1

Memahami Protes Anak Muda di Amerika Soal Konflik Palestina-Israel, Kenapa Beda dengan Anak Muda Indonesia?

Kabar6-Munculnya kesadaran global dan solidaritas terhadap isu-isu hak asasi manusia dan keadilan sosial semakin meningkat di kalangan anak muda. itu alasan kenapa Protes Mahasiswa di Amerika Begitu Masif. Bagaimana dengan anak muda di Indonesia?

Solidaritas mahasiswa Amerika terhadap Palestina sangat mengejutkan banyak pihak. Aksi mereka dalam bentuk protes dan mendirikan tenda meminta dihentikan Genosida Israel terhadap Gaza dan Palestinian tersebut disikapi dengan tindakan represif polisi AS.

Tercatat lebih dari 100 Universitas yang tersebar dari Pantai timur sampai Barat negara bagian AS melakukan aksi penghentian Perang oleh Israel terhadap masyarakat Palestian khususnya Gaza

Koalisi yang melibatkan lebih dari 100 lembaga pendidikan itu, termasuk perguruan tinggi umum, swasta, berbasis agama, dan kolese bersejarah kulit hitam, telah terbentuk untuk mengatasi situasi antara Israel dan Gaza.

Universitas-universitas ternama seperti Harvard, Columbia, NYU, dan Yale termasuk di antara yang mengadakan demonstrasi dan pendirian kamp-kamp signifikan.

Protes tersebut seringkali melibatkan tuntutan agar universitas-universitas tersebut melepaskan investasi dari perusahaan-perusahaan yang dianggap mendapat keuntungan dari aksi-aksi Israel di Gaza, serta menuntut transparansi finansial lebih mengenai investasi universitas.

Di Columbia, misalnya, koalisi yang dipimpin mahasiswa, Columbia University Apartheid Divest (CUAD), bersama kelompok-kelompok seperti Students for Justice in Palestine dan Jewish Voice for Peace, sangat aktif dalam menyerukan gencatan senjata dan pemutusan investasi dari kolaborasi dengan Israel.

Respon terhadap protes ini bervariasi, dengan beberapa kejadian tindakan administratif terhadap mahasiswa dan staf yang berprotes, mencerminkan suasana tegang dan kontroversi di kampus.

Pertanyaan yang harus terjawab kenapa Mahasiswa AS terlibat aktif dalam protes tersebut? Kenapa hal tersebut tidak terjadi dengan mahasiswa Indonesia?

Keterlibatan anak muda, khususnya mahasiswa Amerika Serikat, dalam gerakan menentang apa yang mereka lihat sebagai genosida oleh Israel terhadap Palestina, dapat dijelaskan melalui beberapa faktor sosial, politik, dan teknologi. Analisis ini mencoba menggali lebih dalam tentang faktor-faktor tersebut.

Pertama, kehadiran dan pengaruh sosial media yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari generasi muda tidak bisa diabaikan.

Sosial media telah mengubah cara informasi disebarkan dan diproses, memberikan platform bagi suara-suara yang sebelumnya tidak terdengar atau marginal.

Generasi muda, yang sering disebut sebagai “digital natives,” cenderung menggunakan sosial media tidak hanya untuk bersosialisasi tetapi juga sebagai sumber berita utama.

Ini memungkinkan mereka untuk mengakses berbagai perspektif dan narasi yang tidak selalu diwakili dalam media mainstream.

Kedua, terdapat kekecewaan yang berkembang di kalangan anak muda terhadap apa yang mereka anggap sebagai kegagalan institusi politik tradisional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam mengatasi atau menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Penggunaan veto berulang kali oleh Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB terhadap resolusi yang bertujuan untuk mengatasi atau menghentikan konflik ini telah menimbulkan rasa ketidakpuasan dan meningkatkan keinginan untuk mencari solusi di luar lembaga-lembaga tersebut.

Ketiga, kesadaran global dan solidaritas terhadap isu-isu hak asasi manusia dan keadilan sosial semakin meningkat di kalangan anak muda.

Banyak dari mereka yang terlibat dalam gerakan ini melihat persamaan antara perjuangan di Palestina dan perjuangan lain di seluruh dunia, seperti gerakan anti-apartheid dan perjuangan hak sipil.

**Baca Juga: Suka Buat Narasi Mengadu Domba, Partai Gelora Tolak PKS Gabung Koalisi Indonesia Maju

Dengan demikian, dukungan mereka untuk Palestina adalah bagian dari pandangan yang lebih luas tentang keadilan global dan anti-imperialisme.

Keempat, pendidikan dan kurikulum universitas yang semakin fokus pada studi global dan interkultural juga memainkan peran.

Program-program universitas yang menawarkan kursus tentang studi Timur Tengah, konflik internasional, dan hak asasi manusia memberikan wawasan mendalam dan seringkali kritis tentang situasi di Palestina, mempengaruhi sikap dan pandangan mahasiswa.

Kelima, identitas pribadi dan pengalaman banyak mahasiswa yang terlibat dalam gerakan ini juga mempengaruhi partisipasi mereka.

Mahasiswa dari latar belakang minoritas atau yang memiliki sejarah keluarga yang terkait dengan penindasan dan kolonialisme mungkin merasakan koneksi pribadi yang kuat dengan perjuangan rakyat Palestina.

Kesimpulannya, kombinasi dari akses informasi yang luas melalui sosial media, kekecewaan terhadap institusi politik tradisional, peningkatan kesadaran global terhadap isu keadilan, pendidikan universitas yang inklusif dan kritis, serta pengalaman pribadi yang beragam, semuanya berkontribusi terhadap tingginya tingkat keterlibatan mahasiswa Amerika dalam gerakan ini.

Gerakan ini menandai pergeseran signifikan dalam cara generasi muda terlibat dalam politik global, memprioritaskan solidaritas lintas batas dan tindakan kolektif dalam menghadapi ketidakadilan global.

Peristiwa aksi protes mahasiswa AS tersebut telah memicu diskusi dan aktivisme lebih lanjut mengenai konteks politik yang lebih luas dari konflik Israel-Palestina, menunjukkan interseksi yang kompleks dari isu-isu akademik, sosial, dan politik di kampus perguruan tinggi.

Kenapa Gerakan Anak Muda Indonesia Belum Masif Soal Palestina dan Keadilan Sosial ?

Ketidakhadiran gerakan protes serupa di Indonesia, khususnya yang terkait dengan isu Palestina-Israel, dapat dipahami melalui beberapa faktor struktural dan sosio-politik yang mempengaruhi gerakan paska Pilpres 2024.

Salah satu faktor utama adalah pengaruh yang kuat dari penguasa dan senior dalam menentukan agenda gerakan mahasiswa, seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), dan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Seluruh Indonesia.

Mahasiswa di Indonesia sering kali berada di bawah pengaruh kuat dari tokoh-tokoh senior dan elit politik yang cenderung mengarahkan fokus aktivisme mereka ke arah yang lebih menguntungkan secara politik daripada murni berdasarkan kesadaran sosial atau keadilan.

Hal ini sering mengakibatkan agenda gerakan mahasiswa yang lebih berorientasi pada kepentingan politik domestik ketimbang isu global seperti yang terjadi di Palestina.

Struktur kepemimpinan dalam banyak organisasi mahasiswa tersebut seringkali bersifat hierarkis, di mana keputusan dan arah gerakan banyak ditentukan oleh senior atau alumni yang telah memiliki posisi dan pengaruh dalam struktur kekuasaan politik.

Pengaruh ini bisa membentuk prioritas gerakan yang lebih fokus pada isu-isu politik internal atau yang memiliki relevansi langsung dengan kepentingan politik atau karir mereka di masa depan, daripada mendorong agenda kesadaran global yang membutuhkan komitmen dan kesadaran yang lebih luas terhadap keadilan sosial dan hak asasi manusia internasional.

Selain itu, kontrol yang ketat dari pemerintah terhadap aktivitas politik dan demonstrasi di ruang publik juga menambah tantangan bagi mahasiswa untuk menyelenggarakan gerakan besar-besaran yang mungkin dipandang sebagai kritik terhadap sekutu politik luar negeri, seperti Israel.

Oleh karena itu, penting bagi gerakan mahasiswa di Indonesia untuk mengembangkan independensi dalam merumuskan agenda dan kegiatan mereka, bebas dari pengaruh eksternal yang mungkin mengarahkan fokus mereka hanya pada aspek-aspek tertentu dari politik dan kekuasaan.

Sebuah gerakan yang berakar pada kesadaran sendiri dan mendorong partisipasi aktif dalam isu global seperti keadilan untuk Palestina dapat menjadi langkah penting dalam mengembangkan kapasitas gerakan mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dan keadilan global.

Semoga, kesadaran ini dapat memotivasi gerakan anak muda di Indonesia untuk berpikir secara global dalam memperjuangkan keadilan dan menentang segala bentuk penindasan, sekaligus mengevaluasi dan menantang struktur kekuasaan yang ada yang sering menghambat ekspresi politik mereka.

Ini juga merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengambil inisiatif dalam merumuskan respons mereka sendiri terhadap isu-isu global, sambil belajar dari contoh aktivisme mahasiswa di negara lain. (Achmad Nur Hidayat MPP, (Pakar Kebijakan Publik dan Mantan Ketua BEM UI 2003-2004)




Penelitian di Swiss Ungkap Sejak 2.000 Tahun Lalu Penyakit Kelamin Sifilis Sudah Ada di Amerika

Kabar6-Tim ilmuwan dari Universitas Zürich, Swiss, menemukan bahwa penyakit kelamin sifilis telah ada di Amerika Selatan setidaknya 2.000 tahun yang lalu.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada Januari 2024 lalu, melansir Smithsonianmag, menganalisis genom bakteri Treponema pallidum, penyebab sifilis, dari sisa-sisa manusia prasejarah yang ditemukan di Gua Lapa do Santo, Brasil. Genom T. pallidum dari sisa-sisa manusia prasejarah ini dianalisis menggunakan teknik DNA purba.

Hasil analisis menunjukkan, strain T. pallidum yang ditemukan di Gua Lapa do Santo sangat mirip dengan strain T. pallidum yang menyebabkan sifilis di Amerika Selatan saat ini. Ini menunjukkan bahwa sifilis telah ada di Amerika Selatan selama ribuan tahun dan telah berevolusi secara bertahap selama waktu itu.

Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang sejarah sifilis. Sebelumnya, para ilmuwan percaya bahwa sifilis berasal dari Eropa dan dibawa ke Amerika oleh para penjajah Spanyol dan Portugis pada abad ke-16.

Kesimpulan yang didapat dalam penelitian ini adalah sifilis telah ada di Amerika Selatan setidaknya 2.000 tahun yang lalu. Strain T. pallidum yang menyebabkan sifilis di Amerika Selatan saat ini telah berevolusi secara bertahap selama ribuan tahun.

Sifilis dapat menyebar secara alami di Amerika Selatan, tanpa perlu adanya kontak dengan orang Eropa. Penemuan ini merupakan kemajuan penting dalam pemahaman kita tentang sejarah dan penyebaran sifilis.

Hal ini dapat membantu para ilmuwan untuk mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mencegah penyebaran sifilis.(ilj/bbs)




Dinilai Sembrono dan Tidak Ilmiah, Ilmuwan Kecam Fosil Manusia Purba Diterbangkan ke Luar Angkasa

Kabar6-Perusahaan penerbangan luar angkasa Amerika, Virgin Galactic, menuai kecaman terutama dari kalangan ilmuwan, karena membawa sisa-sisa dua hominin yang telah punah ke luar angkasa.

Diketahui, Witwatersrand University di Johannesburg, Afrika Selatan (Afsel), adalah penjaga fosil tersebut, dan sebagian peneliti merayakan peristiwa tersebut sebagai ‘hal pertama dalam sejarah’ dan ‘penghargaan tinggi terhadap sains dan penemuan’.

Namun, melansir Sciencealert, banyak pakar yang mengecam perjalanan luar angkasa tersebut sebagai tindakan publisitas yang sembrono dan tidak memiliki nilai ilmiah. Pada 8 September 2023, miliarder kelahiran Afrika Selatan, Timothy Nash, memasukkan botol serat karbon ke saku celana kargonya sebelum menaiki pesawat bertenaga roket Virgin Galactic, VSS Unity, menuju ruang suborbital.

Di dalam wadah itu terdapat tulang selangka berusia 2 juta tahun, dari hominin yang dikenal sebagai Australopithecus sediba, dan tulang ibu jari berusia 300 ribu tahun dari hominin Homo naledi. Mereka akan pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi oleh jenis mereka sebelumnya.

“Fosil-fosil ini mewakili individu-individu yang hidup dan mati ratusan ribu tahun yang lalu, namun merupakan individu-individu yang mungkin menatap bintang-bintang dengan takjub, sama seperti kita,” kata Matthew Berger, yang menemukan sisa-sisa A. sebida, dan yang menyerahkan tulang-tulang itu kepada Nash dalam sebuah upacara sebelum penerbangan.

Natalie Kendrick, seorang Arkeolog Heritage Officer di Heritage Western Cape, menjelaskan bahwa satu-satunya alasan sisa-sisa ini diizinkan dibawa ke luar angkasa adalah karena mereka tidak dianggap ‘manusia’ tetapi bersifat paleontologis.

Artinya, kode etik yang mengharuskan jenazah manusia diperlakukan dengan bermartabat tidak berlaku untuk tulang-tulang tersebut, meskipun A. sebida merupakan calon nenek moyang manusia dan para arkeolog di Wits University berpendapat agak kontroversial bahwa H. naledi menguburkan orang yang mereka cintai.

Disebutkan, sifat ‘pencari dan penjaga’ di lapangan berarti bahwa mereka yang menemukan fosil, baik individu, lembaga, atau pemerintah, pada akhirnya dapat memutuskan apa yang akan terjadi pada fosil tersebut.(ilj/bbs)




Anis Matta: Indonesia Tempuh Jalan Beda dengan Amerika untuk Jadi Superpower

Kabar6-Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menegaskan, pilar penyangga sebuah negara untuk menjadi negara superpower baru adalah kekuatan ekonomi, militer, teknologi, politik dan budaya.

“Untuk menjadi superpower baru itu kita harus mencari sumber keunggulan kita sendiri,” kata Anis Matta dalam keterangan, Selasa (15/8/2023).

Hal itu disampaikan Anis Matta dalam program ‘Anis Matta Menjawab’ Episode #9 dengan tema ‘Kapan Indonesia Menjadi Superpower Baru? yang tayang di kanal YouTube Gelora TV, Senin (14/08/2023) malam.

Menurut Anis Matta, sumber kekuatan Indonesia untuk menjadi negara superpower baru adalah kekuatan budayanya. Karena jika bicara kekuatan ekonomi, militer, teknologi dan politik, Indonesia kalah dari Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia dan China.

“Dari lima kekuatan utama untuk menjadi superpower baru, budaya sebenarnya kekuatan utama Indonesia yang paling besar. Kalau kekuatan ekonomi, militer, teknologi dan politik, kita kalah dari negara superpower lain,” ujarnya.

Dengan kekuatan budaya tersebut, kata Anis Matta, akan menciptakan revolusi kebudayaan, teknologi, militer, ekonomi dan politik. Sebab, budaya yang menentukan peradaban suatu bangsa, karena memiliki kekuatan ideologi dan narasi.

“Jadi kekuatan superpower itu, adalah terletak pada ideologi dan narasinya. Ideologi dan narasi itu kekuatan utamanya, dan kenapa Gelora selalu memulai dari situ, karena budaya akan menciptakan revolusi kebudayaan dan revolusi-revolusi lainnya,” katanya.

Anis Matta menilai, kekuatan Amerika dan Eropa sebagai negara superpower saat ini mulai melemah, meskipun semua kemakmuran dari kekuatan ekonomi, militer dan teknologi telah mereka miliki.

**Baca Juga: Pemilu Depan Mata, Sekjen Partai Gelora Indonesia Instruksikan Pengurus Turun ke Akar Rumput

“Tetapi sekarang kekuatannya mulai melemah, karena pengaruh budayanya semakin berkurang. Makanya ketika bicara demokrasi ke orang-orang China, dikatakan balik sama China, jangan ajarin kami soal demokrasi, kami lebih mengerti,” katanya.

Karena itu, konflik geopolitik antara Amerika dan Uni Eropa melawan Rusia dan China sekarang akan menjadi konflik yang panjang dan melelahkan. Tidak akan ada pemenangnya, dan dua-duanya akan mengalami kelelahan.

“Tetapi dengan perang ini, bisa jadi akan muncul kekuatan baru, atau hilangnya suatu peradaban seperti peradaban Persia dan Romawi. Dari konflik inilah, peluang kita menjadi superpower baru. Indonesia bisa menggunakan kekuatan budayanya,” ungkap Anis Matta

Ketua Umum Partai Gelora ini menambahkan, jalan yang ditempuh Indonesia untuk menjadi superpower baru, berbeda dengan Amerika, Uni Eropa, Rusia atau China.

Indonesia juga tidak akan mengulangi sejarah Islam dalam menciptakan peradaban baru dengan mengalahkan Persia dan Romawi.

“Kita akan punya jalan sendiri, hanya saja tidak ada jarak yang bisa kita ukur secara linear, karena perjalanannya tidak bisa dilihat. Tapi faktor yang menentukan adalah bagaimana output dari konflik antar adidaya ini, serta Indonesia akan tumbuh dengan sendirinya secara sistematis, karena kekuatan narasi dan kekuatan ideologinya yang bersumber dari kekuatan budaya,” pungkasnya.(Tim K6)




Disebut Bukti Penjelajah Waktu, Lukisan 1937 Gambarkan Orang Asli Amerika Seperti Sedang Melihat Handphone

Kabar6-Sebuah lukisan tua dari masa 1937 berjudul ‘Mr. Pynchon and the Settling of Springfield’ disebut-sebut sebagai bukti adanya perjalanan waktu (penjelajah waktu).

Lukisan tersebut menggambarkan penjajah dan pendiri Kota Springfield, di Negara Bagian Massachusetts, Amerika Serikat (AS), William Pynchon, saat kota tersebut sedang dibangun. ** Baca juga: Ilmuwan Swiss Ciptakan Terobosan Evolusi, Ubah Kaki Ayam Bersisik Jadi Berbulu

Salah satu objek yang disorot dalam lukisan ini, melansir Mirror, adalah seorang penduduk asli Amerika yang tampak sedang memegang gawai (handphone), dan memandang gawai tersebut dengan tercengang. Beberapa komentar di media sosial mengatakan, tokoh tersebut tampak seakan-akan kaget setelah membaca sebuah cuitan terbaru.

Pada media sosial Reddit, salah satu penggunanya berkomentar, “Lihat saja wajah pria itu, ia tampak tercengang setelah unggahan pertamanya membuat orang tidak suka.”

Sebaliknya, beberapa pengguna internet lain fokus terhadap seseorang di belakang pria pengguna gawai itu yang tangannya diikat di belakang tubuh. Pembuat lukisan ini juga diketahui pernah melukis gambar seorang wanita yang sedang memegang iPad, terlepas dari fakta lukisan tersebut sudah ada lama sebelum iPad diproduksi.

Penjelasan paling rasional dari lukisan ini adalah pria tersebut sedang memegang cermin, barang yang pada saat itu populer untuk diperjualbelikan, bukan sedang memegang sebuah gawai. Dugaan lain, pria tersebut sedang memeriksa kepala kapak.

Kedua penjelasan ini dianggap yang paling masuk akal dibandingkan dengan dugaan pria penduduk asli Amerika ini melakukan perjalanan waktu untuk mengambil gawai dan menggunakannya pada waktu jauh sebelum gawai diproduksi massal.(ilj/bbs)




Studi Genetika Terbaru Ungkap Beberapa Nenek Moyang Orang Amerika Berasal dari Tiongkok

Kabar6-Sebuah studi genetika baru yang diterbitkan di Cell Reports, menemukan bahwa beberapa nenek moyang di benua Amerika adalah bangsa Tiongkok.

Sebagai benua terakhir yang didiami manusia, pertanyaan tentang bagaimana dan kapan manusia pertama kali datang ke Amerika telah lama membuat ilmuwan penasaran. Melansir Wionews bangsa Tiongkok melakukan migrasi dalam dua periode yang berbeda, yaitu selama Zaman Es terakhir dan yang kedua tidak lama setelah itu. Menurut penulis studi, Yu-Chun Li, garis keturunan yang sama menetap di Jepang. Inilah yang menjelaskan adanya kesamaan mata panah dan tombak prasejarah di Amerika, Tiongkok, dan Jepang.

Dahulu, orang Siberia kuno, yang dianggap sebagai satu-satunya nenek moyang asli Amerika, diyakini menyeberangi jembatan darat yang ada di Selat Bering yang menghubungkan Rusia modern dan Alaska. Namun, penelitian pada akhir 2000-an mengisyaratkan orang Asia punya kaitan dengan nenek moyang di Amerika, Bolivia, Brasil, Chile, Ekuador, Meksiko, dan California.

Dikenal sebagai D4h, garis keturunan ini ditemukan dalam DNA mitokondria yang hanya bisa diwariskan hanya dari ibu. D4h digunakan untuk melacak nenek moyang ibu. Tim dari Kunming Institute of Zoology memulai perburuan D4h selama 10 tahun dengan meneliti 100 ribu sampel DNA modern dan 15 ribu sampel DNA kuno di Eurasia.

Dari ribuan DNA itu, akhirnya ditemukan 216 individu kontemporer dan 39 individu kuno yang berasal dari garis keturunan terdahulu. Ahli kemudian menganalisis mutasi dengan melihat geografis sampel dan penanggalan karbon untuk merekonstruksi asal usul dan sejarah perluasan garis keturunan D4h.

Hasilnya mengungkap dua peristiwa migrasi. Pertama terjadi sekira 19.500-26 ribu tahun lalu selama periode Maksimum Glasial Terakhir. Kedua terjadi selama periode pencairan sekira 19 ribu-11.500 tahun lalu. ** Baca juga: Palmyra di Hawaii Disebut Sebagai Pulau Termahal di Dunia

Li juga mengatakan jika kekuatan dari penelitian ini adalah jumlah sampel yang ditemukan. Ada bukti pelengkap dari DNA kromosom Y yang menunjukkan nenek moyang laki-laki penduduk asli Amerika tinggal di Tiongkok utara pada waktu yang sama dengan nenek moyang perempuan.(ilj/bbs)




Kadin Fasilitasi UMKM Pasarkan Produk ke Amerika

Kabar6.com

Kabar6-Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Banten Muhammad Azhari Jayabaya, mengatakan, usaha mikro kecil menengah (UMKM) memiliki kontribusi dan peran penting dalam penggerak sektor ekonomi di Indonesia.

Pria yang akrab disapa Amal Jayabaya ini menyebut, Kadin Indonesia berkomitmen memberikan perhatian terhadap peningkatan dan pemberdayaan para pelaku UMKM.

“Kadin memang memberikan perhatian kepada UMKM yang bukan cuma mengangkat kearifan lokal melainkan dalam menunjang perekonomian,” kata Amal kepada Kabar6.com, di Rangkasbitung, Jumat (22/10/2022).

Salah satunya dengan memfasilitasi para pelaku UMKM dalam memasarkan produknya. Kadin membantu memperluas pangsa pasar bagi produk-produk UMKM bahkan hingga ke luar negeri.

“Bagaimana agar produk UMKM bisa dipasarkan. Ada sekitar 6.000 UMKM di Banten yang terdaftar, Kadin menginisiasi karena produk kita banyak nih tapi enggak ada wadah. Iya termasuk (fasilitasi) ke luar negeri, di Amerika ada Rumah UMKM yang isinya berbagai produk lokal Indonesia,” papar Amal.

**Baca juga:Kasus Suap Pengurusan Tanah, Kejati Banten Geledah 2 Tempat di Lebak

Lebih lanjut Amal melihat, sejauh ini dukungan pemerintah pusat maupun daerah dalam memajukan UMKM sudah cukup baik.

“Sudah sangat support, terutama bagaimana program bagi UMKM agar pulih di masa pandemi,” katanya.(Nda)




Unik, Cara Jemur Bayi pada 1937 di Inggris dan Amerika

Kabar6-Banyak kaum ibu yang menjemur bayi mereka di bawah sinar matahari di waktu pagi. Kebiasaan ini sudah dilakukan oleh orang-orang di masa lalu. Hal yang berbeda adalah cara mereka menjemur bayi.

Kebiasaan menjemur bayi dilakukan pada 1930-an, terutama di Inggris dan Amerika. Namun saat itu, menjemur bayi untuk mendapatkan sinar matahari dan udara pagi sedikit sulit bagi mereka yang tinggal di apartemen di perkotaan.

Bagaimana solusinya? Melansir goodhousekeeping, cara unik yang dilakukan kaum ibu saat itu adalah dengan menaruh bayi mereka dalam kandang yang ada di luar jendela. Kemudian, Dewan Distrik Poplar Borough Timur di London mengusulkan untuk memperkokoh kandang agar dapat ditempatkan di luar jendela bangunan, sehingga bayi bisa mendapatkan udara segar dan sinar matahari.

Kandang juga didistribusikan ke anggota Klub Bayi Chelsea yang tinggal di gedung-gedung tinggi dan tidak memiliki kebun. Maksud dan tujuannya sebagai sarana untuk membantu para orangtua yang tinggal di kota dan apartemen yang tidak memiliki banyak ruang.

Kandang ini juga telah dipatenkan di Amerika pada 1922, didaftarkan oleh Emma Read dari Washington. Kandang dalam paten juga dirancang dengan atap miring yang dikatakan untuk melindungi bayi dari salju atau hujan.(ilj/bbs)




Amerika Sebut Indonesia Berisiko Rendah Penularan COVID-19

Kabar6-Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengungkapkan Indonesia termasuk negara dengan risiko penularan COVID-19 yang rendah, yakni negara dengan risiko penularan Level 1.

Hal tersebut diketahui setelah CDC merilis rekomendasi tujuan perjalanan berdasarkan tingkat risiko COVID-19. Dalam rekomendasi tersebut, CDC membagi lima level risiko, yakni Level 4 hingga Level 1, dan Level Tidak Diketahui.

Indonesia masuk kategori Level 1 yang merupakan kategori rendah. Pelaku perjalalanan yang ingin berkunjung ke negara-negara yang masuk kategori risiko rendah direkomendasikan tetap harus sudah vaksinasi lengkap sebelum bepergian.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi mengatakan rekomendasi CDC merupakan kabar baik bagi pemerintah maupun masyarakat Indonesia. Hal ini menandakan penanganan pandemi COVID-19 di Indoneisa telah berada pada jalur yang tepat.

**Baca Juga: Urus Jenasah Tanpa Biaya, AMBI Apresiasi Kebijakan RSU Tangerang

“Rekomendasi CDC merupakan kabar baik bagi kita semua. Penanganan pandemi COVID-19 terus menunjukkan progress yang semakin membaik, “ kata dr. Nadia dalam rilis yang diterima, Sabtu (11/12/2021).

Meski berada pada kategori risiko rendah, ia berharap masyarakat tetap disipilin dalam menerapkan protokol kesehatan.

Selain Indonesia, ada 42 negara lainnya yang masuk kategori Level 1, antara lain ; Bangladesh, Benin, Bhutan, Kepulauan Virgin Inggris, Chad, Cina, Komoro, Pantai Gading, Republik Demokrasi Kongo, Djibouti, Kepulauan Falkland, Gambia, Ghana, Guinea, SAR Hongkong, India, Jepang, Kenya, Kosovo, Kuwait, Kirgistan, Liberia, Montserrat, Maroko, Nigeria, Oman, Pakistan, Paraguay, Rwanda, Saba, Saint Barthelemy, Saint Pierre dan Miquelon, Senegal, Sierra Leone, Sint Eustatius, Sudan, Taiwan, Timor-Leste (Timor Timur), Togo, Uganda, Uni Emirat Arab, dan Zambia.(TimK6)

 




Laurello, Pria Asal Jerman yang Dijuluki ‘Manusia Burung Hantu’ Kepala Bisa Berputar 180 Derajat

Kabar6-Pria bernama Martin Joe Laurello, mendapat julukan sebagai ‘Manusia Burung Hantu’. Bukan tanpa sebab, julukan itu diberikan karena kondisi kepala milik Laurello berputar 180 derajat, berbeda dari kepala manusia pada umumnya.

Dengan kondisi tadi, melansir ststworld, wajah pria asal Jerman itu tampak di belakang seperti burung hantu yang bisa memutar kepalanya ke belakang hingga 180 derajat. Keanehan kondisi tubuh Laurello ini tercatat dalam dokumentasi Guinness World Records. Dia juga pernah tampil dalam film dokumenter untuk pertunjukkan akrobatik Ripley’s Believe it or Not.

Laurello lahir pada 1885 di Nuremburg, Jerman, dengan nama Martin Emmerling. Dia tumbuh dan besar di sana hingg menjadi terkenal karena kepalanya menghadap belakang.

Kondisi itu dialami sejak lahir, karena Laurello mengalami kelainan tulang punggung yang bengkok, menyebabkan kepalanya selalu menghadap ke arah belakang dan permanen, sehingga tak bisa diputar ke depan kembali. ** Baca juga: Di India, Polisi yang Pelihara Kumis Dapat Tunjangan Khusus

Meski kepalanya selalu menghadap ke belakang, Laurello tidak pernah mengalami gangguan kesehatan. Bahkan ia bisa makan, minum, dan merokok secara normal. Laurello sendiri mulai bekerja di industri film, dan mulai berakting di Eropa saat berumur 20-an. Karier aktingnya berlanjut ke Amerika pada 1921.

Di Amerika, Laurello beberapa kali tampil di Coney Island dan juga bekerja untuk Ringling Bros untuk pertunjukan Barnum & Baileys. Ia juga bekerja untuk Royal American Shows milik Dick Best.

Pada akhir 1945 Laurello tampil dengan Ripley bersama Popeye Perry dan Junior Stiles si bocah lobster berumur tujuh tahun. Ia pun mendapat julukan ‘The Human Owl’ atau ‘manusia burung hantu’.

Laurello sempat tampil di beberapa pertunjukkan sirkus di semasa hidupnya sebelum meninggal dunia pada 1955.(ilj/bbs)