oleh

Pintu Air Jebol, Pemkot Tangerang Potong Tiga Sapi

Kabar6-Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang terus berupaya mengatasi persoalan jebolnya salah satu pintu bendungan Pintu Air Sepuluh, dimana bendungan dimaksud merupakan pengatur laju aliran air di Sungai Cisadane.

Bahkan, upaya lewat ritual menyembelih dan menanam kepala sapi yang dikemas dalam pagelaran selamatan warga sekitar pun telah ditempuh, pada Jum’at (31/7/2015) kemarin.

Ya, ritual tersebut kiranya masih dipercayai oleh masyarakat setempat, guna mendapatkan keberkahan.

Dalam ritual tersebut, sebanyak tiga ekor sapi dewasa, disembelih. Kemudian, bagian kepalanya langsung dikubur di sekitar area bangunan bendungan air peninggalan zaman belanda tersebut.

Selain itu, juga dilakukan prosesi tabur kembang tujuh rupa diatas tanah dimana kepala-kepala sapi tersebut ditanam.

Setelah itu, daging sapi dibagikan kepada warga sekitar, pada Sabtu (1/8/2015) oleh para petugas Pintu air 10, selepas melakukan syukuran dan do’a bersama.

“Iya ada pemotongan sapi oleh pihak Pemkot Tangerang, katanya sih supaya berkah. Mungkin kepercayaan masyarakat sini,” ungkap Rano Maridansah, salah seorang petugas jaga Pintu Air Sepuluh, Kota Tangerang, kepada awak media, Minggu (2/8/2015).

Rano yang telah bertugas menjaga area itu selama 8 tahun ini, mengakui ritual pemotongan kepala sapi tersebut, merupakan kali pertama dilakukan.

“Kalau slametan sih kita biasa melakukan, biasa sehari sebelum perbaikan. Tujuannya, agar kami semua diberikan keselamatan dalam bertugas. Tapi untuk potong kepala sapi, selama saya tugas disini kayanya baru sekali,” tukasnya.

Masyarakat setempat, cerita Rano, masih mempercayai adanya mitos mistis disekitar kawasan bangunan, dengan usia kisaran ratusan tahun ini.

“Mungkin mereka percaya adanya penunggu yang mendiami bendungan yang dibangun dari zaman belanda ini. Mungkin mereka masih percaya juga kalau jebolnya pintu air 10 berkaitan dengan penunggunya,” kata Rano menduga. **Baca juga: Rano Sebut Stop Block Bendungan Pintu Air Sepuluh Rusak.

Terpisah, Kabag Humas Pemkot Tangerang, Yudi Iskandar membenarkan terkait pelaksanaan pagelaran ritual tersebut. Namun, kata dia, tujuannya tak lebih hanya sebagai upaya pengiring do’a, ditengah upaya teknis yang hingga kini masih terus dilakukan.

“Iya, tentunya bangunan itu kan memiliki nilai sejarah, yang juga harus kita jaga melalui adat dan budaya masyarakat sekitar. Namun, tujuan utamanya adalah melakukan do’a serta ihtiar, agar dapat secepatnya persoalan ini teratasi,” pungkasnya.(ges)

 

Berita Terbaru