oleh

Ini Negara yang Miliki Bahan Parfum Paling Langka di Dunia

Kabar6-Sudah menjadi rahasia umum bahwa biang parfum dari daerah pedesaan di Italia terbilang sangat mahal, dengan harga Rp873 juta per kilo. Dan biang parfum paling langka di dunia bernama minyak orris.

Aroma khas orris sangat jarang ditemui. Melansir DetikTravel, fakta membuktikan bahwa orang-orang terus mencari aroma ini meskipun biayanya sangat tinggi. Sejak dulu, orang Yunani dan Romawi Kuno mengemas esensnya dalam botol. Kini, esens orris dapat ditemukan di seluruh dunia. Nuansa wangi raspberry, violet dan lada membuat aromanya langka. Esens itu disuling dari akar iris yang bunganya menjadi objek lukisan Vincent van Gogh. Bunga-bunga ini tumbuh di Tuscany, di mana telah dibudidayakan dan dijual di toko-toko sebagai giaggiolo dari Italia.

Sejarah esens langka ini dimulai di mana ia pertama kali dipanen, di pedesaan Italia tepatnya di luar desa kecil San Polo sekira 30 menit berkendara dari Florence di sana terdapat Pruneti Farm. Dikelilingi oleh lereng bukit curam ada lahan bunga dan pabrik yang telah beroperasi selama hampir dua abad.

Saat ini, saudara-saudara Paolo dan Gionni Pruneti berdedikasi untuk melestarikan metode tradisionalnya. Ekstraksi orris adalah proses yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Selain minyak zaitun, pertanian Pruneti terkenal dengan orris. Setiap musim semi, wilayah Chianti Italia bunga-bunga itu bermekaran dan ada festival iris tahunan untuk merayakannya. Resin yang diekstrak dari akar bunga iris itu diekspor ke seluruh dunia untuk digunakan dalam kosmetik, parfum dan bubuk. Tanah berbatu dan iklim sedang di pertanian ini adalah kondisi pertumbuhan ideal untuk iris Florence.

Penanaman orris di Pruneti sebagian besar dikerjakan dengan tangan, dalam jumlah kecil, dan menggunakan peralatan dasar. Hal itu menjelaskan bagaimana orris yang berkualitas tinggi dapat dihargai lebih dari 50 ribu Euro per kilogram.

Untuk menghasilkan orris seberat satu kilogram dibutuhkan setengah ton akar iris. Budidaya orris juga membutuhkan tenaga kerja yang cukup besar di pertanian Pruneti. ** Baca juga: Lumpuh Gara-gara Konsumsi Pisang & Jeruk

Saat ini, keluarga Pruneti lainnya menggunakan teknologi yang lebih baru. Namun demikian, pengelolaan itu masih terus dipandu oleh metode produksi lawas yang telah berlangsung selama berabad-abad.(ilj/bbs)

Berita Terbaru