oleh

Sering Diejek Suami ‘Berkulit Gelap’, Seorang Wanita Bunuh Diri

Kabar6-Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik.

Tindakan bullying ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan.

Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antarmanusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

Hal itu juga yang dialami oleh seorang wanita berusia 21 tahun di India. Menurut kepolisian di Negara Bagian Rajasthan, melansir BBC Indonesia, wanita yang tidak disebutkan namanya ini diduga bunuh diri karena sang suami sering mengejeknya ‘berkulit gelap’. Sang ayah memasukkan laporan tersebut, dan meminta pria yang berstatus menantu itu bertanggung jawab atas kematian putrinya.

Menurut sang ayah, menantunya ‘berulang kali mempermalukannya karena kulitnya yang gelap’, sehingga berujung pada bunuh diri. Namun polisi menegaskan belum melakukan penangkapan. Menantu tadi juga belum memberi pernyataan atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Diketahui, ini bukan kasus ‘kulit gelap'” pertama yang diduga menyebabkan wanita India bunuh diri, mengingat banyak orang India menganggap kulit yang putih dan cerah lebih superior ketimbang kulit gelap.

Pada 2014, seorang wanita berusia 29 tahun bunuh diri setelah sang suami mengejek kulitnya yang gelap. Lantas pada 2018, seorang remaja putri berusia 14 tahun bunuh diri setelah teman-teman sekelasnya menyebutnya jelek karena dia berkulit gelap.

Insiden tragis ini kembali menunjukkan betapa berbahayanya obsesi rakyat India terkait warna kulit. Sejak usia dini, para wanita berkulit gelap diejek dengan sebutan yang menghina. Mereka dirundung di sekolah, di tempat bermain, hingga di dalam rumah.

Orangtua kerap membanding-bandingkan anaknya yang berkulit gelap dengan saudara kandungnya yang berkulit terang. Di ranah pernikahan, warna kulit hampir selalu menjadi fokus. Calon pengantin idaman disebut berkulit terang, sawo matang, dan cokelat terang. Kulit gelap tidak pernah masuk perhitungan.

Media arus utama secara konstan menguatkan pandangan tersebut dengan menampilkan foto aktor dan model yang telah diedit. Ini membuat para wanita berkulit gelap tumbuh merasa tidak utuh, bahkan buruk rupa. ** Baca juga: Seorang Politikus di Taipei Terpaksa Patahkan 53 Sumpit Pakai Bokong Setelah Kalah Taruhan

Aturan di India melarang iklan menampilkan orang-orang berkulit gelap tampil tidak semarak atau sedih. Beberapa tahun terakhir, iklan-iklan menjadi lebih subtil, namun ujung-ujungnya pesan yang disampaikan masih saja berkulit terang lebih baik.

Akhir-akhir ini, ada perlawanan dari berbagai kalangan agar orang berkulit gelap tidak perlu merasa minder. Bagaimanapun, banyak yang harus dilakukan agar pesan ini sampai kepada khalayak luas. Sampai masyarakat umum paham, tindakan diskriminasi akan terus menghancurkan hidup orang.(ilj/bbs)

Berita Terbaru