oleh

Bersatunya Alumus Golkar di Pilpres 2024?

Oleh: Sanusi (Direktur Eksekutif Tangerang Leadership Management)

Kabar6-Safari politik yang dilakukan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto memberikan angin segar untuk demokrasi mendatang. Angin segar ini bahkan kian terasa sejuk berhembus di kalangan para jebolan “Partai Beringin” yang sudah besar dengan partainya masing-masing.

Safari politik Airlangga dengan Surya Paloh pada 4 Maret 2021 menjadi ajang perdana hembusan angin silaturahmi Golkar dengan para jebolannya. Maklum, saat ini, Surya Paloh merupakan Pendiri sekaligus Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yang tak lain dan tak bukan merupakan kader jempolan di partai Golkar sebelumnya.

Angin sejuk lainnya bagi demokrasi selanjutnya adalah safari politik Airlangga dengan Parbowo Subinato yang saat ini menjadi orang nomor satu di Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada 13 Maret 2021 lalu. Prabowo juga merupakan alumnus partai Golkar yang kini semakin besar dengan partainya sendiri.

Melihat dua pertemuan Airlangga dengan jebolan Partai Golkar tersebut, wajar rasa-rasanya Saya mengidamkan adanya kepemimpinan baru pada tahun 2024 mendatang. Artinya, akan sangat dinatikan kolaborasi antara Golkar dengan Nasdem dan Gerindra ini pada perhelatan Pemilihan Presiden tahun 2024.

Jangan membayangkan siapa yang akan diusung jika Golkar dan para jebolannya ini berhasil membangun angin koalisi. Tapi lihat Analisa kursi yang sangat besar gabungan antara Golkar, Nasdem, dan Gerindara untuk mengarungi bahtera pengusungan calon presiden dan calon wakil presiden. Betapa besarnya koalisi yang dibangun jika ketiga partai ini bergabung. Soal siapa calon pemimpinnya, baru bicarakan selanjutnya.

Golkar dengan 85 Kursi DPR RI, Nasdem dengan 59 Kursi DPR RI, dan Gerindra dengan 78 Kursi DPR RI, rasa-rasanya teramat besar potensinya untuk menjadi arah politik baru pada tahun 2024 mendatang. Gabungan ketiga partai ini adalah sebesar 222 Kursi DPR RI, setara dengan 38,6 persen dari total 575 kursi DPR RI saat ini.

Belum lagi dilihat dari potensi para pimpinan ketiga partai ini yang hingga saat ini terus masuk bursa pencalonan presiden untuk tahun 2024. Nama Prabowo Subinato memang yang paling unggul surveinya diantara semua pimpinan partai di atas. Namun, jangan kecualikan potensi yang dimiliki Airlangga Hartarto dan kekuatan barisan Surya Paloh dengan Media Grupnya. Ini adalah bekal yang sangat jitu untuk bisa membuat poros baru perubahan untuk Indononesia 5 sampai 15 tahun mendatang.

Terlebih, setelah era Demokrat dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama 10 tahun, dan era PDI Perjuangan dengan tokohnya Joko Widodo (Jokowi) hingga saat ini, cenderung tidak ada nama dari tokok-tokoh ketiga partai ini yang bercokol di pucuk kepemimpinan nasional sebagai presiden. Wajar rasanya jika Saya menganggap bahwa kolaborasi ketiga partai ini akan melahirkan kepemimpinan baru setelah era SBY dan Jokowi.

Terlebih, sejak era reformasi tahun 1999, atau sejak era Soeharto memimpin 32 tahun lamanya dengan partai Golkarnya, belum ada lagi figur yang lahir dari Golkar yang jadi presiden. Jelas ini jadi pemicu yang tidak bisa tidak dipikirkan matang-matang bagi Golkar dan jebolannya untuk mengembalikan kejayaan kepemimpinan di tangan Golkar dan atau Golkar dengan para jebolannya.

Jelas ini mimpi Saya, yang belum tentu jadi mimpi bagi Airlangga Hartarto, Surya Paloh, atau Prabowo Subyanto sendiri untuk mencipakan era baru di bawah panji Golkar dan atau Golkar beserta para jebolannya yang menurut Saya sudah sangat mapan berpolitik di masing-masing partai yang kini sama besarnya satu dengan yang lainnya.

Butuh Kelegowoan Prabowo

Dari dua safari politik yang dilakukan Airlangga Hartarto nampaknya baru sambutan Surya Paloh yang menjadi angin sejuk. Keduanya bahkan dikabarkan banyak media sudah menjalin beberapa hal, atau kesepakatan untuk saling menguatkan figuritas di masing-masing partai untuk didorong menjadi pemimpin nasional pada perhelatan Pemilu 2024 mendatang.

Tak heran, sejak bertemu dengan Surya Paloh, Golkar sudah menetapkan bahwa satu-satunya Calon Presiden 2024 dari Golkar hanyalah ketua umumnya. Dan tak heran kalau Airlangga terus melakukan safari politik dengan banyak tokoh-tokoh nasional, yang notabene juga jadi incaran Partai Nasdem untuk dilibatkan dalam Konvensi Capres ala Partai Nasdem seperti, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Bahkan, kini poto-poto Airlangga terus ditebar di berbagai muka umum sebagai bagian untuk mengangkat elektabilitas Menteri Koordinator Bidang Ekonomi tersebut oleh kader-kader dan pengurus Golkar di berbagai penjuru tanah air. Kalau bukan untuk menyiarkan hasil kesepahaman dari pertemuan antara Golkar (Airlangga) dengan nasdem (Surya Paloh), lantas mau dikatakan apa Gerakan-gerakan yang dilakukan Golkar ini.

Melihat berjalannya hasil kesepahaman ini, tentu ini dapat dikatakan adanya angin sejuk yang sudah dibangun antara Golkar dengan jebolannya sendiri, khususnya Airlangga dan Surya Paloh. Lantas, bagaimana dengan Prabowo Subianto?

Di sinilah letak paling menentukan. Butuh kelegowoaan yang teramat besar bagi Prabowo Subianto jika mimpi kolaborasi para jebolan Golkar dengan Golkar itu sendiri untuk menciptakan era baru kepemimpinan ala Golkar di tahun 2024. Sebab, jika hanya mengandalkan Surya Paloh dan Airlangga, mimpi bahwa era Golkar akan berkibar lagi di Indonesia ini pelan namun pasti akan tertutup.

Apalagi, harmonisnya hubungan Prabowo Subinato dengan Megawati Soekarno Putri selaku Ketua Umum PDI Perjuangan yang tengah mengidamkan hattrick atau tiga kali beruntun memenangkan Pemilu belum bisa tergoyahkan. Jika kiblat Prabowo adalah membantu PDI Perjuangan menyempurnakan mimpinya untuk menang tiga kali dalam Pemilu, maka mimpi Golkar Collaboration (Kolaborasi Golkar dan Jebolannya) harus ditunggu lebih lama lagi tercipta.

Itu sama artinya, mimpi adanya kepemimpinan baru pada tahun 2024 akan tertutup rapat. Maka dari itu, selain dibutuhkan kelegowoan Prabowo Subianto membentuk alumnus Golkar Connection, butuh perjuangan berat bagi Airlangga dan Surya Paloh untuk merayu Prabowo bergabung bersama membentuk koalisi besar alumnus Golkar ini.

**Baca juga: Pilkades Serentak di Lebak, Kampanye Dilarang Timbulkan Kerumunan

Bagi Saya pribadi, tidak ada yang tidak mungkin dalam politik. Mimpi ini bisa saja terwujud menjadi mimpi indah, atau menjadi hal yang jauh dari kenyataan seperti mimpi buruk dalam tidur. Namanya bermimpi, maka boleh-boleh saja. Namun, mimpi yang jadi keyataan itulah harapan besar bagi siapapun yang tengah bermimpi. Mari lihat perjalanan ketiga tokoh partai papan atas ini 3 tahun lagi.(red)

Berita Terbaru