Sopir Taksi di Tangsel: Kami Tidak Bisa Bayar Sekolah Anak

Spanduk protes taksi konvensional pada Uber dan Grab Car.(yud)

Kabar6-Makin menjamurnya moda transportasi berbasis aplikasi menulai polemik yang berujung protes para awak taksi konvensional.

Mereka mengeluhkan beroperasinya mobil pribadi yang disulap menjadi taksi Uber dan Grab Car, membuat pendapatan operator menurun.

Pantauan kabar6.com, aksi protes terlihat dari salah satu pool taksi ternama di Jalan Cilenggang 2, RT 02 RW 01 Nomor 30, Kecamatan Serpong. Dari spanduk bernada galau tertulis kalimat “Gara-gara Uber dan Grab Car Kami Tidak Bisa Bayar Sekolah Anak”.

“Setelah ada layanan taksi online penghasilan nurun,”‎ kata Isyandi Nuryadi, pengemudi Eagle Taksi nomor pintu‎ JFE 355 ditemui di kawasan perekonomian Kecamatn Serpong, Kamis (17/3/2016).

Menurutnya, sebelum layanan taksi online beroperasi penghasilan yang diperoleh biasanya Rp500 ribu. Tapi sekarang anjlok menjadi Rp300-350 ribu sehari.

Nuryadi mengaku, kondisi di atas berdampak pada  ekonomi keluarganya. Baginya sangat terasa sekali, terutama untuk menutupi biaya kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. **Baca juga: Uber dan Grab Car Dirusak Orang Tak Dikenal di Tangsel.

“Tidak bisa (menabung) sekarang karena berkurang. Makanya saya menyiasati dengan nyuruh istri bisa sehemat mungkin‎,” terangnya. **Baca juga: Pemotor Tabrak Pejalan Kaki di Serpong.

Nuryadi bersama pengemudi taksi konvensional lainnya tentu saja menyadarkan harapan kepada pemerintah. Ia ingin agar pemerintah bisa segera bertindak cepat menertibkan taksi layanan online. **Baca juga: Pembobol Sparepart Tewas Ditembak Polsek Cikupa.

“Kalau perlu harus di hapus agar tidk membuat susah para penegemudi taksi meter‎,” harapnya.(cep/yud)