oleh

Protes Angkot Bodong, Ratusan Supir Tigaraksa-Cimone Mogok

Kabar6-Maraknya Angkutan Kota (Angkot) bodong dan omprengan yang beroperasi secara liar di wilayah Kabupaten Tangerang, membuat ratusan sopir jurusan Tigaraksa-Cimone gerah.

Ratusan supir angkot tersebut melakukan aksi mogok operasi dan melakukan sweeping terhadap bus karyawan dan angkot bodong, pada Rabu (5/9/2012).

Ratusan supir batangan dan supir serep ini memadati jalan di bundaran Jalan Raya Bojong-Pemda, Desa Bugel Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Mereka, menolak Jalan itu dilalui bus jemputan karyawan dan angkot omprengan atau bodong.

Pantauan wartawan, sejak pukul 05.00 Wib. secara serentak ratusan supir ini menggelar aksi unjuk rasa menutup dua lajur di Jalan Raya Pemda ini.

Aksi sweeping bus jemputan karyawan pabrik dan angkot omprengan teersebut, mengakibatkan ratusan buruh dan pengguna jasa angkot jurusan Tigaraksa-Cimone terlantar.

Asep, supir angkot jurusan Tigaraksa-Cimone mengatakan, pihaknya mengaku aksi tersebut, dilakukan secara spontan dan serentak. Sekitar 120 angkot jurusan Tigaraksa-Cimone hari ini praktis tidak beroperasi dan memarkir armadanya di sepanjang Jalan Raya Pemda.

“Aksi ini berkaitan dengan larangan dan penolakan terhadap mobil omprengan plat hitam dan bus jemputan karyawan. Untuk melintas di Jalan Raya Pemda,” ungkapnya.

Tak hanya itu, ratusan sopir ini juga mengaku kecewa dengan kinerja Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kabupaten Tangerang dinilai tidak tegas dalam menyelesaikan persoalan penolakan bus jemputan karyawan dan omprengan.

“Makanya kami juga tidak langsung menyampaikan ke Dishub, jadi kami langsung tertibkan sendiri saja,” jelasnya.

Setidaknya ada sekitar lima bus karyawan yang berhasil di sweeping para sopir dan diminta untuk berhenti. Aksi ini dilakukan karena mereka sudah kesal dengan keberadaan bus jemputan karyawan dan mobil omprengan yang terus beroperasi.

Akibat maraknya angkot bodong dan bus karyawan yang beroperasi itu, pendapatan para sopir terus mengalami penurunan drastis. “Ini sudah puncak kekesalan kami, mereka sudah membuat kami susah.
Pemasukan kami menjadi berkurang akibat adanya bus jemputan karyawan dan omprengan yang beroperasi di Jalan Raya Pemda,”ketusnya.

Bahkan, para sopir harus rela merogoh koceknya sendiri, demi menutup kekurangan setoran kepada pemilik angkot, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu. Padahal, sebelum ada bus jemputan dan mobil omprengan para sopir bisa untuk maksimal Rp100 ribu/hari.

“Sekang cari penumpang di pinggir jalan Pemda saja sudah, padahal banyak pabrik. Bahkan beberapa bulan ini ada bermunculan pabrik baru. Tapi kami masih sulit dapat penumpang,” ucapya.

Senada dikatakan, Sopiyan, dirinya mengaku heran dengan pengawasan Pemda setempat. Karena masih membiarkan mobil plat hitam yang digunakan menjadi angkutan, tanpa izin yang jelas.

“Dia kan tidak memiliki izin trayek jadi sebaiknya diberhentikan,” imbuhnya seraya menjelaskan, aksi mogok dan sweeping ini, akan dilakukan hingga besok.

Sementara itu, Cristin, Siti dan Yanti, karyawan swasta yang pengguna jasa angkot dan bus jemputan mengaku, aksi ini jelas merugikan mereka. Sebab, aktivitas mereka jadi terhambat dan hal ini semestinya tak perlu terjadi jika ada ketegasan dari pemerintah.

“Pemerintah harus bisa menyelesaikan masalah ini, jangan buat kami terlantar,” tandasnya.(din)

Berita Terbaru