oleh

Tokoh Pencak Silat di Tangsel Turun Gunung

Kabar6-Seni beladiri pencak silat sangat sulit dipisahkan dalam kultur budaya warga etnis Betawi. Tapi, kini eksistensinya justru semakin terancam punah.

Kondisi ini akhirnya membuat para tokoh dan penggiat seni bela diri pencak silat di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengambil sikap.

“Warisan budaya semakin tergerus arus modernisasi. Akhirnya kami putuskan untuk turun gunung,” kata Tomy P Edwardy, pengurus Perguruan Pencak Silat MS Jalan Enam di Babakan Pocis, Kecamatan Setu, Minggu (10/8/2014).

Diakuinya, kurangnya rasa peduli terhadap warisan budaya merupakan salah satu faktor penyebabnya. Selama ini masyarakat dan pemerintah daerah setempat cenderung cuek terhadap pencak silat tradisional.

Padahal, terang Tomy, jumlah wadah yang masih tetap eksis dan ada di sekitar Kota Tangsel sedikitnya ada 35 perguruan pencak silat tradisional. Alhasil, warisan budaya yang tersebar di tujuh wilayah kecamatan harus diselamatkan.

Ia lantas menginisiasi pertemuan yang dihadiri oleh puluhan perwakilan perguruan. Ajang ini diharapkan mampu menjadi tonggak awal untuk mempersatukan kebudayaan lokal. Tomy terobsesi, dalam waktu dekat paguyuban yang menaungi semua perguruan se-Kota Tangsel bisa terbentuk.

Sebut saja di antaranya seperti Perguruan Beksi, Perguruan Troktok, Perguruan Jingkrik, Perguruan Selendang Mayang dan Perguruan Haikun. “Kalau paguyuban sudah terbentuk, nanti akan kami buat program. Salah satunya menggelar festival pencak silat,” ujarnya.

Momentum itu nantinya bisa menjadi ajang bagi seluruh perguruan pencak silat yang ada di Kota Tangsel unjuk kebolehan secara positif. Pihaknya juga akan terus mendorong seni dan olahraga ini masuk ke kurikulum muatan lokal (mulok). **Baca juga: Satu Bulan Ini DPRD Tangsel Bakal “Menganggur”.

“Kami akan upayakan pencak silat bisa menjadi salah satu mulok di sekolah-sekolah. Sebagai salah satu kebudayaan lokal, seni bela diri pencak silat harus dilestarikan,” tambahnya.(yud)

Berita Terbaru