1

Polisi Rusia Ringkus Pengedar Narkoba Saat Gendong ‘Lumba-lumba Mati’

Kabar6-Pihak berwajib di Rusia menangkap seorang pengedar narkoba berusia 40 tahun yang disembunyikan identitasnya, setelah tersangka terlihat dalam rekaman CCTV tengah santai menggendong ‘lumba-lumba mati’ di sekitar resor Sochi, Laut Hitam.

Dalam video yang beredar di media sosial tadi, melansir RT, tampak seorang pria membawa ‘hasil tangkapannya’ ke dalam apartemen, dan setelah polisi setempat memeriksa rekaman tersebut, mereka mengidentifikasi pria dalam video sebagai buronan dari wilayah Moskow yang sedang dicari atas tuduhan penyelundupan narkoba.

Polisi menggambarkan hewan yang digendong sebagai ‘lumba-lumba mati’, meskipun rekaman menunjukkan itu sebenarnya adalah spesies paus kecil yang lebih berkerabat dengan ikan paus beluga dan narwhal ketimbang lumba-lumba.

“Hewan itu sudah mati ketika tersangka menemukannya di pantai,” ungkap polisi.

Polisi meringkus tersangka di kediamannya di kota tepi pantai Adler, selatan Sochi, dan akan segera diserahkan kepada pihak berwenang wilayah Moskow untuk menghadapi tuduhan penyelundupan narkoba dalam jumlah yang sangat besar.

Jika terbukti bersalah, tersangka bakal menghadapi hukuman antara 15 dan 20 tahun penjara.(ilj/bbs)




Dikira Lelucon, Sinterklas Dobrak Rumah Pengedar Narkoba di Peru Ternyata Polisi yang Menyamar

Kabar6-Jika biasanya Sinterklas datang ke rumah-rumah untuk memberikan aneka hadiah, kali ini kehadiran mereka justru untuk memberantas kejahatan. Bagaimana bisa?

Seorang Sinterklas dan sekelompok elf pembantunya, melansir npr, mendobrak pintu sebuah rumah di Lima, Peru, untuk meringkus pengedar narkoba. Siapakah mereka? Usut punya usut, Sinterklas dan rekan-rekannya itu ternyata adalah polisi yang sedang menyamar. Mereka langsung memborgol dan menyita ‘barang dagangan’ komplotan pengedar narkoba tadi.

Dijelaskan polisi bernama David Villanueva, tim polisi yang menyamar tersebut memasuki lingkungan rawan di Lima, ibu kota Peru, disebut Surquillo.

“Ini menjelang Natal, Santa di jalan tidak menarik banyak perhatian, dan kami menggunakannya sebagai keuntungan kami dalam operasi ini,” kata Villanueva.

Menurut laporan, kelompok itu berjalan dengan polos di jalan, lalu tiba-tiba berhenti di sebuah rumah. Salah satu pembantu Sinterklas mengeluarkan palu besar, mendobrak pintu depan, dan kelompok itu memaksa masuk.

Bukannya menyapa para penghuni khas Sinterklas, tim polisi tadi berteriak agar orang-orang yang berada dalam rumah berdiam diri dan berbaring di lantai. Para tersangka, terdiri dari tiga pria dan seorang wanita, awalnya mengira itu lelucon.

Tim polisi menyita 6.000 paket kecil pasta kokain, 104 bubuk kokain, dan 279 mariyuana. Disebutkan, satu kilogram pasta kokain dijual seharga sekira Rp5,92 juta di Peru, dan satu kilogram bubuk bentuk paling murni seharga sekira Rp15,58 juta.

Diketahui, bersama Kolombia dan Bolivia, Peru adalah salah satu produsen kokain terbesar di dunia.(ilj/bbs)




Pria di Kolombia 3 Kali Jadi Korban Salah Tangkap Karena Punya Nama yang Sama dengan Raja Narkoba

Kabar6-Dalam rentang 13 tahun terakhir, seorang pria asal Kolombia bernama René Martínez Gutiérrez (46) sudah dijebloskan ke penjara sebanyak tiga kali, hanya gara-gara memiliki nama yang sama dengan pemimpin kartel narkoba buronan polisi.

Gutiérrez adalah pria dari keluarga baik-baik tanpa catatan kriminal. Masalahnya, Gutiérrez memiliki nama yang sama dengan pengedar narkoba Peru, di mana terdapat beberapa surat perintah penangkapan nasional dan internasional.

Pria ini, melansir Odditycentral, pertama kali bermasalah dengan hukum karena kesamaan nama adalah pada 2010, ketika dia pergi ke kantor polisi setempat di Bogota untuk meminta catatan yudisial dengan tujuan membuka bisnis sendiri. Saat memeriksa catatannya, polisi menemukan bahwa René Martínez Gutiérrez memiliki surat perintah penangkapan internasional yang dikeluarkan oleh Peru, sehingga dia salah ditahan selama delapan hari.

Meskipun akhirnya dibebaskan, Gutiérrez tidak bisa melupakan insiden tersebut hingga ia pun pergi ke Kedutaan Besar Peru, Mahkamah Agung, dan Interpol. Namun tidak satu pun dari entitas ini yang memiliki penjelasan nyata atas apa yang telah terjadi. Semua entitas tersebut mengklaim bahwa penangkapannya disebabkan oleh kesamaan namanya yang tidak menguntungkan tersebut.

Hanya setahun setelah penangkapan pertamanya, Gutiérrez kembali dipanggil ke kantor polisi Bogota sebagai saksi, setelah tempat kerjanya dirampok. Gutiérrez seharusnya hanya memberikan pernyataan tentang apa yang telah terjadi, tetapi ketika polisi memeriksa namanya di database, mereka sekali lagi mengira pria itu adalah raja obat bius Peru yang dicari.

Kali ini, Gutiérrez menghabiskan dua bulan dengan penjahat kawakan di penjara La Picota yang terkenal di Kolombia, sampai pihak berwenang Peru akhirnya memastikan bahwa dia bukanlah orang yang mereka cari.

Setelah kejadian ini, Gutiérrez memutuskan bahwa cara terbaik untuk menghindari berakhirnya di penjara di masa depan adalah beremigrasi ke Amerika Serikat (AS). Bersama keluarganya, Gutiérrez pindah ke AS pada 2012.

Pada awal 2023, René mengetahui bahwa ayahnya yang sudah tua sedang sakit, jadi dia memutuskan terbang pulang ke Kolombia, dengan mengetahui sepenuhnya risiko yang bakal dihadapi. ** Baca juga: Istri ‘Gila Harta’ Sebabkan Pria Honduras Ini Nekat Palsukan Kematiannya

Saat mendarat di Bogota, agen interpol naik ke pesawat dan meminta ID milik Gutiérrez. Setelah memastikan namanya, Gutiérrez akhirnya dipindahkan ke kantor polisi Los Martires tempat dia ditahan sejak saat itu.

Kejadian ini semakin menyedihkan karena sang ayah meninggal dunia, hingga Gutiérrez tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Sekali lagi Gutiérrez dan keluarganya menunggu otoritas Peru merumuskan permintaan ekstradisi, dan sekali lagi memastikan bahwa dia bukanlah pria yang mereka inginkan.

Kini kisah Gutiérrez didokumentasikan dengan baik, karena dia menjadi berita utama nasional di Kolombia setiap kali ditangkap.(ilj/bbs)