oleh

Seorang Korban Pelecehan Seksual Ciptakan 2.500 Kepribadian Ganda Agar Bisa Bertahan Hidup

Kabar6-Seorang wanita bernama Jeni menuntut sang ayah, Richard Haynes (74), di pengadilan Australia pada sebuah kasus yang dikatakan polisi sebagai peristiwa ‘pelecehan anak yang terburuk’ dalam sejarah negara itu.

Pada sidang yang dilakukan Maret lalu, melansir BBC Indonesia, Jeni menghadapi ayahnya dengan memberikan bukti lewat berbagai kepribadian yang dimilikinya. Ini diperkirakan sebagai kasus pertama di Australia, dan kemungkinan juga di dunia, di mana korban dengan kelainan kepribadian memberikan kesaksian dan berhasil menghukum pelakunya.

Pada 6 September, Richard Haynes, 74 tahun dihukum penjara 45 tahun oleh pengadilan Sydney. Richard juga mencuci otak Jeni dengan mengatakan dia dapat membaca pikirannya. Dia juga mengancam akan membunuh ibu, saudara laki-laki dan perempuannya.

Sang ayah pun membatasi pergaulan Jeni di sekolah, sehingga wanita itu menjadi pendiam dan mulai berpikir lewat syair lagu untuk bersembunyi.

Jeni tidak mendapatkan perawatan atas cedera karena pemukulan dan pelecehan seksual. Pelecehan terus berlanjut sampai Jeni berumur 11 tahun, ketika keluarganya kembali ke Inggris. Orangtuanya kemudian bercerai pada 1984. Dia meyakini tidak seorang pun, termasuk ibunya, tidak mengetahui apa yang dialaminya.

Kini saat berumur 49 tahun, Jeni mengalami cedera permanen pada mata, dagu, perut, anus dan tulang tungging. Dia telah menjalani berbagai pembedahan untuk mengatasinya.

Jeni menderita Gangguan Kepribadian Majemuk/Multiple Personality Disorder (MPD) atau disebut juga Gangguan Identitas Disosiatif/Dissociative Identity Disorder (DID). Untuk mengatasi perkosaan dan penyiksaan, otaknya menggunakan taktik yang luar biasa, dengan menciptakan jati diri baru agar tidak merasakan rasa sakit.

Pelecehan yang dialaminya begitu ekstrem dan berulang-ulang sehingga pada akhirnya Jeni harus menciptakan 2.500 kepribadian yang berbeda-beda agar dapat bertahan hidup.

Para ahli mengatakan apa yang dialami adalah DID. Kelainan ini sangat terkait dengan pengalaman pelecehan ekstrem terhadap anak-anak pada situasi yang seharusnya memberikan perasaan aman.

“DID sebenarnya adalah strategi agar dapat bertahan,” kata Dr Pam Stavropoulos ahli trauma yang dialami saat anak-anak. “Ini adalah strategi yang sangat canggih dalam mengatasi masalah, yang sering kali dipandang sebagai cara yang ekstrem. Tetapi ini adalah reaksi terhadap pelecehan dan trauma ekstrem yang dialami anak.”

Jeni mengatakan kepribadian yang pertama kali dirinya ciptakan adalah Symphony, anak perempuan berumur empat tahun, yang dia katakan, hidup dalam realitas waktu miliknya sendiri.

Dengan berjalannya waktu, Symphony menciptakan berbagai kepribadian lain agar dapat bertahan. Setiap kepribadian tersebut memiliki peran tertentu dalam mengatasi pelecehan, apakah itu serangan tertentu yang menakutkan atau untuk memicu penglihatan dan bau tertentu.

Pada Maret lalu, Jeni diizinkan untuk memberikan kesaksian sebagai Symphony dan lima kepribadian lainnya yang dimiliki. Masing-masing ini mengalami bagian yang berbeda-beda dari pelecehan yang dilakukan Richard Haynes. Pengadilan hanya didengar seorang hakim karena para pengacara memandang kasus ini akan membuat juri terlalu trauma.

Pada mulanya Haynes menghadapi 367 dakwaan, di antaranya sejumlah tindak perkosaan, seks anal dan serangan fisik. Jeni, lewat berbagai kepribadiannya, dapat memberikan bukti rinci dari setiap pelanggaran. Jati diri yang berbeda memungkinkannya menyimpan ingatan yang dapat saja terlupakan karena trauma yang dialami.

Jeni sendiri mengatakan MPD telah menyelamatkan kehidupan dan jiwanya. Dia belajar dan mendapatkan gelar S2 dan S3 dalam kajian hukum dan filsafat, tetapi dia kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap. Dia hidup bersama ibunya, keduanya bergantung pada uang pensiun.

“Saya sangat bertekad agar cerita saya diketahui orang,” kata Jeni. “Saya ingin agar perjuangan saya selama 10 tahun untuk mendapatkan keadilan benar-benar membawa perubahan sehingga orang-orang lain dapat lebih mendapatkan kemudahan.”

Ditambahkan, “Jika Anda menderita MPD karena pelecehan, sekarang mungkin mengambil jalur hukum. Anda dapat melapor ke polisi, memberitahu mereka dan dipercaya. Diagnosa Anda sudah tidak lagi menjadi hambatan untuk mendapatkan keadilan.” ** Baca juga: Pria yang Baru Dipecat dari Pekerjaannya Sewa Badut Demi Beri Dukungan Emosional

Wanita yang kuat.(ilj/bbs)

Berita Terbaru