oleh

Wabah Dancing Plague Membuat Penderitanya Menari Hingga Mati

Kabar6-Jauh sebelum pandemi COVID-19 muncul, ada sebuah wabah yang bisa dikatakan cukup unik. Bagaimana tidak, para penderita akan menari dengan sendirinya tanpa henti hingga mati kelelahan.

Wabah unik itu bernama dancing plague. Wabah ini, melansir Boombastis, pertama kali dialami oleh seorang wanita bernama Troffea, di wilayah Strasbourg, Prancis pada Juli 1518. Ketika semua orang melakukan aktivitas seperti biasa, Troffea tiba-tiba muncul ke publik sambil menari-nari. Padahal, tidak ada lagu yang diputar pada saat itu.

Akhirnya, tarian Troffea menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Strasbourg. Padahal, tarian itu merupakan hal yang tidak pantas dikatakan sebagai hiburan. Pasalnya, Troffea terus saja menari selama berhari-hari tanpa henti.

Hal yang mengerikan, entah mengapa satu per satu orang mulai mengikuti Troffea hingga akhirnya ratusan orang berkumpul sambil menari-nari. Kondisi ini membuat mereka tidak makan dan minum.

Diperkirakan pada saat itu sekira 400-an orang berkumpul sambil menari-nari seperti orang gila. Karena melakukan tarian yang tanpa henti, akhirnya satu per satu penari mulai berguguran.

Kebanyakan dari mereka kehilangan tenaga setelah berhari-hari menari. Tidak sedikit pula yang meninggal dunia akibat fenomena tersebut. Rata-rata korban meninggal dunia karena menderita serangan jantung, stroke, dan juga kelelahan ekstrem.

Para ilmuwan langsung melakukan penelitian melalui serangkaian analisis guna mengetahui penyebab fenomena dancing plague. Sayang, penelitian ini ak membuahkan hasil, karena tak ada jawaban yang benar-benar konkret.

Para peneliti hanya bisa menduga-duga terkait penyebab munculnya fenomena ini. Salah satu hipotesa yang cukup terkenal adalah para penderita mengalami sesuatu yang dinamakan hot blood. Ada juga dugaan lain yang menyebutkan jiwa penderita dancing plague mengonsumsi makanan tertentu sehingga menimbulkan efek yang demikian.

Sementara itu, ada mitos tentang dancing plague yang dikaitkan dengan hal-hal gaib. Salah satu cerita menyebutkan, dancing plague adalah semacam upaya untuk menyembuhkan penyakit. Jadi dengan menari-nari tanpa henti, dipercaya akan menimbulkan efek-efek pengobatan tertentu.

Teori lain tentang fenomena ini menyebutkan jika dancing plague merupakan semacam ritual dari aliran kepercayaan tertentu. Hal itu dikaitkan dengan prosesi tariannya yang dilakukan oleh ratusan orang. Wabah dancing plague ini bisa menyebar hampir ke seluruh negara, misalnya Jerman, Inggris, dan beberapa negara Eropa lainnya.

Seorang ahli sejarah kedokteran di Michigan State University bernama John Waller dalam bukunya yang berjudul ‘A Time to Dance, A Time to Die’ menyebutkan jika fenomena dancing plague berkaitan erat dengan perubahan kehidupan di Strasbourg.

Memang pada saat itu, dunia tengah mengalami serba ketidakpastian lantaran banyaknya peristiwa buruk yang terjadi seperti kegagalan panen, kelaparan, munculnya penyakit cacar, serta berbagai penyakit mematikan lainnya.

Menurutnya, dancing plague ini merupakan salah satu respons otak terhadap kesengsaraan, sugesti, dan kepercayaan. ** Baca juga: Ilmuwan Klaim Ada 7 Planet Terluar yang Layak Huni

“Otak di bawah tekanan berat selalu menghasilkan sensasi dan perilaku tertentu, walaupun di luar kehendak sendiri, memunculkan pemikiran dan keinginan penderita serta masyarakat di sekitar mereka,” terang Waller.

Wabah yang unik sekaligus mengerikan, ya.(ilj/bbs)

Berita Terbaru