oleh

Teknik ‘Edit Gen’ Pertama di Dunia Hasilkan Kadal Albino

Kabar6-Tidak hanya tulisan yang bisa diedit, hewan pun ternyata bisa melalui proses pengeditan. Ya, sebuah proses penyuntingan gen berhasil melahirkan seekor reptil jenis kadal albino.

Para peneliti menggunakan CRISPR-Cas9 pada kadal, yaitu teknik mengedit gen di luar model hewan utama. Pada studi yang diterbitkan dalam jurnal Cell Reports, melansir Dailymail, peneliti menunjukkan bahwa kadal dapat berhasil melewati alel yang diedit gennya untuk albinisme ke keturunan mereka. Alel adalah gen yang memiliki lokus (posisi pada kromosom) yang sama, tetapi memiliki sifat bervariasi yang disebabkan mutasi pada gen asli.

“Untuk beberapa waktu kami bergulat dengan bagaimana memodifikasi genom reptil dan memanipulasi gen dalam reptil, tapi kami terjebak dalam mode bagaimana pengeditan gen dilakukan dalam sistem model utama,” kata profesor Universitas Georgia, Doug Menke.

Cara penyuntingan gen dilakukan dalam kebanyakan sistem model, dengan menyuntik reagen penyuntingan gen CRISPR-Cas9 ke dalam telur yang baru dibuahi atau zigot sel tunggal. Namun teknik ini, dikatakan Menke, tidak dapat digunakan dalam reptil karena kadal memiliki fertilisasi internal dan waktu fertilisasi tidak dapat diprediksi.

Embrio sel tunggal yang terisolasi dari kadal betina juga tidak dapat dengan mudah ditransfer, sehingga hampir tidak mungkin untuk memanipulasi di luar kadal. Menke dan tim memperhatikan bahwa selaput transparan di atas ovarium memungkinkan untuk melihat semua telur yang sedang berkembang, termasuk yang akan diovulasi dan dibuahi selanjutnya.

“Kami ingin menjelajahi kadal anole untuk mempelajari evolusi regulasi gen, karena mereka telah mengalami serangkaian peristiwa spesiasi di pulau-pulau Karibia, sama seperti kutilang Darwin di Galapagos,” jelas Menke.

Peneliti memutuskan untuk menyuntikkan reagen CRISPR ke telur yang tidak dibuahi dalam indung telur, dan melihat apakah CRISPR masih akan bekerja. Ini menunjukkan bahwa komponen CRISPR tetap aktif selama beberapa hari, atau bahkan berminggu-minggu, di dalam telur yang tidak dibuahi.

Setelah menyaring keturunan, para peneliti menemukan bahwa sekira 6-9 persen dari oosit, tergantung pada ukurannya, menghasilkan keturunan dengan peristiwa penyuntingan gen. Oosit adalah sel dalam ovarium yang mengalami meiosis untuk membentuk ovum.

Tim Menke harus menunggu tiga bulan sampai kadal menetas, jadi ini seperti penyuntingan gen gerak lambat. Ternyata ketika melakukan prosedur itu, sekira setengah dari kadal mutan yang dihasilkan memiliki pengeditan gen pada alel ibu dan alel ayah.

Menke mengatakan, timnya memiliki dua alasan untuk membuat kadal albino, bukan untuk mengedit sifat-sifat lain. Pertama, ketika gen albinisme tyrosinase tersingkir, itu menghasilkan hilangnya pigmentasi tanpa mematikan hewan.

Kedua, karena manusia dengan albinisme sering memiliki masalah penglihatan, peneliti berharap menggunakan kadal sebagai model untuk mempelajari bagaimana hilangnya gen ini berdampak pada perkembangan retina.

“Relatif terhadap sistem model yang sangat mapan yang memiliki efisiensi hingga 80 persen atau lebih tinggi, enam persen tampaknya rendah, tapi tidak ada yang mampu melakukan manipulasi semacam ini di reptil sebelumnya,” kata Menke. ** Baca juga: Lokasi Ekstrem, Gereja Ini Berada di Batu Monolit Setinggi Lebih dari 40 Meter

Ditambahkan, “Tidak ada komunitas besar ahli genetika perkembangan yang mempelajari reptil, jadi kami berharap dapat memanfaatkan biologi fungsional menarik yang belum dijelajahi.”(ilj/bbs)

Berita Terbaru