Apa Saja Dampak Buruk Stres pada Otak?

Ilustrasi/bbs

Kabar6-Dampak stres dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang terhadap kesehatan tubuh, suasana hati serta pikiran seseorang. Stres sendiri telah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari kehidupan kita.

Saking seringnya, mungkin Anda tidak menyadari sedang mengalami stres. Hal ini dapat muncul dari gejala seperti sakit kepala, mood yang menjadi sensitif, cepat meledak yang kemudian dapat berkembang menjadi demam atau bahkan pada giliran terparahnya dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke.

Bagaimana dampak stres pada otak? Saat stres, tubuh akan melepaskan hormon yang dikenal dengan sebutan kortisol. Hormon stres tersebut dapat berdampak buruk terhadap hippocampus otak, yakni memperkecil ukuran otak, membunuh sel-sel saraf pada otak dan menjadi penghambat proses regenerasi sel-sel saraf baru.

Hal ini pada akhirnya akan membuat kemampuan otak menjadi terganggu. Hippocampus merupakan bagian penting untuk memori, kemampuan berpikir, belajar serta pengaturan emosi.

Karena itulah jika terjadi gangguan pada bagian otak ini, apasitas memori akan menurun, yang artinya akan mempengaruhi kemampuan belajar, berpikir serta pengaturan emosi seseorang yang menjadi terganggu. Dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah beberapa dampak buruk stres terhadap otak:

1. Lemahkan daya ingat
Kenaikan tingkat glukokortikoid akibat stres yang berkepanjangan akan berepngaruh pada melemahnya daya ingat seseorang. Hal ini terjadi disebabkan karena ujung saraf yang lebih tua merasakan kesulitan utnuk berhubungan dnegan sel-sel otak yang baru. Selain itu, stres yang sering terjadi akan semakin mempersulit otak dalam mengirimkan informasi atau feedbacknya, sehingga menyebabkan kehilangan ingatan dalam jangka pendek. Pada akhirnya, hal ini akan dapat menyebabkan timbulnya alzheimer dan dimensia pada manusia.

2. Sebabkan penyusutan otak
Kondisi stres yang terjadi akan dapat menyebabkan komposisi otak yang terenggut, sehingga membuat daerah hippocampus otak menyusut beberapa tempo. Kondisi seperti ini lebih sering terlihat pada korban trauma atau kekerasan. Penyusutan otak dapat menyebabkan seseorang kesulitan untuk mengingat sesuatu dan sulit berkonsentrasi. Hal ini pula yang mengganggu keterampilan motorik dan membuat seseorang kesulitan untuk merancanakan sesuatu.

3. Memungkinkan saraf terjepit
Stres dapat mengurangi sirkulasi darah di otak secara drastis, sehingga dapat meningkatkan risiko menderita stroke. Saraf pada pembuluh darah akan mulai mengalami penyusutan atau terjepit secara bersamaan. Jika hal ini terjadi, maka akan dapat menghalangi pasokan darah, nutrisi serta oksigen ke otak serta menghambat kemampuan otak untuk menyembuhkan dirinya sendiri dengan lebih cepat. ** Baca juga: Waspada Terhadap Beberapa Makanan yang Bisa Picu Kanker

Satu-satunya cara untuk menghindari stres adalah dengan menjauhkan diri dari hal-hal yang membuat Anda tegang dan tertekan. Mulailah kontrol dan kendalikan diri dari segala sesuatu yang membuat Anda mejadi stres.(ilj/bbs)