oleh

Tahu Tempe Kembali Muncul di Pasaran, Ukuran Menciut

Kabar6-Panganan merakyat tahu dan tempe kembali tersedia di pasaran setelah sempat menghilang selama tiga hari karena seluruh pengrajin mogok produksi.

Kemunculan panganan yang berbahan dasar dari kacang kedelai terpaksa harus disiasati oleh para pengrajin dan tentu dikeluhkan juga oleh masyarakat.

Meski pun harga tahu dan tempe naik mencapai 30 persen di pasaran pascakenaikan harga kedelai import sebagai bahan baku dasar makanan merakyat. Hal tersebut tidak ditempuh Tommy, pengrajin tahu di jalan H Toran, Rengas, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan.

“Kalo standarnya harga tahu tempe dinaikan 30 persen, saya ga mau ikut-ikutan,” ujar Tommy, ketika ditemui Kabar6.com, Sabtu, 28 Juli 2012.

Dia mengatakan, kebijakan untuk tidak menaikan harga tahu sesuai arahan pusat dengan penuh pertimbangan. Tommy merasa iba dengan nasib 10 orang pekerja dan 16 pedagang eceran yang menggantungkan nasib kepadanya.

Asalkan biaya produksi pembuatan tahu balik modal dan uang makan sebesar Rp 20 ribu per orang bagi seluruh terpenuhi baginya sudah cukup.

Masih menurut Tommy, saat ini harga kedelai import naik menjadi Rp 8200 per kilogram dari sebelumnya Rp 5700 per kilogram. Sementara harga tahu yang dijual ke pedagang pengecer keliling, hanya dinaikan Rp 1000 per papan yang berisi 81 potong dari sebelumnya Rp 27 ribu.

Pria asal Bandung ini menilai naik turunnya bisnis pembuatan tahu sudah menjadi hal biasa selama dirinya menekuni kurang dari 10 tahun terakhir.

Terkait setiap terjadi kenaikan harga kedelai, menurutnya yang paling terkena dampak signifikan bukan pedagang, tapi para pengrajin dan masyarakat sebagai konsumen. Sebab, tahu dan tempe bagi Tommy merupakan panganan alternatif termurah dibandingkan lauk pauk jenis lainnya.

“Kalo saya ga bikin (tahu) kasian pegawai dan pengecer, mereka juga kan butuh makan apalagi menghadapi lebaran. Belum lagi selama mogok saya tetap harus keluarin duit makan Rp 20 ribu per orang. Tapi saya yakin harga kedelai juga akan turun lagi,” kata pria bertubuh tinggi besar ini.

Sementara itu ditempat terpisah, Sugiarti, salah satu pedagang sayuran di pasar Ciputat mengeluhkan kondisi pascamogok massal para pengrajin panganan merakyat ini. Sebab, setelah tahu dan tempe sempat menghilang dari pasaran, begitu muncul sudah beda dari sebelumnya.

“Harganya ga naik mas, masih Rp 6 ribu per potong gini. Tapi ya itu, ukurannya jadi lebih kecil. Makanya pelanggan banyak yang ngedumel,” keluh Sugiarti.

Hal ini menyebabkan dirinya tak berani mengambil tempe dalam jumlah banyak dari pengrajin. “Biasanya sehari saya ambil 100 potong. Sekarang cuma ambil setengahnya. Abis takut ga abis,” paparnya.(yud)

 

Berita Terbaru