oleh

Kekeringan, Ribuan Hektar Sawah Petani di Tangerang Terancam Puso

Kabar6-Ribuan hektar tanaman padi di Kabupaten Tangerang, terancam puso (gagal panen). Kondisi itu disebabkan musim kering berkepanjangan yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) cabang Tangerang, Budi Marwantho mengatakan, dampak kekeringan membuat ribuan hektar lahan pertanian dalam kondisi kritis parah. Bahkan, saat ini telah mendekati puso.

Air mulai mengering. Saluran irigasi yang mengaliri lahan persawahan petani tidak mengalir. Dampaknya, padi milik petani yang telah ditanampun mengering dan terancam gagal panen.

“Saat ini kekeringan sudah luar biasa. Hampir sebagian besar tanaman padi milik petani terancam puso. Kondisi paling parah terjadi di areal persawahan Kecamatan Cisoka dan Pantura,” kata Budi kepada kabar6.com, Kamis (6/9/2012).

Budi mendesak respon pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk segera mengatasi kekeringan dan ancaman gagal panen pada perswahan petani. “Pemerintah bisa memberikan bantuan mesin pompanisasi dan mengupayakan hujan buatan agar air bisa mengaliri lahan sawah milik petani,” ujar Budi.

Kini, lanjut Budi, pihaknya tidak bisa mengharapkan lebih banyak dari hasil panen padi. Agar tetap bisa bertahan, petani mulai berlandang Palawijaya. “Kami masih berharap mesin-mesin pompanisasi milik Pemkab Tangerang bisa mengaliri air ke lahan pertanian milik petani,” kata Budi.

Sementara, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang, Didi Aswadi membenarkan soal kian parahnya dampak yang ditimbulkan kemarau panjang tahun ini. “Akibat kekeringan, sekitar 2.483 hektar tanaman padi akan mengami puso,”kata Didi saat dihubungi kabar6.com, Kamis (6/9/2012).

Menurut Didi, musim kering membuat irigasi yang muaranya dari sejumlah anak sungai menuju lahan persawahan tidak lagi mengalir. Mampetnya saluran irigasi akibat kekeringan, berdampak kepada ketersedian pangan di wilayah tersebut. “Jika dihitung, lima ton beras dihasilkan dari satu hektar lahan sawah yang ada,” kata Didi.

Didi memprediksik, kekeringan tahun ini akan berdampak besar pada ketersediaan pangan, dengan kerugian panen mencapai 12 ton pada tahun ini. Adapun area persawahan di Kabupaten Tangerang mencapai 40 ribu hektar yang terbagi dalam 30 ribu hektar sawah tadah hujan dan 10 ribu hektar sawah non hujan.

Meski kemarau berkepanjangan, namun iklim pada tahun ini belum masuk daftar ekstrim. Hal ini mengacu pada hasil evaluasi sejumlah dinas di Kabupaten Tangerang dan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), pada 5 September lalu. “Iklim masih dalam tarap normal. Belum ekstrim,” kata dia.(ras/rah)

Berita Terbaru