oleh

Sejumlah Jurus Dinas PUPR Lebak Cegah Banjir dan Longsor

Kabar6-Kabupaten Lebak merupakan salah satu daerah di Provinsi Banten yang rawan terjadi bencana banjir dan longsor. Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), 16 kecamatan merupakan wilayah rawan banjir dan 14 kecamatan rawan terjadi longsor.

Bencana banjir dan longsor bisa terjadi karena faktor alam, akan tetapi dipercepat oleh campur tangan manusia dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam untuk memenuhi kehidupannya.

Perubahan iklim global mengakibatkan terjadi perubahan perwatakan hujan seperti intensitas hujan, tinggi hujan, pola sebaran, baik tempat maupun waktu sehingga memicu terjadinya bencana-bencana alam.

Proses alam seperti pergeseran lempeng dan gempa bumi untuk membentuk keseimbangan alam baru terjadi tidak terduga dan sulit untuk diprakirakan, dan memungkinkan peningkatan kerawanan terhadap bencana.

Aktivitas manusia yang kurang memperhatikan lingkungan telah banyak memicu dan mempercepat terjadinya bencana alam. Sebagai contoh pemotongan lereng terjal untuk pemenuhan sarana prasarana jalan dan pemukiman dapat memicu longsor, dan okupasi badan sungai mengakibatkan berkurangnya dimensi/ukuran palung sungai sehingga terjadi banjir karena sungai tak mampu menampung aliran air.

Menyadari dua bencana tersebut bisa kapan pun terjadi, Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bidang Sumber Daya Air (SDA) terus berupaya melakukan pencegahan dan meminimalisir terjadinya banjir dan longsor.

Kepala Dinas PUPR Lebak Irvan Suyatuvika, mengatakan, Bidang Sumber Daya Air memiliki beberapa program dalam pencegahan banjir dan longsor. Khusus pencegahan banjir, Irvan menyebut melalui program pengelolaan dan pengembangan sistem drainase diharapkan persentase sistem drainase perkotaan mencapai 60% dengan sumber pendanaan dari Program FMSRB.

Kabar6.com
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Lebak, Irvan Suyatuvika.(Nda)

“Program ini untuk mengurangi intensitas, dan tingkat genangan air yang diakibatkan oleh hujan lebat dengan volume tinggi, dan banjir pada lokasi tertentu. Tujuannya memperlancar proses penyaluran air dari areal pemukiman ke badan sungai, meningkatkan fungsi dan kinerja dari saluran drainase pada titik-titik lokasi yang telah teridentifikasi,” kata Irvan, Minggu (18/6/2022).

Di wilayah perkotaan, ada sejumlah titik pengerjaan penanganan drainase untuk mencegah dan mengurangi lama genangan. Di antaranya di titik drainase Makodim, BRI, depan Dinkop, dan Ranca Lentah dengan mengangkat sedimentasi yang mengendap di dalam saluran drainase yang menjadi penyebab terjadinya pendangkalan atau pengurangan kapasitas saluran air.

Tidak hanya itu, masih dalam pencegahan banjir, Dinas PUPR Lebak juga mempunyai program pengelolaan sumber daya air dengan kegiatan pengelolaan SDA dan Bangunan Pengaman Pantai pada wilayah sungai. Program ini dengan membangun embung dan penampung air lainnya.

Irvan menjelaskan, pembangunan embung merupakan upaya penanganan agar air tidak berlebihan dan tidak terkendali di daratan, mengurangi intensitas dan tingkat genangan air yang diakibatkan oleh hujan lebat dengan volume tinggi, sehingga tidak menimbulkan bencana banjir pada lokasi tertentu.

“Ini bertujuan menampung kelebihan air hujan sebagai sarana mengurangi genangan dan banjir sebelum air dibuang ke sungai sehingga bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain (Penyediaan air baku) dan memperbaiki kualitas ekosistim dan lingkungan,” terang Irvan.

Sementara upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya longsor, sambung Irvan, dengan pembangunan bangunan penguatan tebing. Langkah tersebut guna mencegah terjadinya longsoran pada daerah terjal (Curam), serta memperkuat dinding terjal yang berhimpitan dengan sungai, sehingga tidak mudah longsor.

“Kami siapkan sarana bangunan konstruksi berupa bronjong atau gabion sebagai langkah untuk penguatan lereng terjal yang teridentifikasi rawan longsor,” katanya.

**Baca juga: Asrama Haji di Banten Mulai Dibangun Tahun Ini

Irvan memastikan, Dinas PUPR Lebak, terus berkomitmen dan berupaya melalui berbagai program dalam rangka mencegah terjadinya banjir dan longsor. Tetapi, Irvan juga meminta partisipasi dan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama pemerintah dalam pencegahannya. Seperti tidak membuang sampah sembarangan hingga tidak melakukan penebangan liar.

“Salah satu upaya dalam pencegahan banjir dan longsor juga peran serta masyarakat dengan ikut menjaga lingkungan sungai dan selokan tetap bersih, dan tidak penebangan pohon secara liar yang menyebabkan hutan jadi gundul,” jelas Irvan.(Nda)