oleh

2 Warga Pondok Aren Tewas, Waspada DBD Saat Kemarau

Kabar6-Kawasan tropis rawan terjangkit nyamuk demam berdarah pada saat memasuki musim kemarau seperti sekarang. Tak jarang, serangan demam berdarah mengakibatkan kematian kepada korbannya.

Di Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), 2 bocah bernama Rifat (5) dan Faisal (5), meninggal dunia akibat serangan nyamuk Aedes aegypti beberapa hari yang lalu.

Dari diagnosa dokter yang memeriksanya, bocah-bocah malang itu positif menderita Dengue Shock Syndrome (DSS) pada Demam Berdarah Dengue (DBD).

Ya, DSS pada DBD merupakan virus yang sangat mematikan dari demam berdarah. Penderita DBD yang terjangkit virus ini, akan mengalami renjatan syok.

Gejalanya seperti nadi cepat dan kecil, ujung-ujung tangan dan kaki dingin, tekanan darah turun atau hilangnya kesadaran pada korban.

Gejala-gejala itu akan mulai tampak pada hari ke empat hingga ke tujuh periode sakit. Berdasarkan catatan kedokteran, virus ini sangat mematikan bagi penderitanya.

Ironisnya, penyakit demam berdarah di negeri ini terjadi hampir setiap tahun, dan selalu memakan korban jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Kepala Puskemas Pondok Aren drg I Gusti AR Ratih mengatakan, penyakit ini ada karena kesalahan masyarakat yang kurang peka dengan perilaku hidup bersih, dan sehat.

“Kesadaran penduduk kurang, karena pendidikan mereka rendah. Kalau buat orang yang pendidikan tinggi, mereka pasti tahu bahaya dari lingkungan yang kotor. Karena, demam berdarah penyakit lingkungan,” ujarnya

Virus yang dibawa nyamuk demam berdarah banyak menyerang kekebalan tubuh. Saat penderita sedang kurang sehat, lalu digigit, maka virus itu akan semakin cepat beraksi. Sebaliknya, jika tubuh si penderita sedang prima, virus itu akan kalah, dan bisa menghindari maut.

“Mencegahnya adalah melalui kebersihan lingkungan. Sedangkan pengasapan hanya untuk mengusir nyamuk dewasa. Tetapi tidak membunuh nyamuk-nyamuk kecil,” terangnya.

Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan, Kota Tangsel, Tulus Muladiyono mengatakan, penderita DBD dari bulan Juni ke Juli mengalami penurunan.

Merujuk data, Bulan Juni penderita DBD sebanyak 88 orang dan Juli 61 orang. Pada bulan Juni dan Juli juga tidak ada kasus meninggal.

Sedangkan untuk kasus terbanyak dibulan Juni dan Juli yakni di Kecamatan Pamulang dengan mayoritas penderita berusia 15 tahun.(turnya).

Berita Terbaru