetika adalah penyebab utamanya.” (ilj/bbs)