oleh

Penyebab Banjir di Rangkasbitung Versi DPUPR: Berkurangnya Daerah Resapan Air hingga Penyempitan Drainase

Kabar6-Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lebak telah mengkaji penyebab banjir yang kerap merendam wilayah Kota Rangkasbitung setelah diguyur hujan lebat.

Sekretaris Dinas PUPR Lebak Irvan Suyatupika mengatakan, masalah banjir di Rangkasbitung telah dikaji oleh masing-masing bidang guna mengetahui penyebabnya. Hasil resume akan disampaikan untuk dibahas dengan pemerintah daerah.

“Resumenya dibuat, jadi bidang Tata Ruang, bidang Bina Marga, dan bidang Sumber Daya Air, masing-masing punya sudut pandang mengenai permasalahan banjir itu,” kata Irvan kepada Kabar6.com, Selasa (21/9/2021).

Dari sudut pandang Tata Ruang, banjir di Rangkasbitung akibat berkurangnya daerah resapan air karena berubahnya tata guna lahan. Hal tersebut dampak dari banyaknya bangunan yang berdiri.

**Baca juga: Fakta-fakta Banjir di Lebak yang Kerugiannya Diperkirakan Hampir Rp5 Miliar

Sementara menurut bidang Bina Marga, ketidakmampuan penampang basah saluran yang tidak mampu menampung debit air yang masuk ke saluran jalan. Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya sampah di saluran hingga mengakibatkan sedimentasi.

Kemudian di beberapa titik drainase permukiman terpantau oleh bidang Sumber Daya Air mengalami sumbatan penyempitan. Kondisi tersebut menghambat pembuangan ke arah sungai.

“Jadi kami sarankan agar perumahan membuat kolam retensi untuk tampungan air yang keluar dari saluran perumahan, dan disarankan jalan di perumahan mampu menyerap air konstruksi paving block,” ujar Irvan.

Sementara, terkait saluran jalan pembersihan sedimentasi saluran dan membuat saluran dan gorong-gorong baru di beberapa titik, merevitalisasi drainase yang ada dengan membersihkan sedimentasi dan melebarkan drainase yang ada.

“Beberapa titik terdapat drainase yang di atasnya berdiri bangunan,” ungkap Irvan.

**Baca juga: BPBD Lebak Minta Analisa BNPB soal Banjir di Rangkasbitung

Dalam jangka pendek, Dinas PUPR Lebak akan membersihkan sedimentasi saluran air. Sementara merevitalisasi drainase menjadi penanganan yang juga akan dilakukan untuk jangka panjang.

“Jangka panjangnya itu, revitalisasi drainase dan pembuatan saluran baru dan gorong-gorong serta pembuatan kolam retensi di sentral,” kata Irvan.(Nda)

Berita Terbaru