Ternyata Ada Waktu Tepat untuk Mengabarkan Berita Buruk

Ilustrasi/bbs

Kabar6-Berita buruk dapat memicu kesedihan. Hal ini membuat otak mengeluarkan zat kimia seperti interleukin-8 (IL-8) yang dapat memicu respons proses peradangan di seluruh tubuh. Diketahui, senyawa interleukin dapat melemahkan sistem daya tahan tubuh dan membuat tubuh mudah terserang penyakit.

Hormon stres yaitu kortisol, melansir Klikdokter, dapat mengganggu kualitas tidur, membuat kadar gula darah tidak stabil, dan meningkatkan tekanan darah sehingga makin melemahkan kondisi fisik. Fakta lainnya, kesedihan juga memengaruhi kesehatan jantung. Sebuah penelitian yang dimuat di Openheart menunjukkan bahwa mereka yang berduka karena kematian pasangan, rentan mengalami gangguan irama jantung karena adanya senyawa sitokin yang dikeluarkan saat sedang berduka.

Senyawa sitokin bersifat aritmogenik, yang artinya senyawa tersebut dapat membuat irama jantung tidak teratur. Bila dibiarkan, gangguan irama jantung dapat berakibat fatal, bahkan bisa menyebabkan serangan jantung.

Jadi, kapan sebaiknya berita buruk disampaikan kepada orang tertentu agar meminimalkan dampak negatif yang terjadi? Peneliti dari Neuroscience Institute di Princeton University, Neil Garrett, mengatakan bahwa orang umumnya bersikap optimis saat kondisi diri sedang tenang.

“Ketika orang sedang stres, optimisme akan hilang karena dia menjadi lebih waspada terhadap berita buruk. Ini menunjukkan bahwa optimisme layaknya sesuatu yang bisa naik turun, tergantung pada kondisi sekitar pada saat itu,” kata Garrett.

Lingkungan memainkan peran kunci pada seberapa optimis Anda memandang sesuatu. Faktor lain berdasarkan aspek kejiwaan juga dilihat, misalkan apakah orang tersebut sedang menderita depresi atau tidak.

“Keputusan besar yang kita buat, seperti membeli rumah, memilih pekerjaan dan mengambil perawatan medis juga bisa sangat menegangkan. Seseorang dapat menjadi sensitif saat mendengar kabar buruk, namun kita bisa membaca perkiraan dengan menanamkan optimisme dalam diri,” tambah Garrett. ** Baca juga: Pahami Tanda Tubuh Kekurangan Cairan

Jadi, dapat dikatakan bahwa waktu terbaik untuk menyampaikan berita buruk adalah saat diri Anda bersikap dan berpikir optimis. Tak lupa, sampaikan secara tenang dan mendalam, agar sang penerima berita dapat tabah dalam menerima keadaan yang sebenarnya.(ilj/bbs)