oleh

Hewan Qurban di Tangsel Belum Dimonitor Dinkes

Kabar6-Jelang perayaan hari raya Idul Adha, hewan kurban yang dijajakan di lapak-lapak penjualan di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kiranya masih banyak yang belum memiliki lebel kesehatan dari dinas terkait.

Padahal, dari sisi harga, nilai jual untuk hewan kurban jenis sapi kian melambung, dengan membandrol hingga Rp20 juta per ekor.

Ketiadaan lebel kesehatan dari dinas terkait di Kota Tangsel tersebut diakui Tawab, salah satu pedagang hewan kurban di Ciputat.

Menurutnya, selama dirinya menggelar lapak belum ada pemeriksaan maupun pengawasan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangsel.

“Kalau dari dinas lokal sini belum ada yang monitor,” ujar Tawab Selasa (16/10/2012).

Meskipun begitu, Tawab mengklaim bahwa sapi-sapi kurban yang dijualnya telah mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari Kementerian Pertanian. Sehingga hewan sapi asal Jawa dan Bali ini layak potong.

“Semua sapi ini sudah dapat surat keterangan sehat dari kementerian sebelum dikirim kesini. Makanya, kami menjualnya di pasar,” jelas Tawab.

Menurut Tawab, saat ini harga pasaran sapi kurban yang dijual bisa dibandrol antara Rp7 juta – Rp10 juta lebih untuk seekor jenis sapi Bali.

Sedangkan untuk jenis sapi Jawa harganya bisa lebih mahal lagi hingga Rp10 juta –Rp20 juta per ekor. “Tapi untuk pembelian masih normal, dari 48 sapi yang saya jual sudah ada yang pesan dan di tampung sementara di sini tanpa dipungut biaya,” jelasnya.

Masih kata Tawab, pihaknya juga mnyediakan jasa antar hewan kurban pesanan pembeli. Dimana, sejak buka lapak hingga H-3 hari raya Idul Adha, ia tidak menarik ongkos kirim.

“Setelah H-3 kami baru kenakan ongkos kirim Rp50 ribu, H-2 Rp100 ribu dan Rp 150ribu, seiring meningginya pesanan pembeli,” tuntas Tawab.

Senada dikatakan Syamsul, penjual hewan kurban di Pondok Aren. Menurutnya juga, belum ada monitoring dari dinas terkait setempat, khususnya soal pengecekan kesehatan hewan kurban jualannya.

“Kalau saya berani menjamin sapi-sapi kurban ini sudah ada nota keterangan kesehatannya. Tapi, kalau soal monitiring belum ada,” ucapnya.

Sebaliknya, untuk memastikan kesehatan hewan kurban dagangannya, pihaknya justru bekerjasama dengan dokter hewan sekitar tempatnya jualan.

Setiap hari, dokter hewan tersebut yang mengecek kesehatan hewan kurban dagangannya. “Di dekat sini ada dokter hewan yang sudah kerjasama dengan kita. Tinggalnya tidak jauh dari sini, jika kami panggil untuk memeriksa, dokternya datang langsung kesini,” terangnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Zainal Aminin mengatakan, pihaknya memastikan akan melakukan pengecekan, pemantauan dan pengawasan kepada penjual hewan qurban dan juga hewan kurban yang akan dikurbankan Idul Adha mendatang.

“Hewan yang akan dikurbankan dimonitor terus. Mulai kelayakannya sampai aspek kesehatannya. Soal sertifikasi ini nampaknya belum dibutuhkan asal ada pernyataan tim bahwa hewan yang akan dikurbankan sudah memenuhi persyaratan Islami dan juga kesehatannya,” kata Zainal.(Iqmar)

 

Berita Terbaru