oleh

Partisipasi Rendah, Warga Tangsel Perlu Dicekoki Pendidikan Politik

Kabar6-Partisipasi pemilih selalu menjadi momok dalam kontestasi Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel). Sejarah mencatat angka persentase keterlibatan warga sekitar yang rela datangi bilik suara untuk menggunakan hak pilih selalu relatif rendah.

“Kalaupun Pilkada 2020 ini meningkat 3 persen menjadi 60,8 persen, itu juga masih posisi rendah,” kata pengamat politik asal Universitas Paramadina Jakarta, Ahmad Khoirul Umam kepada kabar6.com, Rabu (23/12/2020).

Ia menyebutkan, saat Pilkada Tangsel 2010 dan 2015 silam angka partisipasi pemilih hanya mencapai 57 persen. Peningkatan angka yang terjadi dari perhelatan serupa tahun ini juga dianggapnya tidak terlalu signifikan

Khoirul Umam bilang, karena rata-rata partisipasi nasional umumnya menyentuh angka 75 persen. Pada masa akhir kampanye kemarin Direktur Eksekutif Romeo Strategic Research and Consulting ini mengumbar hasil survei yang menyasar warga pemilih yang tersebar di tujuh kecamatan sebagai responden.

Simulasi pertanyaan dalam survei ingin mengamati gambaran potret sikap politik warga sekitar. Hasil survei itupun tidak jauh meleset dengan realitas politik di Pilkada Tangsel 2020.

Khoirul Umam sarankan, pemerintah daerah bersama para pihak pemangku kepentingan perlu melakukan evaluasi secara komprehensif. “Perlu dilakukan pendidikan politik,” sarannya.

Dosen Ilmu Politik dan International Studies itu menegaskan bahwa program dan kegiatan fasilitasi pendidikan politik kepada warga di Kota Tangsel tentunya sangatlah penting.

**Baca juga: Silat Lidah Saras Gugat Pilkada Tangsel 2020 ke MK.

“Untuk meningkatkan sense of belonging atau rasa memiliki masyarakat terhadap kotanya,” tegas penyandang gelar pendidikan doktor filsafat dari kampus ternama di Australia itu.

“Sehingga ke depan, masyarakat bisa lebih aktif dalam menentukan arah kebijakan dan kualitas tata kelola pemerintahan lokal di Kota Tangerang Selatan,” tambah Khoirul Umam.(yud)

Berita Terbaru