oleh

The Sisters of the Valley, ‘Suster’ di California yang Jalankan Bisnis Ganja untuk Medis

Kabar6-The Sisters of the Valley adalah sekelompok perempuan dengan ciri khas yaitu mengenakan pakaian hitam dan putih serta kerudung, yang menjadi ciri khas biarawati Katolik. Meskipun terlihat mirip, mereka bukanlah biarawati Katolik.

Kelompok The Sisters of the Valley ini, melansir Dailymail, bisa ditemukan di utara California, Amerika Serikat. Mereka menanam ganja, anggur, dan apel. Ya, para anggota The Sisters of the Valley memanfaatkan kandungan cannabidiol (CBS) yang ada dalam ganja untuk kepentingan medis.

“Mereka menganggapnya rami (istilah umum yang digunakan untuk varietas tanaman ganja dan produk-produknya yang melibuti serat, minyak, dan biji -red) karena tidak akan membuat penggunanya teler, tetapi ini adalah ganja,” terang Christine Meeusen yang memiliki nama panggilan Suster Kate, pemimpin The Sisters of the Valley.

The Sisters of the Valley, dijelaskan Suster Kate, yakin bahwa khasiat dari ganja ini bisa digunakan untuk pengobatan. Selain itu, kelompok ini pun mengaku bisa mengembangkan cairan dari ganja yang tidak akan membuat orang teler.

Ganja menurut mereka bisa dijadikan obat untuk berbagai macam penyakit, mulai dari penyakit asma, radang sendi, bahkan gangguan kecemasan. Produk dari The Sisters of the Valley ini bisa menghasilkan uang hingga sekira Rp42 juta per hari. Bahkan tahun lalu, mereka berhasil meraup keuntungan hingga Rp105 miliar.

Pelanggan tetap dari The Sisters of the Valley banyak berasal dari Kanada, Australia, dan AS. Namun banyak yang mengira, semua anggota The Sisters of the Valley adalah perempuan. Padahal seperti diterangkan Suster Kate, The Sisters of the Valley tidak eksklusif dan mereka membutuhkan laki-laki.

“Kami hanya ingin perempuan yang mengelola bisnis ini,” kata Suster Kate.

Diketahui, Suster Kate adalah ibu dan anak dan mantan konsultan pemasaran Perempuan itu memutuskan untuk menata kembali hidup setelah pernikahannya kandas. Diungkapkan Suster Kate, bisnis ganja ini mulai berkembang sejak pergerakan Occupy Wall Street yang terjadi pada 2011 silam. Sejak saat itu, beberapa orang mulai memiliki keinginan untuk tinggal di sebuah lingkungan dan menjalankan ‘sosialisme sehat’.

Suster Kate mengakui, bisnis yang dilakukan The Sisters of the Valley ini kontroversial. Mereka pun tak jarang mendapatkan telepon ancaman. Meski demikian, The Sisters of the Valley tetap mendapatkan dukungan.

“Pihak Katolik mulai mengerti apa yang kami lakukan,” tegas Suster Kate. ** Baca juga: Penampakan Ikan Raksasa Seberat 2.000 Kg Hebohkan Warga di Teluk Wareham

Menurut Suster Kate, pihak Katolik mulai mengerti sejak melihat The Sisters of the Valley mampu menangani pasien dengan penyakit kanker.

Tidak hanya berurusan dengan pihak keagamaan, The Sisters of the Valley juga harus berurusan dengan hukum, mengingat ganja di California masih dilarang di level pusat.(ilj/bbs)

Berita Terbaru