1

Tim Peneliti Temukan Jalan Raya Kuno Berusia 8.000 Tahun di Inggris

Kabar6-Tim peneliti menemukan petak tanah di pantai barat Inggris akibat pasang surut air, yang kemudian berhasil mengungkap bahwa jalan itu tak hanya dipakai oleh manusia, karena hewan pun turut melintasi rute yang dulunya berlapis lumpur ini.

Jalan raya yang dapat dilihat sepanjang garis pantai di dekat Fromby, Inggris, ini hampir tiga kilometer jauhnya. Melansir Localtoday, sisa jalan raya itu menunjukkan bagaimana ketika gletser mencair dan permukaan laut naik sekira 11.700 tahun yang lalu, membuat manusia dan hewan terpaksa melewati daratan tersebut, sehingga membentuk pusat aktivitas manusia dan hewan yang terlihat dari jejak kaki mereka.

Peneliti menyebut, jalan raya purba itu beberapa di antaranya berusia lebih dari 8.000 tahun, yang berasal dari periode Mesolitikum atau Zaman Batu Tengah (15.000 SM hingga 50 SM) hingga abad pertengahan (476 M hingga 1450 M).

Hasil ini didapat usai peneliti melakukan penanggalan radiokarbon dari benih pohon alder, birch, dan cemara yang tersebar di dalam lapisan rute kuno untuk menentukan usia jejak-jejak kaki.

Total ada selusin jejak yang terawetkan dengan baik, beberapa di antaranya bertumpuk antara jejak kaki manusia tetapi juga berbagai hewan, termasuk auroch yaitu spesies lembu yang telah punah, rusa merah, babi hutan, serigala, lynx, dan bangau.

Awalnya, jalan raya yang disebut dengan Mishmash trek ini ditemukan pada akhir 1970-an oleh seorang ahli geologi yang mengira itu adalah jejak kaki ternak. ** Baca juga: Wanita Asal Filipina Diminta Aborsi Agar Tetap Kerja Magang di Jepang

Kemudian pada 1990-an, seorang pensiunan guru melihat jejak itu dan menyadari kalau itu kuno. Sebelumnya, orang tak berpikir demikian. Sejak itu, jejak kaki terus bermunculan karena erosi garis pantai dan terawetkan di bawah pasir.

“Saat jalan itu dibuat, jalan terisi dengan pasir dan kemudian lapisan lumpur. Hal tersebut yang membuat tumpukan jejak-jejak kaki,” jelas Alison Burns, penulis utama studi dan arkeolog di The University of Manchester, Inggris. “Setelah tertumpuk empat atau lima di atas satu sama lain, lapisan paling atas terkena dampak erosi tetapi yang berada di bawahnya terpelihara dengan baik.”

Selanjutnya, ada satu jejak yang menonjol di antara yang ditemukan peneliti. Bukan hanya karena usianya yang tertua, tetapi dari jejak itu, peneliti bisa mengetahui beberapa hal.

“Itu adalah jejak manusia yang maju empat atau lima langkah, lalu berhenti. Manusia itu bertelanjang kaki dan lumpur yang telah merembes di antara setiap jejak kaki membuat kami bisa melihat semua ciri jejak kaki itu,” ungkap Burns.

Tepat di sebelahnya, ada jejak kaki bangau. Peneliti menduga, orang yang bersangkutan kemungkinan sedang mencari burung. Sementara di samping bangau, ada serangkaian jelas jejak rusa merah dewasa. “Kami mendapatkan potret masa lalu yang menakjubkan ini,” papar Burns.

Diketahui, penemuan jejak kaki bukanlah hal yang unik di wilayah tersebut. Burns mengungkapkan, ada satu situs arkeologi terdekat yang juga berisi jejak manusia berusia 900 ribu tahun.

Jejak itu tersingkap selama badai tahun 2013 di Norfolk. Tetapi, yang membuat situs Formby istimewa adalah, situs ini mengungkap bagaimana manusia dan hewan hidup bersama ribuan tahun yang lalu.

“Banyak studi yang biasanya berfokus pada jejak manusia dan bukan jejak hewan. Saya sangat tertarik untuk melihat bagaimana hewan dan manusia berbagi lingkungan yang sangat padat ini,” tambah Burns.(ilj/bbs)




Wow! Cumi-cumi Seberat Sekira 200 Kg Terdampar di Pantai Afrika Selatan

Kabar6-Seekor cumi-cumi raksasa berukuran panjang sekira 4,19 meter, ditemukan mati terdampar di pantai Afrika Selatan beberapa waktu lalu. Belum diketahui alasan mengapa hewan yang biasanya hidup dalam lautan gelap bisa terdampar di tepi pantai.

Spesimen cumi-cumi raksasa ini menjadikannya salah satu dari segelintir cumi-cumi raksasa yang pernah terdampar di tepi pantai. Penampakan ini, melansir news24, pertama kali ditemukan oleh pengunjung pantai bernama Richard Davies. Saat itu, Davies dan pengunjung pantai lain sebenarnya sudah berusaha menyeret cephalopoda ini ke dalam air.

Namun karena terlalu besar, mereka harus meninggalkan cumi-cumi raksasa mati di Teluk Britannia, Pantai Barat, Afrika Selatan. ** Baca juga: Jepang Jual Sejumlah Pulau Tak Berpenghuni dengan Harga Sangat Murah

“Itu menyedihkan karena aku bisa melihat ia sedang sekarat. Hewan ini masih memompa tinta dan aku sempat menyentuh salah satu tentakel yang kemudian menghisap tanganku. aku harus menggunakan kekuatan lebih untuk menyingkirkan tentakelnya,” kata Davies.

Cumi-cumi raksasa tersebut, Menurut Davies, mempunyai berat antara 200-300 kilogram. Seorang ahli biologi dari Museum Iziko Afrika Selatan telah mengambil spesimen ini dan mereka berencana meneliti cumi-cumi raksasa lebih lanjut.

Para ahli percaya, hewan itu berusia kurang dari dua tahun. Wayne Florence, kurator invertebrata laut di Museum Iziko mengungkapkan, ilmuwan akan membedah spesimen cumi-cumi raksasa untuk mengetahui penyebab kematiannya.(ilj/bbs)