Doa Tersangkut di Langit

Memprihatinkan sekali bila melihat pemandangan di pusat-pusat kuliner di sejumlah kota besar di negeri ini. Ada pemandangan betapa begitu santainya keluarga muslim menikmati hidangan di resto ******Duck yang mendisplai beberapa ekor bebek siap santap dengan leher tanpa sayatan ( tidak ada bekas sembelihan) di etalasenya dan di resto itu sendiri tidak terlihat mencantumkan sertifikat halal.

Dalam bulan ramadhan seperti sekarang ini, resto tersebut malah nekad membuat paket puasa, dan lebih konyol lagi, keluarga muslim juga berbondong-bondong datang ke tempat tersebut. 

Pemandangan nyaris mirip dengan itu, terlihat di mall dan resto di Batam, Balikpapan, Jabodetabek serta di Medan. Mengapa makanan dan minuman dan semua yang dikonsumsi umat muslim perlu halal ?. Kalau saja semua orang tahu apa konsekwensinya, waduhh.. serem banget. 

Mengkonsumsi makanan haram bisa menghantarkan seseorang langsung ke neraka. Amalan-amalan baik termasuk ibadah-ibadah wajib dan sunnah bisa ‘terdelet’ habis, terhapus hilang tanpa kesan.Berdo’a menengadahkan tangan dari siang sampai larut malam hingga pagi lagi percuma, tidak akan pernah diterima, tidak akan di ijabah, bahkan seseorang bisa tidak diaku sebagai mukmin. Serem banget kan ?. 

Simaklah beberapa hadist yang menjelaskan soal itu.

 “Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah.” kata sahabat bernama Sa’ad bin Abi Waqash. Dan Rasulullah SAW menjawab ” Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal ) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada ditanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil tipu menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya.” (HR At-Thabrani).

Sementara Yusuf bin Asbath mengatakan :“ Telah sampai pada kami bahwa do’a seorang hamba tertahan di langit karena makanan jelek ( haram ) yang ia konsumsi.” Seseorang yang sedang minum khamr tidak termasuk seorang mukmin.” ( HR Bukhari – Muslim). Hadist- hadist ini jelas dan dapat dengan mudah dimengerti. Dan masih cukup banyak hadist bernada sejenis.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Muslim Ibrahim, malah pernah mengatakan bahwa makan makanan yang haram juga bisa mengundang bencana di suatu daerah, karena do’a orang-orang di daerah itu tidak lagi di-ijabah, tidak lagi dikabulkan oleh Allah SWT.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tentu sering mendengar dan menyimak berita di berbagai media, bahwa cukup banyak orang yang bertindak diluar akal sehat, cuma karena soal-soal yang sepele. Hanya karena mobilnya disenggol oleh sepeda motor, si pengemudi mobil harus mengeluarkan pistol dan menembak si pengendara sepeda motor hingga terkapar tewas.

Apa hubungannya kasus itu dengan kuliner haram. Imam Ahmad RA pernah ditanya, apa yang harus dilakukan agar hati tidak keras dan mudah menerima kesabaran, beliau menjawab,‘’ Dengan memakan makanan halal.” (Thabaqat Al Hanabi-lah : 1/219).

Kasus sejenis cukup banyak terjadi, dan saat ini tampaknya begitu banyak orang-orang yang sudah tak lagi punya kesabaran hati, sedikit-sedikit mengumpat, mencaci maki, tawuran, perang antar kampung, saling tikam, bunuh, hanya karena soal-soal sepele. 

Lihatlah di jalan raya, peraturan memerintahkan kendaraan berhenti di belakang garis zebra cross yang sudah ditentukan bila lampu pengatur lalu lintas berwarna merah. Faktanya masih cukup banyak pengendara yang tak perduli, tak sabar ingin buru-buru, dibablas saja. Padahal berhenti satu menit saja menunggu lampu sampai hijau apa susahnya sih, dan lagi apa bedanya lebih cepat satu menit. Kalau tidak ingin terlambat ke satu tujuan, berangkatlah dari rumah lebih awal dari jadwal. 

Di kereta api commuter line Jabodetabek setiap hari juga terlihat pemandangan dimana hampir semua orang ingin buru-buru, terutama pada jam-jam masuk dan pulang kantor, naik berdesakan, turun berdesakan, tak perduli ibu-ibu, orang tua atau anak-anak terjepit, yang mau naik tak perduli dengan penumpang yang ingin turun, padahal sudah diatur, dahulukan penumpang yang turun, dahulukan ibu-ibu, terutama yang membawa anak dan orang tua. Bahkan di perkantoran atau gedung – gedung umum pun acapkali masih terlihat orang saling berebut naik lift.

Yakinlah, hidup ini akan jadi lebih indah bila semua orang di jalanan, di tempat-tempat umum, di rumah dan dimana saja, masing-masing selalu mengekspressikan wajah ceria dilengkapi dengan kesabaran hati, saling sapa dan tersenyum kalau diperlukan. Bila sedang berada di tempat keramaian tersenggol sedikit, ucapkan saja maaf, sorry, dan orang yang disenggol juga mestinya membalas : oh nggak apa-apa kok, woles aja brother. Pasti hidup akan menjadi lebih nyaman, dunia terasa menjadi lebih indah.

Tapi sikap seperti itu tentu tidak bisa muncul begitu saja, sikap itu baru bisa muncul kalau masing-masing orang memiliki kesabaran hati. Dan untuk bisa memiliki kesabaran hati, bila seseorang selalu perduli dengan makanannya, harus selalu yang halal, sebab makanan halal bisa menyinari hati yang kemudian terpancar ke wajah dan juga ucapan seperti dijelaskan hadist ini. 

“ Barang-siapa memakan makanan yang halal selama empat puluh hari, maka Allah akan menyinari qolbu-nya dan akan memancarkan ilmu hikmat dari qolbu-nya ke lisannya.”(HR Abu Nuaim).

Makanan haram juga bisa membuka jati diri dan menyebarkan bukti, membuka tabir siapa kita sebenarnya. Contoh kasusnya cukup banyak terjadi di masyarakat. Seseorang terlihat (seolah-olah) baik sekali, minimal covernya, suka menebar senyum, tapi nggak taunya kena Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (OTT KPK).

Apakah hal tersebut juga ada hubungannya dengan makanan haram. At Tustari, seorang mufassir mengatakan, ” Barang-siapa ingin disingkapkan tanda-tanda orang yang jujur (shiddiqun), hendaknya tidak makan, kecuali yang halal dan mengamalkan sunnah,” (Ar Risalah Al Mustarsyidin : hal 216).

Atau ada seseorang yang sering sakit. Sebentar- sebentar masuk rumah sakit, harus dirawat, diopname, atau bahkan harus menjalani operasi tertentu. Kalau itu yang terjadi, ada baiknya orang itu mengintrospeksi diri, apakah makanan minuman yang selama ini dikonsumsi dan masuk ke dalam tubuh sudah benar-benar halal, baik dari zatnya dan juga halal cara memperolehnya.

Sebab makanan haram bisa menjadi sumber penyakit, seperti dijelas salah satu ayat dalam Al-Qur’an.‘’ Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang hanii’ (baik) lagi marii’a (baik akibatnya).” (QS. An Nisa’: 4).

Ulama’ tafsir menjelaskan, bahwa maksud firman Allah SWT  Hanii ialah yang baik lagi enak dimakan dan tidak memiliki efek negatif. Sedangkan marii’a yang tidak menimbulkan efek samping setelah dimakan, mudah dicerna dan tidak menimbulkan penyakit atau gangguan.” ( Tafsir Al Qurthubi, 5:27 ). (zoelfauzilubis@yahoo.co.id)