oleh

Peneliti AS Temukan Cara Baru Ular untuk Dekati Mangsanya, Memanjat Seperti Tali Laso

Kabar6-Para ilmuwan menemukan cara baru bagi ular untuk mendekati mangsanya, yaitu dengan memanjat seperti tali laso. Diketahui, lasso atau tali laso adalah sejenis tali panjang yang dibuat simpul tertentu, disebut simpul laso.

Umumnya tali laso digunakan untuk menangkap atau menjerat hewan ternak yang keluar dari kawanannya. Dalam kisah-kisah film, biasanya keahlian bermain tali laso adalah ciri khas para koboi untuk menangkap sapi dan kuda.

Hal ini ditemukan secara tidak sengaja oleh peneliti dari Colorado State University dan University of Cincinnati, saat bekerja pada konservasi burung jalak Mikronesia, spesies burung hutan asli yang terancam punah oleh predator ular invasif di Guam, Filipina.

Sebagai bagian dari studi baru, melansir Huffpost, para peneliti telah memasang silinder logam tinggi yang dikenal sebagai baffle di pulau itu, untuk mencegah ular dan predator lain seperti rakun memanjat ke sangkar burung. Tapi ular pohon cokelat menemukan jalan keluar dari penghalang itu.

“Awalnya, penyekat itu berhasil, untuk sebagian besar,” kata Thomas Seibert dari CSU, salah satu penulis studi tersebut. ** Baca juga: Polisi AS Masih Memburu Komplotan Pencuri Sebuah Pesawat di Bandara Kota Cottonwood

Seibert dan rekannya telah menonton sekira empat jam video. “Dan kemudian tiba-tiba, kami melihat ular ini membentuk apa yang tampak seperti tali laso di sekitar silinder dan menggoyangkan tubuhnya.”

Ditambahkan, “Kami menonton bagian video itu sekira 15 kali. Itu sangat mengejutkan. Tidak ada yang pernah saya lihat sebanding dengan itu.”

Ular pohon cokelat sendiri berasal dari Australia, Papua Nugini, dan Indonesia bagian timur, serta beberapa pulau Pasifik. Ular itu secara tidak sengaja dibawa ke Guam pada akhir 1940-an atau awal 1950-an.

Reptil tersebut telah menghancurkan populasi burung hutan di pulau itu, dan menyebabkan kerusakan dan pemadaman listrik. Penemuan baru ini dikatakan memiliki implikasi penting untuk bidang konservasi alam.

“Memahami apa yang dapat dan tidak dapat dipanjat oleh ular pohon cokelat memiliki implikasi langsung untuk merancang penghalang guna mengurangi penyebaran dan beberapa efek merusak dari spesies yang sangat invasif ini,” terang Bruce Jayne dari Universitas Cincinnati, yang membantu menulis laporan tersebut.

Jayne meneruskan, “Mengingat ular pohon cokelat dapat menggubah tubuhnya menjadi tali laso untuk mengalahkan tiang atau silinder dengan ukuran tertentu, kami dapat merancang penyekat untuk lebih melindungi rumah burung yang digunakan untuk memulihkan beberapa burung Guam.”

Sebelumnya, ular diketahui memiliki empat mode gerakan yang berbeda yaitu bujursangkar, undulasi lateral, belok ke samping, dan konsentina.

Mode baru ini berbeda dari mode concerto yang biasanya digunakan ular untuk memanjat cabang dan pipa. Ular pohon cokelat menggunakan lingkaran seperti tali laso untuk mencengkeram, menggunakan sedikit tikungan di dalam lingkaran untuk maju perlahan ke atas.

Namun cara mendaki ular ini tampaknya menutuhkan ‘perjuangan keras’. Peneliti mengamati, ular bergerak cukup lambat, sering terpeleset, berhenti untuk beristirahat dan bernapas berat saat memanjat dengan cara ini.(ilj/bbs)

Berita Terbaru