Pembunuhan dan Perampokan Siti Bikin Warga Amarapura Resah

Jasad Eva saat diperiksa polisi.(Sly)

Kabar6-Warga Perumahan Amarapura, Kelurahan Kademangan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), mengaku cukup kaget dan resah atas peristiwa tragis yang menimpa Siti Nurhayati (20).

Ya, Siti merupakan warga Perumahan Amarapura, tepatnya di Blok F2 No. 18 RT 02 RW 05, yang menjadi korban pembunuhan dan perampokan yang diduga dilakukan oleh kekasihnya sendiri pada Minggu (3/12/2017) malam.

“Kalau dengar cerita warga sih, saat kejadian, pelaku menyuruh adik laki-laki naik ke lantai atas. Sementara, Nurleha berada di samping rumah. Nah, Nurleha baru curiga dan kembali ke rumah setelah mendengar suara teriakan kakaknya,” ujar Pak Yanto, salah seorang tetangga korban kepada kabar6.com, Senin (4/12/2017).

Sementara, terkait hubungan Siti dan Ridwan sendiri, warga tak banyak tahu. Itu karena Siti sendiri merupakan sosok yang jarang bergaul dilingkungan sekitar.

“Kalau pacar korban, si Ridwan kita gak banyak tahu, tapi Ridwan disebut-sebut warga asal Bandung dan saat ini bekerja di kios Fotocopy di Kompleks Batan Indah,” ujar pria yang akrab disapa Pakde tersebut.

Sementara, Pitri, yang juga tetangga korban mengaku resah dengan kejadian tragis yang dialami Siti. “Kita disini gak kenal dengan sosok pacar korban. Tahu-tahu, sudah kejadian seperti ini,” ujar Pitri lagi.

Diketahui, Siti merupakan anak angkat dari Ibu Cris, pemilik rumah. Saat kejadian, Ibu Cris sedang pergi ke kampungnya di Boyolali.

Sementara Ibu Cris pergi, Siti dirumah berlantai dua tersebut tinggal bersama dua adiknya, lali-laki dan perempuan.**Baca juga: Sadis, Gadis Tangsel Dibunuh Dan Dirampok Pacar Sendiri.

Pantauan kabar6.com dilokasi, warga masih tampak berkumpul di depan rumah korban, sambil menunggu datangnya jenazah korban dari rumah sakit. Sedangkan sosok Ibu Cris, pemilik rumah juga dikabarkan dalam perjalanan dari Botolali menuju rumah duka.(BL/Sly)

INFO REDAKSI:

Berita ini sudah mengalami revisi pada bagian judul dan badan berita. Itu karena, terdapat kesalahan atau perbedaan nama korban, sebagaimana info yang diterima redaksi dari pihak kepolisian maupun dari warga sekitar lokasi kejadian. Revisi dilakukan untuk meluruskan agar tidak terjadi kesimpangsiuran bagi pembaca.