oleh

Pasien Pria di AS Dapat Kompensasi Rp6,6 Miliar Setelah Dokter ‘Ngerumpi’ Perihal Dirinya Saat Operasi

Kabar6-Seorang pasien pria di Virginia, Amerika Serikat (AS), mendapat kompensasi sekira Rp6,6 miliar atas gugatan yang dilayangkan kepada tim medis rumah sakit tempatnya menjalani operasi.

Rupanya, pasien itu mendengar rekaman tim medis rumah selama operasi berlangsung. Dalam audio tersebut, melansir Time, terdengar dokter berbicara buruk tentang dirinya yang saat itu dalam kondisi tak sadarkan diri selama proses operasi. Diketahui, pasien yang tak diungkap identitasnya tadi memang merekam interaksinya dengan dokter sebelum menjalani operasi kolonoskopi. Hal tersebut dilakukan agar dapat mengingat kembali segala nasihat/saran yang disampaikan dokter.

Ketika memutar kembali rekaman tersebut, ternyata alatnya tak hanya merekam instruksi dokter, tapi juga keseluruhan proses operasi. Keruan saja pasien itu menjadi geram mendengar beberapa orang mengoloknya dalam perbincangan yang terjadi saat operasi.

Percakapan terjadi antara ahli gastroenterologi, Soloman Shah, dan dokter anestesi, Tiffany Ingham, yang disaksikan oleh para asisten medis. ** Baca juga: Ibu Tewas Dibakar Sang Ayah, Kakak Beradik di India Tulis Surat Gunakan Darah Demi Tuntut Keadilan

Saat pasien tak sadarkan diri, Dr Ingham mengatakan, “Setelah lima menit berbincang denganmu sebelum operasi, saya ingin memukul wajahmu agar kamu berani dan menjadi layaknya laki-laki sedikit.”

Setelah itu, asisten memberi tahu bahwa di tangan pasien terdapat ruam. Dr Ingham pun kembali berkata, “(Asisten saya kemungkinan menemukan) sifilis di lenganmu. Itu mungkin tuberkolosis di penis, jadi kamu akan baik-baik saja.”

Setelah mendengar rekaman tersebut, pria itu menuntut kedua dokter tersebut atas tuduhan fitnah dan malapraktik. Ia juga menuntut ganti rugi sebesar US$1,75 juta. Usai sidang selama tiga hari, pengadilan memutuskan bahwa pasien akan mendapatkan dana kompensasi senilai US$500 ribu.

Shah dinyatakan tak bersalah walaupun dalam rekaman tersebut ia terdengar berkomentar mengenai ebola ketika membicarakan ruam di tangan pasien tersebut. Ia pun tidak menghentikan Dr Ingham ketika membicarakan hal buruk mengenai pasiennya.

Seorang pengacara ahli hukum fitnah, Lee Berlik, mengatakan bahwa sebenarnya perbincangan semacam ini merupakan hak istimewa dokter. Namun, pasien mengklaim bahwa ada beberapa orang lain yang menyaksikan perbincangan tersebut di ruang operasi, yaitu asisten medis.(ilj/bbs)