oleh

Tidak Terawat, Penghuni Rusunawa Situ Gintung Meradang

Kabar6-Sejumlah warga penghuni Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Situ Gintung di Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), meradang. Mereka mengeluhkan kondisi Rusunawa saat ini semakin kumuh akibat tidak terurus.

Yuni, salah seorang penghuni Rusunawa mengatakan, fasilitas yang ada pada bangunan empat lantai tersebut kini tidak terurus dengan baik. Akibatnya, saluran air tidak berfungsi, serta halaman sekitar gedung dikepung ilalang.

“Disinikan kami nyewa. Kenapa fasilitasnya tidak terawat. Saluran air mampet hingga menimbulkan bau busuk dan memicu nyamuk mudah berkembang biak,” ungkap Yuni, Selasa (26/8/2014).

Lanjut Yuni, kondisi itu diindikasi menjadi penyebab penghuni terkena Chikungunya pada awal tahun ini. “Ada juga warga yang terkena Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga terpaksa dirujuk ke RSUD,” ujarnya.

Mewakili aspirasi warga lainnya, Yuni berharap Pemerintah Kota Tangsel dapat mengambil langkah kongkrit dengan memperhatikan perawatan serta memberikan fasilitas pendukung. “Selain biaya sewa Rusunawa, disini kami juga membayar listrik dan air lho,” ujar Yuni lagi.

Diketahui, Rusunawa berlantai empat tersebut sebelumnya diperuntukkan bagi korban Situ Gintung. Namun karena tidak digunakan, bangunan itu kemudian disewakan sebagai Rusunawa.

Harga sewa Rusunawa berfariasi. Mulai dari Rp 250.000 perbulan untuk lantai pertama, Rp 240.000 perbulan untuk lantai dua, Rp 220.000 perbulan untuk lantai tiga, serta Rp 200.000 perbulan untuk lantai empat. Harga itu belum termasuk biaya listrik dan air. Kini, dari total 74 unit yang ada, sebanyak 48 unit tersewa.

Sementara, Pengurus Rusunawa, Rohayah mengatakan, meski dibuka untuk umum, namun tidak banyak warga yang datang untuk menyewanya. “Saya tidak berwenang untuk menjelaskan secara detail, karna disini hanya sebagai administratif saja,” terangnya. **Baca juga: Renovasi Cluster di Alam Sutra Renggut 3 Nyawa.

Hal itu tentu sangat memprihatinkan. Pasalnya, pembangunan gedung empat lantai yang dilakukan pada tahun 2010 lalu itu, sudah menghabiskan dana pemerintah pusat hingga sebesar Rp 9,7 miliar.(way)

Berita Terbaru