oleh

Belum Sebulan Menjabat, Irna-Tanto Sudah Dipermalukan Jajarannya Gegara Ibu Hamil Ditandu

Kabar6- Buntut pernyataan Dinas Kesehatan dan Kabag Humas dan Protokol Setda Pandeglang pasca adanya peristiwa ibu hamil harus ditandu untuk mendapatkan persalinan ke Puskesmas di Sindangresmi, alih-alih memperbaiki situasi, malah menimbulkan polemik dan mendapat kecaman.

Kecaman itu terkait pernyataan Dinas Kesehatan menyebutkan kegiatan menandu adalah budaya gotong royong yang perlu dilestarikan yang dianggap melakukan hati warga. termasuk juga pernyataan Kabag Humas dan Protokol Setda jika jalan setapak yang dilalui saat memandu Enah statusnya milik PT Perkebunan Nusantara, sehingga jalan itu tidak bisa dibangun oleh Pemkab, padahal berdasarkan keterangan warga jalan itu milik warga setempat.

Adanya polemik tersebut, Irna Narulita – Tanto Warsono Arban disebut dipermalukan oleh jajarannya alias anak buahnya sendiri. Padahal keduanya belum sebulan menjabat sebagai bupati dan wakil bupati Pandeglang di periode keduanya. Peristiwa itu juga sebagai bentuk tamparan keras untuk Irna-Tanto atas kinerja pada periode sebelumnya.

“Akibat kinerja anaknya kurang baik dalam menanggapi peristiwa Ibu Enah, saya rasa tindakan jajarannya sudah mempermalukan Bupati dan Wakil Bupati Pandeglang yang belum se bulan menjabat di periode keduanya,” kata Muhtadin warga Sindangresmi kepada kabar6.com, Jumat (7/5/2021).

“Bupati pernah bilang saat setelah dilantik semua SKPD nya harus respon medsos postingan keluhan masyarakat. Ini malah dilemahkan dan dipusingkan,” sambungnya.

Dalam situasi seperti itu, kata Muhtadin harusnya pemerintah daerah mencermati sebab akibat dari peristiwa itu, sehingga langkah yang diambil dapat menghasilkan solusi yang baik, bukan mencari pembenaran dirinya masing-masing dan terkesan enggan disalahkan.

“Harusnya tanggap, langkah pertama hal emergensi, kemudian mencermati sebab akibat kejadian, koordinasi masif antar lembaga. Dan yang utama tanya langsung kepada sumber atau masyarakat. Sepertinya anak buah bupati dari pemda, camat sampai desa itu hanya bela diri merasa benar tidak ada yang salah,”cetusnya.

Senada Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pandeglang Elien Robiki menegaskan, kejadian seorang ibu hamil ditandu demi mendapatkan pelayanan kesehatan sebagai bentuk tamparan keras Bupati Pandeglang, karena hal itu ditenggarai akibat infrastruktur jalan yang buruk.

“Tentu ini tamparan keras bagi bupati Pandeglang dimasa periode yang kedua kalinya, (periode pertama) belum ada afek atas kinerjanya untuk masyarakat,” tegas Elien.

Elien bahkan menyinggung pernyataan yang kerap disampaikan Bupati Pandeglang jika jalan Kabupaten dalam kondisi mantap belum (Jakamantul). Realitanya mantap betul dalam kondisi rusak.

**Baca juga: Pemkab Pandeglang Dihadiahi Lumpur Buntut Ibu Hamil Ditandu

“Dimana bupati sering mengatakan jalan kabupaten mantap betul (Jakamantul) memang betul-betul mantap. Mantap dengan rusaknya realita jalan hari ini,mantap betul dengan akses jalan yang belum sama sekali disentuh terutama jalan yang dilalui oleh ibu Enah saat di tandu,”ujar Elien dengan penuh kesal.

Elien berpendapat, peristiwa tersebut telah membuktikan kegagalan bupati dalam merealisasikan janji kampanye sendiri. ‘Janji-janji bupati ketika kampanye dulu hanyalah tinggal janji, yang tak pernah ada bukti dan ini jelas bupati telah mengkonfirmasi dirinya sendiri atas kegagalannya di periode pertamanya,”tutupnya.(aep)

Berita Terbaru