oleh

Vaksin Sinovac Miliki Efikasi 65.3 persen Cegah Tidak Tertular

Kabar6-Ajak masyarakat mengenal dan memahami lebih jauh tentang virus corona, Ramsay Sime Darby Health Care Indonesia, Bintaro, Tangerang Selatan, menggelar webinar kesehatan dengan menghadirkan tiga dokter Prof dr Menaldi Rasmin dari RS Premier Jatinegara, Prof DR dr Jusak Nugraha dari RS Premier Surabaya dan DR dr Tubagus Rachmat Sentika dari RS Premier Bintaro yang juga merupakan bagian KOMDA KIPI Banten.

Dalam webinar tersebut Prof dr Menaldi Rasmin menjelaskan definisi tentang klasifikasi diagnosis covid-19. Mulai dari orang yang terkonfirmasi positif dengan hasil pemeriksaan yang akurat, terduga atau orang yang memiliki gejala seperti demam, batuk, kelelahan yang sangat, gangguan saluran pernafasan akut, penurunan nafsu makan dan lainnya.

Lalu ada juga probable. Tahap ini merupakan tahapan yang lebih dekat dengan terkonfirmasi karena biasanya diiringi dengan gejala spesifik seperti gangguan penciuman dan perasa serta kontak erat dengan pasien terkonfirmasi.

Untuk klasifikasi derajat berat penyakit, lanjutnya, tahapannya dimulai dari tanpa gejala, gejala ringan, gejala sedang, berat dan gejala kritikal.

“Bagi pasien yang terkonfirmasi positif dengan gejala sedang, berat dan kritikal harus segera dirawat di rumah sakit,” kata Menaldi, ditulis Minggu (28/2/21).

Dari data yang didapatkan dari RS Persahabatan menunjukkan, 17 persen dari pasien dengan gejala sedang dapat menjadi pasien kritis. Sedangkan pada gejala berat sekitar 30 persen masuk ke dalam kasus kritis. Dan, untuk angka kematian pada kasus kritis sebsar 53 persen.

“Pasien dengan gejala ringan dapat ditangani sungguh-sungguh agar tidak berkembang menjadi gejala sedang, berat serta kritis,” harapnya.

Masih menurut Menaldi, untuk cara pencegahannya dapat dilakukan dengan dua tahap, yakni tahap primer dan sekunder. Tahap primer dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan dan 5M yakni
memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas serta menghindari kerumunan. Untuk pemerintah atau pengelola dapat menerapkan 3T yakni tes, telusur serta terapi.

“Tahap sekunder dapat dilakukan dengan vaksinasi covid, agar tercipta herd immunity secara etis,” jelasnya.

Mengenai asal usul, karakteristik serta jenis virus corona, Prof DR dr Jusak Nugraha mengatakan bahwa virus ini 79.1 persen menyerang manusia dengan rentang 19-59 tahun dan 10.4 persen menyerang diatas usia 60 tahun dengan kasus fatal yang semakin meningkat pada usia lanjut dan pasien dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, jantung serta penyakit kronis lainnya dengan tingkat kematian sebesar 3.4 persen.

Untuk pemeriksaan dapat dilakukan di laboratorium berdasarkan tingkat efektifitasnya. Seperti pemeriksaan BSL3, tes molekuler atau yang dikenal dengan istilah PCR serta melalui diagnosis seperti tes antigen dan tes serologi yakni tes yang mendeteksi SARS-2.

“Untuk pemeriksaan BSL3 sedikit sekali di Indonesia,” paparnya.

Sementara, DR dr Rachmat Sentika dari RS Premiere Bintaro yang juga merupakan bagian dari KOMDA KIPI Banten menjelaskan tentang pola hidup sehat dapat menekan penyebaran covid-19.

“Cegah penyebaran covid19 dengan menerapkan protokol kesehatan, 5M, serta berolahraga rutin, jaga pola makan sehat serta bagi anggota keluarga yang beraktifitas di luar rumah agar segera mandi serta berganti pakaian setibanya di rumah dan sebelum menyentuh anggota keluarga lainnya,” tukas Rachmat.

Selain itu, lakukan vaksin sinovac yang terbukti bermutu dan berkualitas karena memiliki sero konversi pembentukan antibody pada H14 pasca vaksin kedua sebesar 99.7 persen, dan tetap terjaga pada H90 sebesar 99.3 persen.

**Baca juga: 20 Wartawan Kabupaten Tangerang Terima Vaksin Covid-19

Lanjut Rachmat, vaksin ini juga sangat bermanfaat karena memiliki efikasi sebesar 65.3 persen bisa cegah tidak tertular.

“Vaksin ini aman karena KIPI nya kurang dari satu persen dengan gejala ringan seperti kemerahan, nyeri yang akan hilang kurang dari 24 jam,” ujarnya.

Sebagai dokter spesialis anak, DR Rachmat juga menyampaikan kekhawatiran tentang penurunan pelayanan kesehatan akibat dampak dari pandemi.

“Khawatir dengan berkurangnya orang yang memeriksakan kesehatan atau gizi secara rutin, terutama pada anak. Maka kemungkinan besar salah satunya akan dapat meningkatkan angka stunting atau resiko lainnya,” tutupnya.(fit)

Berita Terbaru