oleh

Sengketa Kepemilikan Lahan di Hutan Banten

Ellan Barlian, Kepala Perhutani Divisi Regional Jabar dan Banten.(bbs)Kabar6-Dari puluhan ribu hektar luas hutan di Provinsi Banten yang diantaranya merupakan hutan lindung dan hutan adat.

Tak membuat pembagian ‘tanah’ selesai begitu saja. Bahkan bisa memicu konflik agraria ditengah masyarakat.

Hal itu diungkapkan Ellan Barlian, Kepala Perhutani Divisi Regional Jabar dan Banten. menurutnya, yang menjadi perhatian adalah tentang kepemilikan tanah (tenorial).

“Bisa jadi pada akhirnya menjadi sengketa.Tapi kita juga lakukan pendekatan-pendekatan.  Karena nanti kalau sudah menjadi sengketa kan bagian hukum ranahnya,” katanya kepada kabar6.com saat ditemui di Pendopo Gubernur Banten di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Serang, Banten, Selasa (28/10/2014).

Selain persoalan sengketa kepemilikan lahan, Banten pun memiliki masalah lain terkait kehutanan. Dimana, ribuan hektar hutan di Provinsi Banten mengalami kerusakan.

“Dari luas 78.500 hektar, kerusakan sekitar 1000 hektar lebih dan itu tersebar di seluruh wilayah Banten. Lebih banyak di hutan lindung di Pandeglang. Kerusakan lebih banyak karena pencurian,” terangnya.

Walau begitu, dirinya mengatakan bahwa kerusakan hutan di Provinsi Banten masih lebih baik dari pada wilayah lainnya di Pulau Jawa.

Meski alih fungsi hutan dari hutan lindung menjadi lahan pertanian, Ellan mengaku sedang dalam proses.

Sebab, alih fungsi hutan memerlukan penanganan terintegrasi dari berbagai macam dinas terkait, karena masyarakat yang melakukan alih fungsi hutan dan melakukan perambahan hutan, sangat menggantungkan ekonominya terhadap hutan tersebut.

Ellan mengklaim bahwa recovery hutan di Banten lebih baik dibandingkan recovery hutan diwilayah lainnya. Bahkan pencurian kayu dan kebakaran hutan relatif lebih mudah dikendalikan. **Baca juga:Jual Harimau Sumatera, Warga Bekasi Ditangkap BKSDA Banten.

“Di Banten lebih terkendali (kerusakan hutannya), karena saya melihat untuk tekanan sosial dan lain sebagainya relatif masih terkendali. Jadi relatif bagus dan produksi di Banten ini yang terbesar di antara kesatuan pemangku hutan yang lain,” tegasnya.(tmn/din)

 

Berita Terbaru