oleh

WHO Sebut, Polusi Udara Berpotensi Pengaruhi Risiko Kematian Akibat COVID-19

Kabar6-Menurut keterangan resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat polusi udara yang tinggi dapat menjadi salah satu faktor risiko dalam kasus fatal COVID-19.

Kaitan antara polusi yang akut dan angka kematian akibat virus corona yang tinggi, melansir BBC Indonesia, sebelumnya juga muncul dalam dua kajian ilmiah, satu di antaranya dikerjakan peneliti dari Universitas Harvard. “Suatu negara dengan tingkat polusi udara tinggi harus memasukkan faktor itu dalam persiapan mereka menanggulangi Covid-19,” kata Maria Neira, Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan WHO.

“Alasannya, polusi udara meningkatkan risiko angka kematian yang tinggi. Kami menyoroti Amerika Selatan, Afrika, dan Asia. Kami akan menyusun peta kota paling berpolusi untuk mendukung pemerintahan di kawasan ini mempersiapkan strategi penanganan epidemi,” tambahnya.

Para pekerja medis sependapat, terlalu dini untuk menyebut adanya kaitan langsung antara tingkat kematian akibat COVID-19 dan polusi udara. Namun sejumlah pakar di beberapa negara mengaku sudah menemukan pasien yang menunjukkan bahwa kesehatan yang terpengaruh polusi udara dapat berujung pada infeksi parah COVID-19.

WHO memperkirakan, ada sekira tujuh juta orang meninggal setiap tahun akibat polusi udara. Mayoritas negara yang terdampak polusi itu berada di Asia bagian selatan, Timur Tengah, sub-Sahara, dan Afrika Utara.

Pemetaan itu merujuk laporan Bank Dunia yang dipublikasikan pada 2019 terkait persebaran polusi udara secara global. Dalam laporan WHO dan PBB, kota-kota di Amerika Selatan, seperti di negara Chile, Brasil, Meksiko, dan Peru, dinyatakan memiliki tingkat polusi udara yang sangat berbahaya.

Kajian dari Sekolah Kesehatan Masyarakat T.H. Chan, Universitas Harvard, menyebut angka kematian pasien COVID-19 bisa bertambah hingga 15 persen akibat bertambahnya partikel halus polusi udara selama beberapa tahun sebelum pandemi terjadi.

Kajian itu menyorot sebagian besar wilayah Amerika Serikat. Para penelitinya menggunakan data polusi udara AS secara nasional dan memasukkan data sensus untuk membandingkan angka kematian Covid-19 yang disusun Universitas John Hopkins.

WHO menyebut, lebih dari 90 persen populasi dunia tinggal di wilayah dengan tingkat polusi yang melebihi batas normal. Mayoritas penduduk itu tinggal di negara miskin.

“Dalam data awal kami, hampir seluruh pasien di Filipina yang meninggal akibat COVID-19 memiliki penyakit bawaan, mayoritas berkaitan dengan polusi udara,” ungkap Cesar Bugaoisan, pakar penyakit pernapasan di Asosiasi Praktisi Kesehatan Paru di Filipina.

Diketahui, tingkat polusi udara membaik sejak pandemi global COVID-19, tapi ada kekhawatiran angkanya akan kembali memburuk seiring pelonggaran karantina wilayah di berbagai negara.

Salah satu peneliti dalam kajian terbaru Harvard bernama Profesor Francesca Dominici, berharap laporannya mendorong pengambil kebijakan untuk mempertimbangkan faktor polusi udara. ** Baca juga: Rutin Olahraga Pagi Bantu Atasi Insomnia

“Kami berharap kajian ini bisa menyetop kualitas udara ke arah yang lebih buruk, terutama ketika sejumlah negara berencana merelaksasi ketentuan polusi selama pandemi,” katanya.(ilj/bbs)

Berita Terbaru