oleh

Tekuni Bisnis Konveksi, Mantan Guru Honor di Legok Raup Cuan Ratusan Juta Perbulan

Kabar6- Meski dihantam pandemi Covid-19 selama tiga tahun terakhir, bisnis konveksi rumahan milik Ahmad Tartusi, warga Desa Kemuning, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, masih kokoh dan tetap on fire.

Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang pembuatan seragam, bordir dan sablon ini nampaknya tak terpengaruh dengan kondisi krisis yang tengah mengancam dunia usaha di tanah air.

Pasalnya, saat pengusaha lain ramai- ramai gulung tikar akibat tak mampu menghadapi terjangan Covid-19, mantan guru honorer di SDN Dirgantara yang berlokasi di kawasan STPI Curug ini justru kian moncer dengan meraup cuan hingga ratusan juta perbulan.

“Alhamdulillah, selama berlangsungnya pandemi ini kita masih bisa bertahan. Dua tahun lalu usaha kami memang agak terseok- seok karena minimnya orderan. Tapi sekarang kelihatannya sudah mulai stabil, omzet kotor perbulan bisa mencapai sekitar Rp400 jutaan,” ungkap Adhoy, sapaan karib pemilik CV Dokter Sablon, kepada Kabar6.com, Kamis (07/07/2022).

Adhoy menuturkan, ia mengaku bersyukur usaha yang digelutinya sejak tahun 2010 dengan modal awal hanya Rp500 ribuan tersebut bisa mendapat kepercayaan dari berbagai kalangan.

Tak tanggung- tanggung, hasil karyanya tersebut banyak diminati hampir semua kalangan, mulai dari pejabat daerah hingga perusahan swasta terkemuka yang ada di daerah Banten dan Tangerang Raya.

Alhasil, setiap bulan orderan yang datang dari para pelanggannya membanjiri lapaknya yang terletak di Jalan Raya Curug Nomor 93, Desa Kemuning, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang.

“Awalnya saya jadi marketing sablon di kawasan Cipondoh dengan modal semangat. Kemudian, saya coba buka usaha sendiri pada tahun 2010, dengan modal awal cuma Rp500 ribuan. Waktu itu saya masih ingat orderan pertama saya dapat dari Untirta Serang sebanyak 50 pcs, lalu berkembang ke pemerintahan, perusahaan swasta, partai politik, ormas dan lainnya,” katanya.

Dijelaskannya, usaha yang di kelola bersama dengan keluarganya tersebut telah mampu mempekerjakan hingga 32 orang karyawan.

**Baca juga: Dana BOS Disorot, Pejabat SMAN 18 Kabupaten Tangerang sudah Dirombak

Tak hanya itu, ia juga terus mengembangkan usahanya dengan membeli tiga mesin penunjang, yakni mesin sublime, sablon DTF dan bordir komputer.

“Sejak SMA saya memang sudah menekuni desain grafis dan ilmu ini saya dapatkan di pondok pesantren La Tansa Jasinga Bogor. Saya punya cita- cita pengen buka lapangan kerja dan ingin mempekerjakan teman- teman yang nganggur di daerah ini. Saya sih berharap para pemuda bisa mengikuti jejak saya dan menjadikan bisnis itu hobi,” ujarnya.(Tim K6)