oleh

3 Peristiwa Besar di Masa Lampau yang Konon Jadi Tanda Kiamat Telah Tiba

Kabar6-Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang akan mengetahui kapan kiamat akan tiba. Ya, hanya Sang Pencipta yang memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan hari akhir itu datang.

Meskipun demikian, masih saja ada sekelompok orang yang mengklaim mengetahui kapan kiamat itu terjadi. Melansir keepome, berikut tiga peristiwa misterius yang dianggap oleh masyarakat pada masa lampau sebagai pertanda telah datangnya hari kiamat:

1. Fenomena Heat Burst
Peristiwa pertama dinamakan sebagai Satan’s Storm, terjadi di Kota Kopperl pada 15 Juni 1960 malam. Pada saat itu, suhu terlihat normal meski terdapat beberapa kilatan di langit.

Mendadak, terjadi sapuan angin yang sangat dahsyat mencapai kecepatan 75 mph, hingga membuat toko-toko dan beberapa pohon tumbang. Suhu udara pun tiba-tiba naik hingga mencapai 37 derajat.

Bahkan di beberapa tempat suhu dilaporkan mencapai 60 derajat. Beberapa alat pengukur cuaca menjadi rusak karena melebihi suhu normal pada umumnya. Orang-orang yang pada saat itu tengah tertidur seketika terbangun dan merasa kondisi panas seperti terbakar.

Pada saat itu, suasana benar-benar sangat mencekam. Masyarakat mengira bahwa dunia akan segera berakhir. Hampir semalam peristiwa tersebut terjadi.

Keesokan harinya, para petani menemukan bahwa jagung mereka yang tadinya siap panen mendadak terpanggang dalam tangkainya. Ladang kapas, daun, dan semak belukar pun juga terbakar.

Fenomena ini kemudian disebut dengan Heat Burst dan tercatat merupakan fenomena ekstrem terburuk dalam catatan sejarah peradaban manusia.

2. Tunguska Explosion
Peristiwa ini terjadi pada 30 Juni 1908. Pada saat itu, kafilah-kafilah yang ada di Gurun Gobi menyaksikan sebuah bola api menyala dan meluncur dengan cepat ke arah langit yang kemudian segera lenyap di sebelah utara tapal batas Mongolia.

Setelah menghilang, terdengar suara ledakan maha dahsyat di dataran tinggi Siberia Tengah, Rusia, tepatnya di dekat Sungai Tunguska. Ledakan tersebut tercatat pada seismograf yang ada di wilayah Irkutsk (880 km ke selatan), Moskow (5000 km ke barat), hingga ke Washington dan Jakarta.

Penduduk di daerah itu melaporkan bahwa muncul tiang api menjulang setinggi langit yang disusul oleh gelombang panas, serangkaian suara gelegar, serta gelombang angin sekencang topan dan turunnya hujan berwarna hitam.

Kuatnya ledakan tersebut mengakibatkan gempa yang cukup besar. Berbagai stasiun meteorology di Eropa mencatat gelombang tekanan seismik pasca-kejadian tersebut.

Peristiwa menghebohkan tersebut kemudian disebut sebagai Ledakan Tunguska. Meski tidak menimbulkan korban jiwa (karena terjadi di wilayah hutan raya), ledakan tersebut meratakan sekira 2.000 kilometer persegi hutan.

3. Suasana tanpa musim panas
Pada 1816 terjadi penyimpangan iklim yang luar biasa di wilayah Amerika, Kanada, dan Eropa. Biasanya pada akhir musim semi dan musim panas, cuaca yang terjadi di ketiga wilayah tersebut stabil. Namun pada Mei 1816, cuaca terasa sangat dingin.

Temperatur yang pada umumnya 20-25 derajat menyusut drastis menjadi di bawah lima derajat Celcius. Pada saat itu, tanaman rata-rata mengalami gagal panen serta banyak terjadi badai salju sehingga menyebabkan tidak sedikit orang yang meninggal dunia karena mati kedinginan.

Tidak ada yang mengetahui peristiwa apa yang tengah terjadi pada saat itu. Suasana benar-benar sangat mencekam. Matahari tidak tampak, kelaparan di mana-mana, hingga lonjakan harga serta iklim yang berubah drastis.

Rumor yang beredar di masyarakat setempat mengatakan, matahari akan menghilang dari Bumi, sehingga sebagian besar orang meyakini bahwa kiamat akan segera tiba. Banyak dari mereka pun tertunduk pasrah dan hanya bisa menunggu kiamat itu tiba.

Peristiwa yang terjadi pada saat itu sebenarnya disebabkan oleh letusan Gunung Tambora yang terjadi pada 5 April 1815. Letusan Tambora tersebut membentuk tiga lajur api yang mengubah seluruh gunung menjadi aliran lahar.

Batuan apung dengan diameter 20 meter kemudian mulai menghujani sisi gunung yang diikuti oleh hujan abu dan mengakibatkan punahnya peradaban di sekitar wilayah tersebut. ** Baca juga: Pemerintah Hawaii Berencana Ajukan RUU yang Naikkan Usia Minimal Perokok Menjadi 100 Tahun

Ternyata, debu dan partikel yang dilontarkan Gunung Tambora turut memengaruhi iklim di Bumi. Selama berbulan-bulan lamanya, abu tertahan di atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari. Akibatnya, wilayah Eropa dan Amerika menjadi dingin. Jutaan orang pada saat itu hidup dalam kesulitan, mengalami kedinginan dan kelaparan yang luar biasa.

Peristiwa yang sungguh mengerikan.(ilj/bbs)

Berita Terbaru