oleh

Tuai Kecaman, TV di Bolivia Siarkan Detik-detik Sakaratul Maut Pasien COVID-19

Kabar6-Siaran langsung berjudul ‘No Mentiras’ atau ‘Tak Ada Kebohongan’ yang ditayangkan salah satu televisi di Bolivia bernama PAT, menuai kecaman dari masyarakat dunia.

Bagaimana tidak, melansir ndtv, siaran langsung ini menayangkan momen detik-detik seorang pasien COVID-19 meninggal dunia. Peristiwa itu sendiri diketahui terjadi pada salah satu rumah sakit yang berada di sebelah timur Kota Santa Cruz. Dalam siaran langsung yang kontroversial itu, diperlihatkan sejumlah dokter tengah berjuang menyelamatkan nyawa seorang pasien positif COVID-19 selama 30 menit perawatan.

Meski sudah dilakukan tindakan resusitasi, pasien tersebut akhirnya meninggal dunia. Momen tersebut pun terlihat begitu memilukan sekaligus mengerikan. Para dokter yang ada dalam video tersebut pun sempat terlihat menangis karena tak berhasil menyelamatkan nyawa si pasien.

“Dia meninggal, dia meninggal,” kata dokter pada jurnalis PAT. ** Baca juga: Selama 25 Tahun, Wanita AS Ini Tidak Menyadari Punya 2 Miss V

Sementara pihak televisi PAT mengakui, mereka melakukan siaran langsung momen kematian seorang pasien COVID-19 tersebut untuk menggerakkan pemerintah agar bisa meningkatkan kualitas fasilitas kesehatan rumah sakit. Hal ini tidak lepas dari adanya anggapan lepas tangan dari pemerintah lokal pada para warga yang terinfeksi COVID-19.

Lembaga pengawas penyiaran dan Ombudsman di Bolivia pun angkat bicara. Mereka mengkritik keras tayangan tersebut karena mempertontonkan kesadisan dan hanya mencari sensasi semata.

“Tayangan itu menunjukkan pertentangan dengan perintah legal pemerintah, bisa memicu ketakutan kolektif,” kata Nadia Cruz, pejabat Ombudsman Bolivia.

Kecaman juga datang dari sesama jurnalis, salah satunya adalah Maria Trigo dari koran El Deber de Santa Cruz. Dia menilai tontonan tersebut tidak hanya mengerikan,tapi juga tidak menghormati keluarga yang ditinggalkan.

“Tidak ada rasa hormat terhadap keluarga, terhadap jenazah. Kita kehilangan banyak hal karena virus ini, termasuk empati,” ujarnya.

Diketahui, Kota Santa Cruz menjadi salah satu kawasan terdampak COVID-19 paling parah di Bolivia. Tercatat ada 21 ribu kasus dengan jumlah kematian mencapai 300 orang.

Alih-alih menarik simpati, tayangan siaran langsung tadi justru menuai kecaman.(ilj/bbs)

Berita Terbaru