oleh

Animator Dunia Ramaikan Festival Beast di ICE BSD

Kabar6-Sejumlah animator dunia ikut meramaikan Bengkel Animasi Computer Grafis (CG) Festival (BEAST) 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City.

Dalam Beast 2019 tersebut hadir pemilik studio animasi ternama sebagai pembicara Mike Wiluan (CEO Infinite Studios), Aditya Triantoro (CEO The Little Giantz), Irvan Rifai (Brown Bag Films Bali), Johanes Kurnia (Generalist Supervisor ILM di film Star Wars: The Last Jedi), Stephen Putra (Pipeline TD film Gemini Man, Alita: Battle Angel), David Lojaya (Character Designer Dreamworks Animation) dan Ronny Gani (Senior Animator Film Avengers: End Game).

“Tujuh tokoh ini akan berbagi informasi dan pengetahuan dari pengalaman mereka selama berkarir di studio animasi besar di dalam dan luar negeri. Hal ini tentu dapat menambah wawasan untuk para peserta dalam mengembangkan skill mereka,” ujar Project Leader Digital Hub dari Sinar Mas Land, Irawan Harahap melalui keterangan tertulis yang diterima Kabar6.com, Sabtu (16/11/2019).

Irawan mengatakan, event yang berlangsung Sabtu 16 November lalu itu merupakan wadah bertukar informasi dan kolaborasi antar stakeholder dari industri animasi dan CG di Indonesia, mulai dari studio animasi atau games, praktisi, institusi pendidikan, pelajar, mahasiswa dan institusi-institusi pemerintah terkait.

“Sinar Mas Land bangga dapat menjadi tuan rumah untuk acara BEAST 2019 yang mengakomodasi peminat dan pelaku bidang animasi dan CG,” ujar Irawan.

Sinar Mas Land optimis dengan perkembangan kedua bidang ini baik dari segi kreatif maupun teknologi digital yang saat ini juga menjadi fokus, sejalan dengan pembangunan Digital Hub yang sedang berlangsung.

“Saat ini, industri animasi dan CG di Indonesia sedang mengalami perkembangan yang signifikan, sehingga kedepan bisa menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional,” paparnya.

Irawan menjelaskan, terbukti dari banyaknya studio animasi atau game lokal di Indonesia yang memiliki kapasitas tenaga kerja berkisar antara 100 sampai 300 orang.

“Beberapa studio ini sukses mengerjakan proyek sendiri, sedangkan studio-studio lainnya menyokong produksi film dari dalam dan luar negeri,” ungkapnya.

Kondisi yang produktif ini, Irawan melanjutkan, berbanding terbalik dengan ketersediaan tenaga kerja yang ada.

“Studio-studio tersebut masih kekurangan dan kesulitan dalam mencari SDM baru yang sesuai dengan standar kualitas perusahaan mereka,” kata Irawan.

Di sisi lain, Irawan menjelaskan, sejumlah animator asal Indonesia telah berhasil merambah dunia animasi Hollywood.

“Salah satunya Mike Wiluan yang saat ini menjabat sebagai CEO dari Infinite Studio,” imbuh Irawan.

Kabar6.com
Beast Festival 2019.(ist)

Irawan menuturkan, Mike telah mengerjakan beberapa film animasi seperti Meraih Mimpi (2008) hingga film-film Internasional seperti Hitman: Agent 47 (2015) dan Crazy Rich Asian.

“Selain beliau, Ronny Gani juga telah sukses mengantar beberapa film animasi kelas dunia ke puncak box office,” bebernya.

Lanjut Irawan, pengalaman Ronny bekerja di bagian visual effects dari Industrial Light & Magic Singapore yang merupakan anak perusahaan Lucas Film (pembuat film seri Star Wars -red) memberinya kesempatan untuk mengerjakan film-film Marvell Studio seperti The Avengers (2012), Avengers: Age of Ultron (2015), Ant-man (2015) dan Avengers: Infinity War (2018).

“Melihat perkembangan industri ini, pemerintah mulai berupaya untuk menciptakan program-program yang melahirkan animator kelas dunia,” tuturnya.

Irawan menuturkan, hal ini tentu didukung oleh Sinar Mas Land yang saat ini sedang menggarap kawasan Digital Hub.

“Proyek ini merupakan salah satu pengembangan inovatif dari Sinar Mas Land yang ditujukan bagi pelaku industri teknologi digital, mulai dari institusi pendidikan, komunitas, startup, hingga perusahaan berskala multinasional,” tambahnya.

Sementara itu, Pendiri Bengkel Animasi, Ronny Gani menambahkan, sebagai negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang sangat besar.

**Baca juga: Grab Wheels Menjadi Fasilitas Primadona di The Breeze BSD City.

“Namun dari segi kualitas, harus diakui adanya ketertinggalan jika dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara,” papar Ronny.

Ronny membeberkan, kualitas animator Indonesia yang harus mampu bersaing secara internasional menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan dan perkembangan industri animasi Indonesia.

“Hal tersebut memotivasi saya dalam mendirikan Bengkel Animasi yang fokus dalam upaya meningkatkan kualitas animator muda, melalui program-program pelatihan yang intensif dan melibatkan para praktisi dan perusahaan-perusahaan animasi di Indonesia,” ucap Ronny.

“Melalui acara ini, Sinar Mas Land dan Bengkel Animasi secara aktif mengupayakan pertambahan sumber daya manusia di bidang industri animasi serta mendukung program pemerintah menjadikan Indonesia sebagai negara dengan perekonomian kreatif terbesar di Asia,” tutupnya.(eka)

Berita Terbaru