oleh

Unik, Tradisi Setelah Kematian dari 3 Negara

Kabar6-Saat seseorang dinyatakan meninggal dunia, pihak keluarga tentu segera menyiapkan upacara pemakaman yang melibatkan seluruh kerabat.

Tiap keluarga biasanya akan mengikuti tradisi atau tata cara pemakaman sesuai agama, adat atau kebiasaan masyarakat setempat.

Nah, beberapa suku di belahan dunia ini memperlakukan kerabat yang meninggal dunia dengan cara cukup unik. Melansir keepo.me, ini tradisi unik setelah kematian dari tiga negara yang dimaksud:

1. Famadihana, Madagaskar
Ritual ini dilakukan berselang dua sampai tujuh tahun. Suku Malagasi di Madagaskar mengeluarkan mayat atau sisa-sisa tulang belulang dari kuburan, menyemprotnya dengan anggur atau parfum kemudian mengganti kain kafan yang melapisinya.

Tidak hanya itu, mayat akan diajak berpesta, menari di tengah kerumunan sanak keluarga. Tradisi ini menjadi sangat unik karena biasanya lebih meriah dibanding pesta pernikahan.

Tradisi ini adalah bentuk penghormatan dari Suku Malagasi untuk para leluhur yang sudah memberikan kontribusi besar bagi mereka dalam menjalani kehidupan.

2. Mumifikasi, Mesir Kuno
Mumifikasi mulai digunakan di Mesir pada 2400 SM. Bangsa Mesir kuno percaya pada kehidupan abadi, selama keutuhan tubuh dilestarikan, kehidupan setelah kematian bisa dijalani.

Proses mumifikasi juga dilengkapi dengan pembangunan makam yang megah dan perbekalan untuk menjalani kehidupan akhirat. Pada awal perkembangannya, hanya Firaun yang patut mendapat perlakuan tersebut. Mumifikasi adalah proses yang panjang.

Sebelum diawetkan dengan beragam rempah dan balsam, organ dalam mayat seperti otak, jantung, hati dan ginjal akan dikeluarkan lalu disimpan dalam wadah khusus. Mayat kemudian dicuci, dibungkus dengan 35 lapis kain linen, lalu direndam dengan resin dan minyak, ini akan membuat mayat menjadi kering.

3. Bangsawan Era Victoria
Praktik memotret mayat pada masa kini bisa jadi salah satu tindakan yang mencurigakan, tapi praktik tersebut bukan hal yang asing di abad ke-19, terutama bagi para bangsawan kaya raya.

Fotografer di era Victoria cukup terampil menggunakan ilusi optik agar potret tersebut tampak dramatis, dan mayat yang menjadi objek potret terasa lebih hidup.

Misalnya menyangga mayat dengan tiang besi dan kayu, atau menggambar mata yang tertutup seolah menjadi terbuka. ** Baca juga: Body Farm, Ladang Seluas 3 Hektare Tempat Ribuan Mayat ‘Dibuang’

Unik, ya.(ilj/bbs)

Berita Terbaru