oleh

Cara Kabupaten Tangerang Tekan Angka Stunting Pada Anak

Kabar6-Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang terus berupaya menekan angka stunting atau gagal pertumbuhan pada anak.

Salah satu upaya untuk menurunkan jumlah balita stunting, menurut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Ni Wayan Manik Kusmayoni adalah dengan mengubah perilaku masyarakat dan pola asuh.

“Sepetrti memberi ASI yang baik, melaksanakan gerakan masyarakat dan menerapkan pola hidup sehat,” ujarnya Jum’at 24/1/2020.

Upaya lainnya yang dilakukan untuk menurunkan jumlah stunting, ujar Manik, adalah melakulan sosialisasi 1000 HPK (hari pertama kelahiran), memberikan gizi tambahan ibu hamil, dan memberikan tablet tambah darah remaja sekolah.

Menurut Manik, untuk mencegah stunting harus memiliki tiga kunci utama. Di antaranya pola makan atau pola asuh, akses pelayanan kesehatan, dan air bersih. Selama kehamilan sejak usia kandungan, ibu harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Kemudian ketika bayi dilahirkan harus mengenal inisiasi menyusu dini (IMD).

“Ada peristiwa bayi tak diberi ASI, membuat ketahanan mental kurang baik saat besar. Ibunya mudah stres. Ketika bayi bertemu puting ibunya, hilang semua stres. Banyak anak stunting karena dari awal kehidupan sudah gagal,” ucapnya.

Kegagalan lainnya, lanjut Manik, ketika terjadi kondisi frustrasi ketika ASI tak keluar kemudian bayi langsung diberi susu formula. Pada saat bayi sudah mengenal susu formula dengan rasa manis, asin, dan lemak, pada saat tumbuh kembang anak akan menolak makan sayur.

**Baca juga: 13 Persen Balita di Kabupaten Tangerang Alami Stunting.

“Anak enggak mau makan sayur jika anak sudah ketemu 3 rasa ini. Andai mau menuntaskan stunting harus revolusi mulai lagi dari awal kehidupan,” ungkapnya.

Angka stunting pada anak di Kabupaten Tangerang masih tinggi Berdasarkan data aplikasi elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) per Desember 2019 sekitar 13,4 persen atau 47 ribu dari total 354.535 balita di Kabupaten Tangerang mengalami kondisi gagal tumbuh atau stunting.

Namun jika dibandingkan angka pada tahun 2018 menurun 15 persen. Pada 2018 tercatat 27,3 persen balita alami stunting. (vee)

Berita Terbaru