oleh

Insiden Unpam Cermin Pembelajaran Demokrasi

Kabar6-Rektor Universitas Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Dayat Hidayat, menanggap insiden bentrokan antara mahasiswa dan aparat kepolisian sebagai tanda iklim demokrasi.

Setiap individu menurutnya memiliki cara tersendiri di dalam menyampaikan aspirasinya.

“Ya itulah mungkin itu salah satu pembelajaran demokrasi. Ketika demokrasi berjalan tentunya ada perbedaan dan perbedaan itu menjadi permakluman,” kata Dayat, ditemui wartawan usai bentrokan kemarin sore.

Ia memandang, bahwa proses itu pasti ada perbedaan ketika sudah dewasa berdemokrasi. Namun, kalangan usia mahasiswa yang sedang dalam masa pertumbuhan seringkali perbedaan itu harus berujung pada benturan.

Pihaknya, terang Dayat, tidak akan jera menggelar kegiatan diskusi nasional. Kampus menurutnya menjadi institusi atau lembaga pendidikan yang di dalamnya ada proses diskusi dan berbagi (sharing) menyampaikan pendapat.

Dayat mengimbau kepada para mahasiswa agar kedepannya dapat lebih elegan dalam menyampaikan aspirasinya di iklim demokrasi.

Tentunya penyampaian tersebut harus sesuai koridor akademis dan intelektual. Seperti menempuh proses dialogis dan diskusi selaku generasi penerus bangsa ini.

“Kalau kita kapok benturan seperti itu bukan institusi pendidikan namanya. Bisa seperti kayu kita nantinya,” jelasnya.

Seperti diketahui, bentrokan ini bermula ketika mahasiswa menolak kedatangan Wakapolri Komjen Nanan Sukarna.

Perwira tinggi nomor dua di Korps Bhayangkara itu menghadiri undangan sebagai pembicara seminar nasional bertema Tugas dan Tanggung Jawab Polri, Tantangan dan Harapan Masa Depan.

Ketika Nanan baru saja tiba, sekelompok mahasiswa menolak dan menggelar orasi. Saat acara seminar baru berjalan 1 jam 20 menit, di luar gedung terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan aparat kepolisian.

Akibat bentrokan yang berlangsung hingga sekitar 2,5 jam lamanya, lima orang petugas mengalami luka berat dan ringan sedangkan dari pihak mahasiswa dua orang kritis. (yud)

 

Berita Terbaru